Bawa Isu Pemerataan QRIS UMKM, Tim U-19 Raih Juara 1 News Article Competition dalam Ajang "ACTION" FIA UB

ikom.fish.unesa.ac.id, SURABAYA―Transformasi ekonomi digital saat ini tengah menjadi isu prioritas yang kerap diperbincangkan dalam forum Presidensial G20 Indonesia. Dalam rangka menyuarakan hal tersebut, Zakariya Putra Soekarno, Safira Mushollia dan Muhammad Fikri Haikal, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA angkatan 2023 sebagai delegasi LSO LPM-KTM turut mencetak sejarah kejuaraan dalam ajang kompetisi ACTION 2024 (Administratio Creative Writing Competition) yang diselenggarakan oleh Fakultas Ilmu Administrasi, Universitas Brawijaya (31/05/24).
Mengusung subtema ‘Connectivity and Post-Covid Recovery’, Tim U-19 ini berhasil meraih juara 1 News Article Competition karena mereka telah melihat adanya urgenitas pemerataan QRIS bersifat mikro yang penting untuk disoroti setelah mengulik data dan fakta di lapangan.

“Kami
telah menemukan set yang unik bahwa
pemerataan QRIS menurut kami sangatlah mikro dalam masyarakat. Tetapi (isu) ini
sangat urgensi untuk dibahas, apalagi ketika kami menemukan data dan fakta di
lapangan bahwa pemerataan QRIS itu belum sesuai target sepenuhnya yang diharapkan
oleh pemerintah. Kami rasa hal ini unik dan bisa menjadi nilai berita,” ungkap
Jaka (01/06/24).
Tiga
mahasiswa tersebut mengaku bahwa mereka telah belajar dari kegagalan di masa
lalu, di mana hal ini mendorong adanya variasi materi dan narasumber yang tidak
berpusat pada suatu kalangan tertentu.
“Akhirnya
dalam proses pengelompokkan narasumber, kami menemukan bahwa harus ada (peran) pemangku
kepentingan di sini. Jadi, kami kemarin sempat membuat list siapa saja narasumbernya. Pertama, BI sebagai pemangku kepentingan
dalam pemerataan QRIS. Kedua, OJK sebagai regulator pengawas keuangan. Ketiga,
bank swasta. Selanjutnya yaitu penyedia jasa keuangan yang mewadahi para UMKM
secara khusus,” ucap Jaka.
Dengan menyasar UMKM sebagai acuan nilai berita, mereka berhasil merumuskan struktur berita yang berfokus pada pembahasan strategi pemerintah dalam pemulihan pasca Covid-19 melalui pemerataan QRIS pada UMKM. Namun, dalam prosesnya pun tidak berjalan mulus, terdapat beberapa tantangan yang berkenaan dengan birokrasi Indonesia.

“UMKM
menjadi garda terdepan dalam pemulihan pasca Covid. Namun, kami merasakan
kesulitan dalam birokrasi Indonesia. Kami sempat mengajukan beberapa surat ke beberapa
birokrasi terkait (pengajuan) wawancara ini. Tetapi ketika kami sudah
mengajukan surat dan proposal kepada BI, OJK, BPKAD dan Dinas Koperasi ternyata
tidak ada balasan, padahal kami telah mengikuti protokol yang diinginkan. Hanya
OJK saja yang memberikan tanggapan, itu pun dilakukan via chat,” lanjutnya.
Tim
U-19 juga mengamati penggunaan QRIS sebagai media pembayaran yang bersifat
praktis dan cashless di kalangan
mahasiswa, “Sebagai kebutuhan di era global sekarang, para mahasiswa rata-rata
jarang melakukan pembayaran cash,
sehingga mau nggak mau para pedagang
UMKM harus mengaplikasikan QRIS di gerobak dagangannya.”
Selanjutnya,
Tim U-19 juga telah mewawancarai para pedagang UMKM terkait pemerataan QRIS, serta
kesan dan harapan mereka ke depannya, “Mereka puas dengan rancangan pemerintah
terkait (penggunaan) QRIS ini, karena membuat dagangannya laris manis. Kami
juga nggak sengaja bertemu dengan salah
satu sales aplikasi penyedia jasa
keuangan, di sini kami dijelaskan tentang cara kerja aplikasi cashless untuk mewadahi para UMKM.”
Atas dedikasi dan antusiasme pantang menyerah tersebut, Tim U-19 berhasil memetik hasilnya. Pengumuman yang dilaksanakan secara online melalui Zoom Meeting melahirkan euforia baru, khususnya bagi Prodi S1 Ilmu Komunikasi UNESA atas pencapaian luar biasa yang diperoleh mahasiswanya pada ajang kompetisi bertaraf nasional di bidang creative writing [astr, 2024].
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA