Menelusuri Dampak Kebijakan Efisiensi Anggaran, Kajian Rutin PODIUM UNESA Vol. 6 Kupas Tuntas Pangkas Anggaran

ikom.fisipol.unesa.ac.id, Surabaya - Forum Komunikasi Mahasiswa (FORKOMM) UNESA menggelar kajian rutin PODIUM (Pusat Dialog dan Diskusi Ilmu Komunikasi) Vol. 6 pada Kamis, 20 Februari 2025. Bertempat di Balai diskusi i5, FISIPOL, Kampus UNESA Ketintang. Kegiatan ini merupakan episode diskusi dengan mengusung tema 'Pangkas Anggaran, Pangkas Harapan: Menelaah Kebijakan Efisiensi Anggaran'.
Turut hadir Awang Dharmawan, S.I.Kom., M.A. dan juga Akhmad Jayadi, SE., M.Ec.Dev. sebagai narasumber dan pemantik yang mengawal jalannya diskusi dengan dihadiri 22 mahasiswa dari prodi Ilmu Komunikasi dan beberapa mahasiswa non-Ilmu Komunikasi.
Secara umum, diskusi kali ini membahas terkait peninjauan teoritis atas pendapatan nasional dan anggaran berdasarkan InPres No. 1 Tahun 2025 pada bulan Januari dengan total anggaran belanja negara sebesar 306,69T.
Akhmad Jayadi, SE., M.Ec.Dev., menekankan dari kacamata ilmu ekonomi bahwa disiplin ketat fiskal memang diperlukan terutama bagi anggaran yang tidak efisien, namun disisi lain efek yang tercipta adalah pengangguran, belanja barang dan jasa menurun, serta pertumbuhan ekonomi ikut menurun.
Dalam tinjauan teoritis menurut ekonomi mikro menjabarkan bahwa pendapatan nasional dan anggaran, belanja pemerintah dalam struktur pendapatan nasional dinotasikan dengan G (government spending). C = Co + bY + I + G, dengan b sebagai MPC atau tambahan hasrat konsumsi jika ada pendapatan tambahan. Hubungan G dan Y adalah positif, jika G naik maka Y juga akan ikut naik.
Menurut pandangan masyarakat banyak dari mereka yang beranggapan bahwa anggaran dari G (government spending) mengalami pemotongan, tetapi jika ditinjau kembali, pihak pemerintah tidak melakukan pemotongan atas anggaran dari G melainkan anggaran G tersebut mengalami pengalokasian dana.
Awang Dharmawan, S.I.kom., M.A., mengungkapkan bahwa adanya efisiensi anggaran ini merupakan suatu 'pemantik' dari beberapa kepentingan pemerintah.
“Untuk melahirkan satu sistem baru yang lebih seimbang kita tidak akan bisa kalau tidak chaos, hal ini tergambar saat demonstrasi besar dari peringatan darurat ke Indonesia gelap itu terjadi proses akumulasi dari kelompok kelas menengah terhadap proses akumulasi kepentingan politik, jadi efisiensi anggaran merupakan satu pemantik dari rangkaian kepentingan-kepentingan lainnya,” ujarnya.
disiplin ketat fiskal memang diperlukan terutama bagi anggaran yang tidak efisien. Namun, meskipun pengelolaan anggaran yang lebih efisien dapat menekan pemborosan, ada potensi dampak negatif yang harus diperhatikan, seperti penurunan daya beli masyarakat, meningkatkannya angka pengangguran, sehingga terhambatnya pertumbuhan ekonomi.
Oleh karena itu, penting untuk memastikan bahwa efisiensi anggaran tidak hanya fokus pada pemotongan, tetapi juga pengalokasian dana yang lebih tepat sasaran sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi.[ysm&zdh, 2025]
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA