Mengemban Ilmu di Universitas Brawijaya: Begini Kisah PMM Mandiri Ilmu Komunikasi UNESA 2024

ikom.fish.unesa.ac.id, SURABAYA – Sejujurnya, ketika mendengar istilah “pertukaran pelajar”, dua pasang kata ini selalu mendorong diri Joy Nathanael untuk unjuk gigi. Apalagi kalau sampai disebutkan salah satu nama universitas populer di Indonesia. Tidakkah asik jika kita bisa berkesempatan untuk belajar di sana? Bagi mereka, itu ialah kesempatan yang tidak datang dua kali. Ibarat lamunan yang diladeni Sang Maha Kuasa, dirinya kemudian dikejutkan dengan informasi yang datang dari dosennya sendiri. Ternyata, UNESA lagi-lagi berinisiatif. Tidak berhenti pada pelaksanaan Program Pertukaran Mahasiswa Merdeka (PMM) dari Kemendikbudristek RI, namun PMM juga diujicobakan dengan skema pembiayaan mandiri.
Tepat
menjelang tahun ajaran 2024, telah dikabarkan bahwa UNESA tengah menjalin silaturahmi
dengan sejumlah universitas tetangga, terhitung Universitas Brawijaya (UB).
Sama-sama berstatus PTN-BH, dua kampus unggulan ini memutuskan untuk bertukar
pelajar, yaitu kesempatan mobilisasi untuk sementara waktu di Universitas Brawijaya (UB), khususnya
bagi mahasiswa semester 4 Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, UNESA.
Selama
satu semester, mahasiswa peserta PMM Mandiri 2024 dari S1 Ilmu Komunikasi UNESA bisa merasakan bagaimana proses belajar-mengajar
di Kampus Biru. Meski dengan tuntutan biaya pribadi, mereka diringankan
dengan Uang Kuliah Tunggal (UKT) yang tetap dibayar di UNESA. Jadi, tidak perlu
membayar UKT menurut standar UB, melainkan langsung berkuliah seperti biasa.
Singkat
cerita, Joy Nathanael pun mengambil kesempatan itu. Bukannya naif, tetapi ia memang
ingin mencoba kesempatan baru. Barang dan mental pun mulai dipersiapkan. Bahkan,
setibanya di Kota Malang, rasa asing dengan lingkungan keburu menghantui dirinya.
Meski bukan pertama kalinya mengunjungi Kota Malang, sebelumnya ia sama sekali belum pernah
menetap lama di sana. Tidak heran jika rasa asing itu ikut menetap sesaat.
Tiap pagi, ia beranjak dari kasur, menuruni tiga tangga lantai kos untuk bergegas menghadiri kelas. Rasa kurang familiar itu semakin kuat ketika ia tidak mengenal satupun insan di kelasnya. Untungnya, beberapa mulai meringankan perisainya. Joy Nathanael bersama 4 mahasiswa S1 Ilmu Komunikasi UNESA lainnya, yaitu Ahmad Bahrul Ulum, Nur Sabrina Dwi Basir, Awan Dina Marsela, dan Zidny Ilman Azzuardi mulai mengenal teman-teman baru, tidak terkecuali dosen dan tenaga pendidik Universitas Brawijaya (UB).
Sesudah
kelas, mereka bahkan diajak untuk bercengkerama riang di toko kopi lokal.
Mahasiswa didik Universitas Brawijaya (UB) ikut penasaran, sekaligus menanyakan latar belakang hingga
alasan mengapa mereka mengambil kesempatan berpindah kampus ini. Jawaban mereka berlima hampir serupa, yakni sama-sama ingin membekali diri dengan atmosfer belajar
baru dan memperoleh koneksi potensial dalam lahan akademik hingga non-akademik. Lahan
itu tentunya dipagari dengan keharusan bagi mereka untuk kembali ke UNESA saat
periode semester 4 selesai. Mau tidak mau, mereka sepakat untuk mulai
menghabiskan waktu sebaik mungkin selama berada di Kampus Biru itu. Mereka pastinya
tidak lupa bertukar kontak dengan teman-teman seperjuangan di Universitas Brawijaya (UB), serta mengharapkan adanya pertemuan di lain
waktu.
Lambat
laun, rasa kurang familiar itu perlahan memudar. Sederhananya karena mereka mulai mengenal orang-orang di sekitarnya, termasuk untuk bisa mengikuti
aturan main yang berlaku. Tidak perlu dikonotasikan dengan hal-hal negatif, aturan
main ini merupakan manifestasi bagaimana mereka bisa bertahan (keep up) di lingkungan
baru, misalnya dalam bergaul dan saling bahu-membahu dalam urusan perkuliahan.
Bagusnya, mereka tetap diberi peluang mengambil 24 SKS, berbeda dengan PMM dari Kemendikbudristek RI yang hanya membatasi pada 20 SKS. Perlu digarisbawahi bahwa mata kuliah yang
diambil tetap disesuaikan dengan konversi mata kuliah di UNESA. Menariknya, mereka tetap bisa mengambil mata kuliah menurut kurikulum Universitas Brawijaya (UB), seperti mata kuliah
Komunikasi Bencana yang sesuai dengan konsentrasi jurusan yang diambil oleh Joy Nathanael, yakni Communication Development.
Untuk
fasilitas di Universitas Brawijaya (UB) sendiri juga tidak perlu diragukan lagi, baik penerangan maupun ruang
kelas sudah dilengkapi secara merata. Namun cukup disayangkan, mahasiswa PMM
Mandiri dari UNESA belum diizinkan untuk mengakses perpustakaan pusat tanpa kartu
keanggotaan khusus.
Secara
menyeluruh, mereka tetap bersyukur atas kesempatan PMM Mandiri ini. Bahkan, mereka telah melalui banyak dinamika, baik yang menyenangkan maupun yang buruk. Jika
dipikir-pikir, pertukaran satu semester ini laksana membawa puluhan bongkahan
emas di tas ransel, berat tapi berharga. Selaku
representasi UNESA di Kampus Biru, mereka berupaya mempertahankan kerja sama antar kampus, utamanya dari sisi mahasiswa. Pertukaran setengah tahun ini
(Februari hingga Juni 2024) telah membuka pengalaman baru untuk belajar, apalagi kesempatan
bekerja sama dengan civitas academica Universitas Brawijaya (UB) ke depannya. Mereka turut
merekomendasikan Program PMM Mandiri ini untuk tetap berlanjut setiap tahunnya,
termasuk peningkatan akomodasi dari dua kampus yang saling berkolaborasi.
Reporter & Dokumentasi: Joy Nathanael
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA [astr, 2024]