Recreation, Rise, and Change!, Semangat Baru Layar Kofie 2025
ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA—Gelaran Layar Kofie 2025 kembali hadir pada Sabtu, 15 November 2025, di Gedung Gema UNESA Ketintang. Mengusung semangat “Recreation, Rise, and Change!”, acara tahunan Kofiekom ini menjadi ruang pertemuan penikmat film, mahasiswa, dan komunitas kreatif untuk menonton, berdiskusi, serta merayakan karya sinema dalam satu hari penuh.
Acara dibuka oleh Aditya Fahmi Nurwahid, S.I.Kom., M.A., dosen filmologi Ilmu Komunikasi UNESA sekaligus perwakilan Program Studi S1 Ilmu Komunikasi. Dalam sambutannya, ia menegaskan pentingnya keberlanjutan acara ini sebagai tradisi kreatif mahasiswa.
“Layar Kofie sudah dua kali terselenggara secara rutin. Saya berharap acara ini tidak berhenti di sini, bahkan bisa berlangsung hingga dua puluh kali ke depan. Ini adalah batu loncatan menuju ekosistem layar yang lebih besar dan berkelanjutan,” ungkap Aditya.
Ketua Kofiekom 2025/2026, Shabrifa Isti Akmaliya, menyampaikan bahwa perkembangan perfilman Indonesia menjadi penopang motivasi terselenggaranya acara ini. Menurutnya, karya-karya sineas muda yang semakin beragam perlu mendapatkan ruang apresiasi yang terbuka.
“Kita melihat banyak karya bermutu dari sineas muda Indonesia. Melalui Layar Kofie, kami ingin menyediakan medium agar kreativitas itu dapat tampil, diapresiasi, dan tumbuh,” ujarnya.
Senada dengan itu, Ketua Pelaksana Layar Kofie 2025/2026, Mochammad Steve Fossett Millian Jonathan, menekankan bahwa acara ini dapat berjalan karena dukungan berbagai pihak, mulai dari tim, volunteer, hingga komunitas film.
“Acara ini tidak mungkin berjalan tanpa dukungan yang luas. Harapannya, Layar Kofie dapat terus menjadi wadah eksplorasi ide, pengembangan karya, dan perayaan kreativitas mahasiswa,” jelas Steve.

Salah satu segmen yang paling menarik perhatian tahun ini adalah talkshow bersama Dhamar Gautama, penulis dan sutradara Hitler Mati di Surabaya (2023), film yang masuk nominasi Piala Citra 2023. Dalam sesi yang berlangsung hangat, Dhamar mengajak para peserta memahami film dari sisi yang sering luput dari perhatian: hal-hal kecil yang tersembunyi di balik narasi besar.
“Saya selalu tertarik pada detail yang tidak terlihat. Film sering bicara soal tokoh besar atau konflik besar, tapi justru hal-hal kecil itulah yang membuat cerita terasa manusiawi,” tuturnya.
Ia juga berpesan agar para pembuat film muda tidak takut berkarya dari hal yang sederhana. “Mulailah dari apa yang dekat dengan diri kalian. Yang penting adalah kejujuran bertutur dan keberanian menyampaikan sudut pandang baru.”
Tahun ini, Layar Kofie menayangkan lima film terkurasi dari berbagai komunitas dan rumah produksi independen. Ragam tema dan pendekatan visual yang dihadirkan membuat proses penilaian berlangsung cukup kompetitif.
Dari hasil penayangan tersebut, tiga karya berhasil meraih penghargaan utama: A Pain Thing: Gemurat Dalam Senyap (2025) produksi Javania Films Indonesia besutan Shaggil Mahara meraih Cinematography Terbaik; Dosis Terakhir (2025) karya Media Community Visualization arahan Yan Syahrial Tyas Ekarosa terpilih sebagai Pilihan Penonton; serta Pencarian Warna Ketiga (2024) produksi Chapter 1 Pictures garapan Muhammad Faishal Rijal dinobatkan sebagai Script Terbaik.
Dengan antusiasme peserta dan penonton yang terus meningkat, Layar Kofie 2025 diharapkan menjadi pondasi penting bagi ekosistem film mahasiswa UNESA, serta memperkuat kontribusi Ilmu Komunikasi dalam perkembangan perfilman Indonesia.
Reporter: Zakariya Putra Soekarno, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA