LSO PR Apprentice Kupas Tuntas Digital Branding Bersama Alumni dalam PR Class Vol 5

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA–Kupas tuntas soal branding bersama alumni berpengalaman, LSO PR Apprentice Ilmu Komunikasi UNESA adakan PR Class Volume 5 pada Sabtu, 21 September 2024 di Gedung I5, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), UNESA Kampus Ketintang. Kegiatan ini dihadiri oleh anggota aktif PR Apprentice serta peserta eksternal yang berasal dari program studi Ilmu Komunikasi dan mahasiswa dari prodi lainnya.
PR Class yang sudah berlangsung hingga volume kelima ini mengusung tema 'How to Build a Strong Branding' dan menghadirkan alumni yang telah berpengalaman di bidangnya.
Dalam sambutannya, Siti Nurhaliza, selaku ketua pelaksana, menyambut baik seluruh peserta, “Kami ucapkan selamat datang kepada seluruh peserta. Semoga materi yang disampaikan oleh pemateri dapat diterima dengan baik dan memberikan manfaat bagi pengembangan keterampilan branding di masa mendatang,” ucapnya.
Sementara itu, Widiatanti, Ketua PR Apprentice, menjelaskan pentingnya acara ini bagi para mahasiswa. “Ini adalah PR Class kelima dari seluruh rangkaian PR Class yang diadakan oleh PR Apprentice. Kegiatan ini memang ditujukan untuk mewadahi mahasiswa yang berminat belajar mengenai dunia kehumasan. Tema digital branding dipilih sesuai dengan kebutuhan dan minat yang dimiliki oleh para peserta,” jelasnya.

Kegiatan diisi dengan pemaparan materi yang dilakukan oleh Kanaka Bhaswara Prabhata, S.I.Kom., yang saat ini menjabat sebagai Brand Communication Manager di Parahita Diagnostic Center. Pada sesi materi, Kanaka, sapaan akrabnya, menjelaskan banyak hal mulai dari pengertian brand, brand identity, hingga brand strategy.
Kanaka menekankan bahwa brand adalah sesuatu yang dipersepsikan oleh orang lain, sementara branding adalah bagaimana orang memproses dan membentuk persepsi tersebut. Proses branding, menurutnya, adalah cara agar persepsi yang ingin disampaikan oleh sebuah brand dapat sampai dengan baik kepada audiens.
Kanaka juga memperinci lebih lanjut tentang brand identity dan brand strategy. “Brand strategy harus dimulai terlebih dahulu sebelum menciptakan brand identity,” ujarnya. Lebih lanjut, Kanaka membahas sembilan pilar brand strategy yang menjadi dasar dalam membangun brand yang kuat.
Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan sesi tanya jawab dan penugasan. Pada sesi penugasan, para peserta yang telah dibentuk kelompok diarahkan untuk menganalisis brand strategy dari brand personality yang telah ditentukan secara acak. Peserta lalu mempresentasikan hasil analisis masing-masing yang kemudian langsung dikomentari oleh pemateri untuk mendapatkan masukan.
Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan dapat lebih memahami mengenai pentingnya branding di dunia kehumasan, khususnya di era digital. Dengan materi yang praktis dan mudah dipahami, peserta diharapkan dapat menerapkan strategi branding yang tepat, baik untuk keperluan akademik maupun dunia kerja kelak [erz, 2024].

***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA