Memahami Pentingnya Kekuatan Media dalam Membentuk Opini Publik Bersama PODIUM UNESA Vol. 3

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA―Dewasa ini, media massa dinilai lebih unggul ketimbang media sosial apabila dilihat dari segi validitas dan frekuensi kecepatan distribusi berita. Lantas, benarkah demikian? Pada kesempatan kali ini, PODIUM UNESA kembali menyelenggarakan Kajian Rutin Vol. 3 bertajuk 'Agenda Setting Media: Kekuatan Media dalam Membentuk Opini Publik' dan menghadirkan Eben Haezer, seorang Jurnalis sekaligus Ketua AJI Surabaya periode 2021-2024 sebagai narasumber utama yang mengupas tuntas bagaimana urgensi media dalam era digital saat ini.
Kegiatan ini dihadiri oleh sejumlah dosen Ilmu Komunikasi UNESA, di antaranya Dr. Anam Miftakhul Huda, S.Kom., M.I.Kom., Putri Aisyiyah R.D., S.Sos., M.Med.Kom., Oni Dwi Arianto, S.S., M.I.Kom., Aditya Fahmi Nurwahid, S.I.Kom., M.A., dan Muhammad Hilmy Aziz, S.Sos., M.I.Kom. Selain itu, 45 mahasiswa Ilmu Komunikasi dari berbagai angkatan beserta seorang mahasiswa asal Prodi IPS juga turut memadati Balai Diskusi (halaman I5), FISIPOL, Kampus UNESA Ketintang dan nampak antusias menyimak topik besar yang tengah diusung.
Berbicara soal relevansi agenda setting pada era saat ini, Eben menganggap bahwa agenda setting kurang relevan dalam dunia media massa, karena masyarakat kini lebih tertarik pada informasi yang diperolehnya melalui media sosial daripada menyimak langsung dari berbagai artikel yang dipublikasi oleh badan pemberitaan di Indonesia.
Mantan Ketua AJI ini juga menyoroti bagaimana ideologi yang dipegang teguh oleh media. "Dalam beberapa kasus seperti LGBT dan aksi genosida di Palestina, nyatanya tidak banyak media yang berani mengangkat berita yang terlalu bersenggolan dengan pemerintah. Namun, cukup banyak media massa alternatif yang memiliki skala kurang besar, justru malah mereka yang lebih lantang dalam menyuarakan suara para watchdog ini," ungkapnya.
Sebuah fakta lain yang tak boleh terlewat adalah mulai banyaknya influencer yang bermunculan dan diyakini sebagai alat branding program pemerintah. Hal ini cukup mengundang amarah para jurnalis di berbagai daerah, lantaran fenomena tersebut dinilai telah memakan hak para jurnalis, terutama dalam hal persaingan sumber berita yang terverifikasi.
Namun, Eben menanggapi isu tersebut dengan tenang. Menurutnya, meskipun saat ini influencer juga memiliki kekuatan dalam membentuk opini publik di media sosial, realitanya media massa tetap saja memiliki penilaian yang lebih unggul dari segi validitas dan frekuensi kecepatan distribusi berita.
"Media massa lebih unggul ketimbang media sosial karena media massa lebih valid dan pasti karena media massa mengalami beberapa proses sebelum melayangkan berita ke publik. Saat ini, media massa juga lebih diminati daripada koran karena kecepatannya dalam menyebarkan berita sangat jauh berbeda, sehingga kurang banyak orang yang suka membaca koran. Koran memberitakan hot news kemarin, sedangkan media massa memberitakan hot news kurang dari satu hari," paparnya [astr, 2024].
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA