Hadapi Tantangan Digital, Kajian Rutin PODIUM UNESA Vol. 2 Kupas Tuntas Masa Depan Ilmu Komunikasi

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA―Dalam membangun konsisten yang berkelanjutan, Forum Komunikasi Mahasiswa (FORKOMM) UNESA menggelar Kajian Rutin PODIUM (Pusat Dialog dan Diskusi Ilmu Komunikasi) Vol. 2 pada Kamis, 31 November 2024 bertempat di Balai Diskusi I5, FISIPOL, Kampus UNESA Ketintang. Kegiatan ini merupakan episode diskusi lanjutan dari agenda first gathering sebelumnya dengan mengusung tema besar 'Membaca Masa Depan Ilmu Komunikasi'.
Turut hadir Awang Dharmawan, S.I.Kom., M.A. dan Oni Dwi Arianto, S.S., M.I.Kom., Dosen Ilmu Komunikasi UNESA sebagai pemantik yang mengawal jalannya sesi diskusi. Tak lupa, Putri Aisyiyah Rachma Dewi, S.Sos., M.Med.Kom., Dosen Ilmu Komunikasi UNESA beserta kurang lebih 27 mahasiswa juga turut hadir melengkapi dialog yang berlangsung interaktif pada sore itu. Adapun sejumlah mahasiswa yang ikut serta memadati halaman I5, di antaranya mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2020, 2021, 2022, 2023, 2024, dan beberapa mahasiswa non-Ilmu Komunikasi, yaitu 2 mahasiswa asal Prodi Geografi, 1 mahasiswa asal Prodi Sejarah, dan 1 mahasiswa asal Prodi IPS.
Secara umum, diskusi kali ini membahas terkait sejarah Ilmu Komunikasi, termasuk berbicara soal tujuh tradisi komunikasi hingga bagaimana pergempuran era digital dan teknologi mampu membawa perubahan masif dalam berbagai aspek kehidupan.
Awang menekankan bahwa perubahan teknologi dapat menghasilkan dua hal yang cukup krusial, yakni perubahan yang diharapkan (planned change) dan perubahan yang tidak diharapkan (unplanned change). Sebagai contoh, penggunaan teknologi saat ini tidak serta merta hanya sebagai media informasi, melainkan mulai bermultifungsi menjadi alat monetisasi.
"Ketika memasuki era digitalisasi, kita tidak hanya bisa menggunakan digital tersebut hanya untuk meningkatkan sistem komunikasi, namun kita juga dapat memanfaatkan hal tersebut untuk meningkatkan perilaku konsumtif seorang individu," terangnya.
Dosen pembina PODIUM UNESA ini juga mengungkap bahwa salah satu elemen Ilmu Komunikasi yang turut terdampak dalam perkembangan era digitalisasi ini adalah jurnalistik. Menurutnya, di tengah disrupsi teknologi digital, media-media lokal nampak hanya berfokus pada tren-tren di media sosial, sehingga hal ini disebut dengan jurnalisme algoritma.
Di samping itu, seringkali pula dijumpai berbagai berita yang beredar tanpa dilengkapi oleh 5W+1H yang sempurna, di mana penulis berita hanya mementingkan hal-hal yang menurut mereka dapat menarik simpati khalayak umum untuk mengonsumsi berita, ketimbang memperhatikan value dari berita tersebut. Misalnya seperti penggunaan clickbait atau bahasa sensasional dinilai seringkali menggunakan kalimat hiperbola guna meningkatkan views berita.
Oni turut menambahkan bahwa dalam mempersiapkan karir di masa yang akan datang, mahasiswa Ilmu Komunikasi perlu membuka diri terhadap berbagai peluang besar yang luar biasa. Adapun salah satu fondasi tak kalah penting dalam menunjang karir adalah kemampuan berbahasa Inggris, karena ketika mahasiswa telah berkecimpung dalam dunia kerja, mereka akan dihadapkan dengan berbagai tantangan yang bersifat global, sehingga akan ada probabilitas untuk berjumpa dengan berbagai pihak di luar negeri.
Selanjutnya, menanggapi perkembangan digitalisasi yang kian pesat, dalam forum diskusi ini juga menyinggung personalitas Gen Z dengan ciri khas yang tidak suka ribet. Padahal, Gen Z sebenarnya sedang menghadapi tantangan yang tidak mereka sadari, yakni arus informasi yang deras dan tanpa arah. Dalam hal ini, perlu digaris bawahi bahwa Gen Z harus cerdas dan bijaksana dalam menyaring informasi yang tersebar di media [astr, 2024].
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA