Kolaborasi UNESA–BatStateU: Screening & Sharing Session Bahas Isu Sosial Lewat Film
ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA–Universitas Negeri Surabaya yang diwakili oleh Komunitas Film Indie Komunikasi (Kofiekom) Ilmu Komunikasi bersama mahasiswa Bachelor of Arts in Communication, Batangas State University, Filipina, menyelenggarakan Screening & Sharing Session. Acara berlangsung pada Selasa (2/9/2025) di ruang rapat Gedung I8 lantai 2 FISIPOL, UNESA Kampus 1, Ketintang.
Perwakilan Kofiekom yang hadir antara lain Shabrifa Isti Akmaliya, Daniya Sarah Arisandi, Bunga Adya Mashuri, Dwi Junita, Yumna Azahra, Florentia Renata Tirtakusuma, Raditya Budi Prianugraha, Aksa Rayya Alfaray, Zakariya Putra Soekarno, dan Widya Chandrawati. Sementara dari Batangas State University hadir Nicolas Antonio Eje, Lloyd Amiel Jumarang, Butch Rowel Liray, dan Gene Kevin Mendoza.
Kegiatan dimulai dengan pemutaran dua film karya anggota Kofiekom, yaitu Bedayan (2025) karya Kayyis Ramadhani Nakano dan Robin Yahood (2025) karya Khittah Sani. Bedayan mengangkat kisah Rangga, seorang remaja yang ingin menjadi penari Bedayan meski mendapat penolakan dari keluarganya, sementara Robin Yahood bercerita tentang Karman, pemuda yang terjebak dilema setelah menemukan dokumen korupsi saat sedang mencuri.
Diskusi pasca-screening berlangsung dinamis selama hampir tiga jam. Mahasiswa Batangas State University terlihat antusias berdialog mengenai isu-isu yang diangkat film, proses kreatif, serta peran komunitas film mahasiswa di Indonesia.

“Butuh keberanian untuk membuat film seperti ini. Isu-isu yang kalian angkat relevan dengan situasi di negara kami juga. Saya pribadi terinspirasi untuk memulai komunitas film mahasiswa di kampus kami agar bisa berdiskusi dan berkarya seperti ini,” ujar Butch Rowel Liray, salah satu mahasiswa BatStateU.
Ketua Kofiekom, Shabrifa Isti Akmaliya, menyampaikan rasa bangga atas kesempatan ini. “Kami senang bisa berbagi karya dan cerita dengan teman-teman dari Filipina. Semoga ini bukan pertemuan terakhir, tetapi awal dari kolaborasi lintas negara. Kofiekom ingin terus membuka ruang diskusi agar film menjadi sarana refleksi sosial, bukan sekadar hiburan,” ungkapnya.
Selain diskusi film, para mahasiswa juga membahas struktur organisasi Kofiekom, peran komunitas film di lingkungan kampus, dan prospek pengembangan perfilman mahasiswa di Filipina. Pertukaran gagasan ini diharapkan memperkuat jejaring internasional sekaligus memperkaya wawasan kedua belah pihak mengenai peran film dalam membangun kesadaran sosial.
Reporter: Zakariya Putra Soekarno, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA