Makam Sunan Drajat, Jejak Sejarah dan Warisan Spiritual yang Tak Terlupakan

ikom.fisipol.unesa.ac.id, Lamongan - Dalam sejarah penyebaran agama Islam di Pulau Jawa, terdapat peran penting dari para Wali Songo yang mengenalkannya kepada masyarakat melalui pendekatan sosial dan budayanya yang khas. Salah satu di antara mereka adalah Sunan Drajat, seorang wali yang dikenal akan kebijaksanaannya ketika berdakwah serta kontribusinya dalam pendidikan moral masyarakat.
Mengenal Tokoh Sunan Drajat
Sunan Drajat memiliki nama asli Raden Qasim. Karena pengaruh besarnya terhadap warga daerah, Sunan Drajat menjadi salah satu tokoh yang diingat dan dihormati oleh masyarakat, baik di masa lampau hingga kini. Beliau dikenal sebagai sosok yang karismatik dan sangat religius hingga di akhir masa hidupnya pun beliau meninggalkan kesan yang baik di benak masyarakat.
Sunan Drajat atau Raden Qasim menjadi bagian dari majelis Wali Songo dan merupakan tokoh kunci dalam sejarah Islam di Jawa pada abad ke-14 Masehi. Beliau belajar langsung dari ayahnya, Sunan Ampel, di pondok pesantren Ampel Denta yang ada di Surabaya. Setelah menyelesaikan pendidikannya, Sunan Drajat pergi ke Cirebon untuk belajar kepada Sunan Gunung Jati dan menikahi putrinya, Dewi Sufiyah.
Kembali ke Ampel Denta, Sunan Ampel meminta Sunan Drajat untuk berdakwah di Gresik. Di sanalah kemudian Sunan Drajat menetap dan menikah dengan Nyai Kemuning, putri dari Kiai Mayang Madu.
Seiring berjalannya waktu, Sunan Drajat mendirikan surau di wilayah Jelang, Gresik, dan mengajarkan Islam dengan menekankan nilai-nilai kerja keras, empati, dan solidaritas sosial. Beliau juga membantu masyarakat dengan mengajarkan keterampilan praktis, seperti membangun rumah dan membuat alat-alat seperti tandu. Oleh karena itu, penduduk di Pedukuhan Drajat menjadikannya imam pelindung dan memberinya gelar Sunan Drajat.
Sunan Drajat kemudian meninggal dunia pada tahun 1522 M dan dikebumikan di wilayah tanah yang menjadi tempatnya berdakwah, yaitu Desa Drajat, tepatnya di Kecamatan Paciran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur. Tempat yang menjadi makam Sunan Drajat tersebut kemudian dikenal sebagai Makam Sunan Drajat dan menjadi situs ziarah penting yang bisa dikunjungi oleh para sejarawan serta sebagai tempat mengenang perjuangan dakwah beliau.
Identitas Khas Bangunan dan Warisan di Dalamnya
Makam Sunan Drajat memiliki keunikan dan ciri khas tersendiri pada bangunan di sekitarnya. Ini menjadi alasan mengapa kita dapat lebih mudah mengingat apabila telah mengunjungi kompleks makam ini sebelumnya. Hal ini dikarenakan adanya detail ornamen yang menghiasi area makam.
Misalnya, pada pintu masuk area makam, terdapat ornamen lintel yang diukir dan menunjukkan sebuah angka. Angka tersebut merupakan tahun berdirinya pesantren yang didirikan oleh Sunan Drajat, yakni tahun 1531 Saka atau setara dengan tahun 1609 Masehi.
Sementara pada langkan bagian luar yang berada di sisi barat, terdapat ukiran indah berbentuk Candra Sengkala Memet alias sangkala. Ukiran tersebut juga memiliki tahun yang tertera, yaitu 1544 Saka atau tahun 1622 Masehi yang menandakan perluasan area cungkup makam untuk dapat menampung lebih banyak peziarah.
Ketika memasuki area yang lebih dalam, kita juga akan menemukan tujuh tingkatan teras yang harus dilewati oleh para peziarah sebelum memasuki area makam Sunan Drajat. Pada teras-teras awal di jalanan menuju area makam didominasi dengan bangunan dari kayu. Sedangkan pada beberapa teras terakhir, bangunannya didominasi oleh batu-bata yang dibangun mirip seperti miniatur candi.
Ketujuh teras tersebut memiliki makna filosofis tersendiri, yakni melambangkan tujuh tanazul atau penciptaan manusia hingga tiba pada tingkatan sempurna (insan kamil). Tujuh tingkatan tersebut adalah Ahadiya, Wahda-Wahdiya, A'yam Kharija, Alam Arwah, Alam Mitsal, Alam Ajsam, dan Alam Insan.
Pada area Makam Sunan Drajat, para peziarah bisa menuju ke sebuah ruangan utama yang merupakan tempat peristirahatan Sunan Drajat dan istrinya, Retno Ayu Condro Sekar. Di depan makam tersebut, terpampang bukti ajaran peninggalan Sunan Drajat yang cukup populer dan dikenal dengan istilah 'Catur Piwulang'.
Di sebelah timur cungkup Makam Sunan Drajat, terdapat sebuah museum yang menyimpan benda-benda bersejarah peninggalan keluarga dan para sahabat. Museum Sunan Drajat yang diresmikan pada 1 Maret 1992 tersebut memiliki banyak koleksi, di antaranya berupa Gamelan Singo Mengkok, Batik Drajat, hingga daun lontar.
Gamelan Singo Mengkok merupakan warisan dari Sunan Drajat yang dahulu digunakan sebagai media untuk mengiringi nyanyian atau tembang saat berdakwah. Seperti yang kita ketahui, salah satu metode dakwah karya Sunan Drajat yang terkenal adalah Tembang Pangkur.
Nama gamelan tersebut diambil dari motif yang terukir yaitu Singo Mengkok, sebuah hewan mitologi yang kini menjadi ciri khas Lamongan. Singo Mengkok adalah hewan mitologi yang memiliki bentuk unik, yaitu memiliki kepala naga, berbadan kijang, dan memiliki kulit bersisik. Selain bisa ditemukan pada gamelan warisan dari Sunan Drajat, motif Singo Mengkok juga bisa ditemukan pada ukiran dinding dan batik khas Lamongan.
Situs Bersejarah dan Simbol Akulturasi Budaya
Makam Sunan Drajat dijadikan sebagai tujuan ziarah yang sakral, di mana menjadi magnet bagi kaum Muslim dari seluruh penjuru untuk melakukan perjalanan spiritual.
Di tempat ini, tradisi ziarah biasanya diiringi dengan doa-doa yang dipanjatkan kepada Sunan Drajat, sebagai bentuk penghormatan dan harapan atas berkah spiritual yang diyakini dapat diterima dari beliau. Dengan penuh kekhusyukan, para peziarah bersembahyang dan berdoa di area makam yang telah disediakan untuk memperkuat ikatan batin dan memperdalam penghayatan nilai-nilai keagamaan.
Dengan rentetan sejarah dan juga banyaknya makna Makam Sunan Drajat, tempat ini menjadi contoh signifikan dari unsur cross culture yang mencerminkan interaksi antara budaya Islam dan tradisi lokal.
Sebagai salah satu Wali Songo, Sunan Drajat tidak hanya menyebarkan ajaran Islam saja, tetapi juga mengadaptasi elemen-elemen budaya lokal dalam dakwahnya. Misalnya, penggunaan Sastra Macapat dan Tembang Pangkur dalam penyampaian pesan-pesan spiritual menunjukkan penggabungan antara tradisi lisan Jawa dan ajaran Islam sehingga lebih mudah diterima oleh masyarakat setempat.
Dengan demikian, makam Sunan Drajat bukan hanya tempat bersejarah, tetapi juga simbol dari akulturasi budaya yang berhasil mengintegrasikan nilai-nilai Islam dengan tradisi lokal.
*****
Author : Albi Hamdani (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor : Alya, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA