Perkuat Literasi Media, Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA Dukung Strategi Komunikasi Lembaga Sensor Film Republik Indonesia
ikom.fisipol.unesa.ac.id., Jakarta - Zakariya Putra Soekarno, mahasiswa Program Studi S1 Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya dengan peminatan Manajemen Media, menjalani program magang di Lembaga Sensor Film Republik Indonesia selama periode Januari–April 2026.
Selama empat bulan, ia terlibat dalam implementasi strategi komunikasi publik melalui produksi konten digital, publikasi kelembagaan, peliputan kegiatan, hingga penyusunan materi komunikasi sebagai bagian dari upaya mendukung Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM).
Pengalaman tersebut menjadi ruang bagi Zakariya untuk mengimplementasikan berbagai kompetensi yang diperoleh selama perkuliahan. Berbekal pembelajaran dari mata kuliah seperti Strategi Komunikasi, Komunikasi Digital, Manajemen Industri Media, Manajemen Produksi Media Massa, Produksi Media Massa, Komunikasi Organisasi, Jurnalistik, serta Visual Digital dan Multimedia, ia menerapkan pengetahuan akademiknya dalam praktik profesional, mulai dari menyusun strategi komunikasi, mengembangkan konten digital, hingga mendukung publikasi kelembagaan.
Menguatkan Literasi Media melalui Komunikasi Publik
Kontribusi tersebut menjadi semakin relevan di tengah perubahan pola konsumsi media masyarakat Indonesia. Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet Indonesia pada 2025 mencapai 229,4 juta jiwa atau sekitar 80,66 persen dari total populasi.
Pada tahun yang sama, film Indonesia juga mencatat sekitar 80,27 juta penonton di bioskop. Tingginya angka tersebut menunjukkan bahwa konten audiovisual telah menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari kehidupan masyarakat dan dapat diakses dengan semakin mudah oleh berbagai kelompok usia.
Perubahan tersebut turut mengubah tantangan yang dihadapi Lembaga Sensor Film Republik Indonesia. Jika sebelumnya perlindungan masyarakat lebih banyak dilakukan melalui mekanisme penyensoran sebelum film dipublikasikan, kini masyarakat dapat mengakses berbagai jenis konten dari beragam platform digital yang berada di luar pola distribusi film konvensional.
Kondisi tersebut mendorong perlunya pendekatan yang tidak hanya mengedepankan regulasi, tetapi juga memperkuat literasi media agar masyarakat mampu memahami klasifikasi usia dan lebih bijak dalam mengonsumsi konten audiovisual.
Menjawab tantangan tersebut, Lembaga Sensor Film Republik Indonesia mencanangkan Gerakan Nasional Budaya Sensor Mandiri (GNBSM) sejak 2021 sebagai gerakan edukasi nasional yang bertujuan meningkatkan literasi media masyarakat. Melalui GNBSM, lembaga mengajak masyarakat, khususnya keluarga, pendidik, komunitas, dan generasi muda, untuk memahami klasifikasi usia serta membangun budaya memilih dan memilah tontonan sesuai usia, nilai, dan konteks pendampingannya sehingga masyarakat mampu menjadi "sensor pertama" bagi dirinya sendiri maupun keluarganya.
Program tersebut menandai transformasi peran Lembaga Sensor Film Republik Indonesia yang tidak lagi hanya menjalankan fungsi penyensoran film, tetapi juga memperkuat perannya sebagai lembaga edukasi dan komunikasi publik di tengah pesatnya perkembangan media digital.

Perkembangan GNBSM juga menunjukkan dampak yang semakin luas. Berdasarkan Laporan Kinerja Lembaga Sensor Film Republik Indonesia, jumlah peserta kegiatan GNBSM meningkat dari 3.080 peserta pada 2022 menjadi 4.792 peserta pada 2023, kemudian 10.201 peserta pada 2024, dan mencapai 12.949 peserta pada 2025. Peningkatan tersebut mencerminkan semakin luasnya jangkauan edukasi GNBSM sekaligus tingginya kebutuhan masyarakat terhadap penguatan literasi media di era digital.
Belajar dan Berkontribusi di LSF RI
Dalam mendukung implementasi program tersebut, Zakariya ditempatkan pada Subkomisi Apresiasi dan Promosi. Selama menjalani magang, ia berkontribusi memproduksi lebih dari 10 konten Panduan Film yang memuat 58 judul film nasional maupun internasional sebagai materi edukasi publik.
Selain itu, ia juga mengembangkan konten video untuk media sosial, menyusun materi presentasi kelembagaan, melakukan peliputan dan penulisan berita kegiatan, serta mendukung publikasi berbagai program Lembaga Sensor Film Republik Indonesia.
Seluruh proses tersebut tidak berhenti pada tahap produksi konten. Setiap materi komunikasi dikembangkan melalui proses identifikasi isu, penyusunan pesan, diskusi bersama tim, hingga evaluasi agar informasi yang disampaikan tetap akurat, mudah dipahami, dan mampu menjangkau sasaran audiens. Pengalaman ini memberikan pemahaman bahwa komunikasi publik di lembaga negara merupakan proses yang strategis dan berbasis kolaborasi.
Selain menjalankan berbagai tugas komunikasi publik, Zakariya juga berkesempatan mengikuti sejumlah agenda strategis yang memperluas pemahamannya mengenai komunikasi publik di bidang perfilman.
Ia mengikuti peringatan Hari Film Nasional 2026 melalui pemutaran bersama film Darah & Doa (1950) bersama Joko Anwar (Sineas) dan Ferry Hanif (Sinematek Indonesia) sebagai bagian dari literasi budaya sensor mandiri, terlibat dalam proses produksi program MTLB Goo! hasil kolaborasi Lembaga Sensor Film Republik Indonesia, Kementerian Kebudayaan RI, dan RTV yang mengampanyekan budaya sensor mandiri kepada anak dan keluarga, menghadiri Konferensi Pers Laporan Kinerja Lembaga Sensor Film Republik Indonesia Tahun 2025 yang memaparkan capaian dan arah kebijakan lembaga kepada publik, serta mengikuti Diskusi Pakar Ekosistem Perfilman: Tantangan & Harapan bersama Fauzan Zidni (Ketua Umum Badan Perfilman Indonesia) dan Ahmad Mahendra (Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Kementerian Kebudayaan RI).

Rangkaian pengalaman tersebut memberinya kesempatan untuk melihat secara langsung bagaimana strategi komunikasi, hubungan media, edukasi publik, dan kolaborasi lintas pemangku kepentingan dijalankan dalam memperkuat literasi media sekaligus mendukung pengembangan ekosistem perfilman nasional.
Dari Perkuliahan ke Praktik Profesional
Supervisor Magang sekaligus Ketua Subkomisi Penelitian dan Pengembangan Lembaga Sensor Film Republik Indonesia, Dr. Zaqia Ramallah, S.Pd., M.Sn., mengatakan bahwa program magang menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk memahami secara langsung bagaimana komunikasi publik dijalankan dalam mendukung program literasi media.
"Mahasiswa tidak hanya belajar tentang proses kerja di lembaga, tetapi juga melihat bagaimana komunikasi digunakan untuk membangun kesadaran masyarakat. Saya berharap pengalaman ini dapat memperkaya wawasan mereka sekaligus menjadi bekal ketika nantinya terjun ke dunia kerja," ujarnya.
Bagi Zakariya, pengalaman tersebut memberikan pemahaman baru mengenai bagaimana ilmu komunikasi diterapkan dalam menjawab persoalan publik.
"Magang ini membuat saya memahami bahwa strategi komunikasi bukan hanya tentang menghasilkan konten, tetapi juga membangun pemahaman masyarakat melalui pesan yang dirancang secara tepat. Pengalaman ini menjadi ruang bagi saya untuk mengimplementasikan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dalam lingkungan kerja profesional," ungkapnya.
Pengalaman magang di Lembaga Sensor Film Republik Indonesia tidak hanya memperluas wawasan profesional Zakariya, tetapi juga menunjukkan bagaimana kompetensi yang diperoleh di bangku kuliah dapat diimplementasikan untuk mendukung program komunikasi publik yang berdampak bagi masyarakat.
Kolaborasi ini menjadi salah satu bentuk komitmen Program Studi Ilmu Komunikasi UNESA dalam menghadirkan pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja dan tantangan komunikasi di era digital.
Penulis: Zakariya Putra Soekarno (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor: Nur Mazidah Agustin N., 2026
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA