Kelas Praktisi Copywriting dan Storytelling Bersama Galuh Gita
ikom.fisipol.unesa.ac.id., - Program Mobilitas Akademik Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menghadirkan Kelas Praktisi pada Sabtu, 27 September 2025. Kegiatan ini menghadirkan Galuh Gita, Pranata Humas Badan Geologi Kementerian ESDM, yang membawakan materi mengenai Copywriting and Storytelling. Acara berlangsung secara daring melalui Zoom Meeting mulai pukul 09.30 hingga 11.30 WIB.
Materi ini menjadi penting karena copywriting bukan hanya sekedar menulis slogan atau tagline, melainkan seni menyusun kata untuk memikat, membangun kepercayaan, hingga mendorong publik pada tindakan tertentu. Storytelling sendiri melengkapi fungsi itu dengan menghadirkan narasi yang kuat sehingga pesan dapat lebih mudah dipahami, diingat, dan diterima oleh audiens.
Seni Copywriting dan Model Efektif
Dalam pemaparannya, Galuh Gita menekankan bahwa copywriter harus memahami psikologi pembaca, mampu mempersuasi, dan memberi edukasi yang bermanfaat. Lebih dari sekadar merangkai kata, seorang copywriter juga dituntut mengukur efektivitas tulisannya dengan metrik tertentu. Tujuan akhirnya adalah mempersuasi publik dengan cara yang etis, kreatif, dan strategis.
Beberapa formula populer juga dibahas, seperti AIDA (Attention, Interest, Desire, Action) yang menekankan pentingnya hook yang menarik, relevansi fakta, manfaat jelas, hingga perintah yang spesifik untuk mengarahkan audiens. Selain itu, ada formula PAS (Problem, Agitate, Solution) yang sering digunakan dalam persaingan merek, misalnya studi kasus Blue Bird versus taksi online lain.
Metode lain yang diulas adalah Feature – Advantage – Benefit, yang mendorong copywriter untuk mengidentifikasi properti produk, mencatat keunggulan, dan menegaskan manfaat bagi pengguna. Formula Q.U.E.S.T juga dijelaskan, yakni bagaimana data yang lengkap membantu copywriter menyampaikan pesan sesuai etika, sekaligus memberi solusi nyata terhadap kebutuhan publik.
Storytelling Sebagai Strategi Persuasif
Storytelling hadir bukan sekadar teknik penceritaan, tetapi strategi untuk membangun koneksi emosional. Galuh menegaskan bahwa personalisasi pesan merupakan kunci agar audiens merasa dekat dengan pesan yang disampaikan.
Beberapa pendekatan praktis juga dibagikan, seperti 4 Steps (Picture – Promise – Proof – Push) yang menekankan pentingnya menghadirkan gambaran menarik, janji yang relevan, bukti yang meyakinkan, dan dorongan kuat untuk bertindak. Teknik ini semakin efektif ketika dikombinasikan dengan strategi harga, waktu, atau momentum tertentu, misalnya kampanye tanggal kembar yang mampu menciptakan urgensi.
Dalam praktiknya, storytelling bukan hanya menghibur, melainkan juga membangun trust, memenuhi kebutuhan audiens, hingga menciptakan urgensi.
AI Sahabat Baru Copywriter
Menariknya, sesi ini juga membahas peran kecerdasan buatan (AI) dalam mendukung copywriting. Galuh menjelaskan bahwa AI dapat menjadi sahabat baru bagi copywriter, khususnya dalam mengolah data dan menghasilkan draft awal tulisan. Namun, faktor kreativitas, empati, dan konteks budaya tetap memerlukan sentuhan manusia.
Teknik prompt AI pun dapat membantu menghasilkan ide cerita, meski pada akhirnya copywriter harus memastikan pesan tetap personal, relevan, dan sesuai etika. Hal ini menunjukkan bahwa masa depan copywriting bukan tentang menggantikan manusia dengan mesin, melainkan kolaborasi antara teknologi dan kreativitas manusia.
Kelas Praktisi kali ini menjadi pengingat bahwa keterampilan copywriting dan storytelling bukan hanya milik industri pemasaran, tetapi juga keterampilan komunikasi yang dibutuhkan di berbagai bidang. Di era digital yang kompetitif, penguasaan teknik menulis persuasif dan narasi strategis akan menjadi bekal penting bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk terjun ke dunia profesional.
Penulis: Putri Nailah Amelia, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA