Di Balik Sunyi Penang, Tersimpan Suara Komunikasi yang Hangat
ikom.fisipol.unesa.ac.id,
MALAYSIA - Ada kalanya kita terjebak dalam rutinitas yang mengalir dengan
sendirinya. Namun kali ini, saya diberi kesempatan untuk keluar dari zona
nyaman dan terjun langsung ke lapangan. Penang, dengan segala dinamikanya menjadi
tempat yang mengajarkan banyak hal. Sebagai sebuah informasi, selain menjadi
mahasiswa, saya juga merupakan salah satu Staff Marketing di sebuah perusahaan
di Surabaya.
Dengan berbekal tantangan
dari bos untuk meneliti pasar di negeri orang, berangkatlah saya ke Penang.
Bukan hal yang mudah untuk perempuan muda seperti saya berpergian sendiri di
negeri orang. Empat jam perjalanan, menjadi perpaduan antara kesunyian,
kekhawatiran sekaligus kegembiraan.
Di dalam kereta, saya duduk
dekat jendela yang menyusuri dataran Malaysia, dari gedung-gedung tinggi yang
mulai menipis, hingga sawah hijau, dan desa-desa kecil yang berlalu dengan
tenang. Perjalanan saya belum selesai sampai di sini. Kapal Ferry menanti di pelabuhan, siap membawa saya
menyeberang ke Pulau Penang.
20 menit di atas kapal, angin
laut yang sejuk menyentuh wajah saya, memberikan sensasi baru yang membawa saya
jauh dari segala rutinitas. Saya berdiri di dek, melihat pulau yang semakin
mendekat, dan rasa ingin tahu saya semakin besar. “Kira-kira, apa yang akan
saya temui?”.
Saya ingat hari pertama tiba
di Penang, saya datang dengan ekspektasi tinggi. Menginginkan jawaban atas
banyak pertanyaan yang ada dalam pikiran saya. Tentang bagaimana sistem
komunikasi di Penang bekerja. Saya ingin tahu bagaimana teori yang saya
pelajari di kelas bisa terhubung dengan dunia nyata yang penuh dengan tantangan
dan peluang.
Namun, apa yang saya temui di
Penang lebih mengejutkan lagi. Bagaimana bisa kota yang konon katanya penuh
turis ini sunyi senyap seperti kota mati. Saya menekan button on di handphone dan melihat waktu masih menunjukkan pukul
enam sore. Namun, toko di kanan dan kiri saya sudah berbondong-bondong akan
tutup.
Akhirnya, saya memutuskan
untuk melangkah ke Armenian Street.
Tempat yang katanya wajib dikunjungi jika pergi ke Penang, tempat yang
menyatakan bahwa kamu sah sudah ke Penang. Matahari sudah mulai tenggelam
ketika saya tiba di Armenian Street
karena sudah menunjukkan puku tujuh.
Kalau ada satu tempat yang
bisa dibilang punya kehidupan sendiri, mungkin ini adalah salah satunya.
Jalanan kecil yang penuh dengan seni dan sejarah ini terasa berbeda. Ada
sesuatu yang ajaib di setiap sudutnya, mural-mural yang berwarna cerah,
toko-toko kecil yang penuh dengan barang-barang unik, dan pedagang yang ramah.
Tapi yang paling menarik
perhatian saya adalah betapa tenangnya suasana di sini, seperti berada di dunia
yang terpisah dari hiruk-pikuk kota besar. Saya berjalan kaki menyusuri jalan
ini, menikmati setiap detail yang ada. Seolah, setiap langkah saya membawa saya
lebih dalam ke dalam cerita kota ini.
Ada yang terasa misterius,
ada yang akrab, namun semuanya membiarkan saya merasakan kehidupan Penang
dengan cara yang sangat berbeda. Tak hanya tentang berfoto di depan mural atau
membeli barang-barang khas, ini tentang bagaimana sebuah tempat bisa berbicara
lewat seni, sejarah, dan kehidupan sehari-hari.
Pameran FnB: Branding yang Tertinggal, Tapi Tetap Ramai
Pameran FnB di Penang,
memberi saya kejutan yang lebih besar lagi. Biasanya, di Surabaya, visual branding adalah segalanya. Kita
lihat dengan mudah bagaimana setiap stand
berlomba-lomba untuk tampil menonjol, mencuri perhatian dengan desain dan display yang menggoda. Namun, di sini,
hal yang sama tidak terjadi.
Banyak stand yang tampaknya hanya berdiri begitu saja, tanpa branding yang jelas. Tidak ada papan
besar dengan logo mencolok, tidak ada warna-warni yang memikat mata. Bahkan,
banyak yang hanya mengandalkan spanduk kecil dengan tulisan seadanya.
Tapi anehnya, meskipun
tampaknya branding visual agak
tertinggal, tapi pameran ini tetap ramai. Para pengunjung berlalu-lalang,
berhenti di stand-stand yang saya
pikir tidak memiliki daya tarik visual, namun mereka tetap membeli. ”Apakah ini
berarti branding bukanlah segalanya ?”,
pertanyaan itu terus menghantui pikiran saya.
Saya mulai berpikir, mungkin
di sini, kepercayaan dan kualitas produk lebih penting daripada cara tampil di
luar. Saya merasa seperti sedang diajak berbicara oleh pasar yang mengajarkan
saya bahwa bisnis bukan hanya tentang produk atau keuntungan, tetapi juga
tentang mendengarkan dan berkoneksi.
Tapi, apa yang membuat pasar
Penang benar-benar menarik ?. Warga Penang yang mayoritas ber-etnis China dengan
kebudayaan dan kebutuhan mereka yang unik. Di sinilah saya mulai merasa
pentingnya memahami audiens. Di balik
angka dan data, ada cerita-cerita kecil tentang apa yang mereka butuhkan dan
inginkan.
Semua produk yang ada di
pameran, rasanya memang lebih berbicara kepada mereka, memberikan solusi dalam
bentuk yang familiar. Pembeli di Penang lebih mengutamakan apa yang mereka
lihat dan rasakan langsung, bukan sekadar tampilan visual. Mereka datang karena
sudah tahu apa yang mereka cari, dan itu memberi saya banyak pelajaran tentang
pentingnya trust building dalam pemasaran.
Mall Sepi, Tapi Tetap Beroperasi
Satu hal yang juga membuat
saya terheran-heran adalah bagaimana mall
di Penang bisa begitu sepi, namun tetap beroperasi dengan penuh percaya diri. Mall besar yang saya kunjungi terlihat
sepi, bahkan beberapa toko tampak lebih seperti tempat yang sudah ditinggalkan.
Tidak ada keramaian yang biasa saya temui di mall Surabaya, yang selalu penuh sesak dengan pengunjung.
Namun, meskipun demikian, mall itu tetap berjalan, tetap membuka
gerainya dengan semangat. Di satu sisi, ada semacam kesan di sini, seolah-olah
Penang memiliki ruang-ruang yang bisa tetap bertahan, meskipun tidak dipenuhi
keramaian. Ada keheningan yang penuh makna di dalamnya.
Mungkin ini mengajarkan saya,
bahwa bisnis tidak selalu harus bergantung pada jumlah pengunjung atau
hiruk-pikuk yang ada. Hal yang lebih penting adalah konsistensi dan kepercayaan
terhadap apa yang kita tawarkan, meskipun mungkin saat itu, yang datang hanya
sedikit.
Chew Jetty, pusat oleh-oleh sekaligus pusat kehidupan di Penang
Chew Jetty bukan hanya sekadar kawasan sejarah, tetapi juga pusat
oleh-oleh yang menyatukan kehidupan sehari-hari dengan keindahan budaya lokal.
Di sepanjang dermaga, saya menemukan banyak toko-toko kecil yang menjual
kerajinan tangan, cendera mata, hingga pernak-pernik khas Penang yang penuh
warna.
Setiap toko bercerita tentang
kehidupan masyarakat setempat, dari barang-barang yang dipajang, hingga
percakapan hangat antara pedagang dan pengunjung. Di sini, kehidupan berjalan
beriringan dengan para wisatawan yang mencari sesuatu untuk dibawa pulang,
sambil penduduk setempat terus menjalani aktivitas mereka di antara rumah-rumah
kayu yang sudah berumur ratusan tahun.
Chew Jetty memang pusat kehidupan dan sekaligus tempat yang
menghubungkan masa lalu dengan masa kini. Menjadikannya tidak hanya tempat
membeli oleh-oleh, tetapi juga saksi bisu kehidupan yang terus berjalan di
Penang. Setelah seharian berjalan menyusuri Penang, saya tiba di Gurney Walk, tempat yang begitu hidup
meskipun malam sudah menyelimuti.
Di sepanjang pesisir, taman yang
ramai dengan orang-orang, mulsi dari keluarga, pasangan, dan anak-anak muda,
memberikan sensasi yang berbeda. Angin malam di tepi laut menemani saya untuk
menghempas penat, sementara suara ombak yang tenang membantu saya menikmati
malam. Di tengah hiruk-pikuk taman yang ramai, saya merasakan momen yang penuh
kedamaian, seolah semua kelelahan dan kebingungan tentang perjalanan ini
mereda.
Di situlah saya sadar, Penang
mengajarkan saya bahwa hidup bukan hanya soal tujuan, tapi juga tentang
menikmati perjalanan itu sendiri. Selama di Penang, saya mulai memahami bahwa
gaya komunikasi di sini sangat santai dan tidak terburu-buru. Tidak seperti
Surabaya yang sangat agresif dan visual. Penang lebih mengutamakan keakraban
dan kepercayaan dalam berkomunikasi.
Saya melihat bagaimana
orang-orang di sini lebih sering menggunakan pendekatan yang lebih personal dan langsung, daripada
berbicara lewat tampilan visual yang memukau. Di pameran FnB misalnya, meskipun
branding visual kurang menonjol, ada
banyak interaksi langsung yang terjadi antara penjual dan pembeli. Mereka
berbicara, bertanya, dan membangun hubungan kedekatan yang lebih intim.
Komunikasi di Penang lebih
mengedepankan keterbukaan dan kejujuran, sesuatu yang saya rasa sangat
mendalam. Di sini, mereka lebih banyak berbicara dengan hati, bukan hanya
dengan kata-kata atau gambar. Ada kesan bahwa mereka tidak terburu-buru untuk
mendapatkan perhatian, tetapi lebih mengutamakan kualitas interaksi.
Mungkin ini adalah cermin
dari budaya mereka yang lebih tenang dan santai, jauh dari keramaian dan
kegaduhan. Di Penang, seolah waktu berjalan lebih pelan, dan sudut pandang
tentang komunikasi juga lebih manusiawi, lebih mengutamakan hubungan daripada
sekadar transaksi.
Pada akhir perjalanan,
mengingatkan saya tentang satu hal penting, bahwa bisnis bukan hanya soal jual
beli, tapi juga tentang menciptakan perubahan. Di balik setiap keputusan yang
kita buat, ada potensi untuk membuat dunia sedikit lebih baik. Penang, dengan
segala keramaian dan peluangnya, mengajarkan kita tentang pentingnya mendengar,
memahami, dan memberi dampak positif.
Jika ada kesempatan di masa depan, saya ingin kembali lagi, untuk lebih memahami, lebih merasakan, dan tentu saja untuk melanjutkan perjalanan yang belum selesai. Terima kasih telah mengajarkan banyak hal. Sampai jumpa lagi Penang.
Penulis: Stefany Jeanny
Wijaya (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor: Nur Mazidah Agustin N., 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi
UNESA