Podium Vol. 5 Berbicara Tentang Perempuan dalam Kepemimpinan: Antara Tantangan, Stereotip, dan Perjuangan Kesetaraan

ikom.fisipol.unesa.ac.id., SURABAYA—Pusat Dialog dan Diskusi Ilmu Komunikasi (PODIUM) kembali menggelar Diskusi Vol. 5 pada Kamis, 5 Desember 2024, dengan tema “Kepemimpinan dalam Perempuan”. Bertempat di Balai Diskusi Hal i5 UNESA Ketintang, acara ini menghadirkan Anik Mustika Rahayu, S.I.Kom., alumni Ilmu Komunikasi 2015, sebagai pemantik diskusi.
Dalam diskusi ini, peserta diajak untuk memahami tantangan dan peluang kepemimpinan perempuan dalam berbagai sektor. Salah satu hal yang disoroti adalah bagaimana sulitnya perempuan untuk mencapai posisi guru besar, terutama di lingkungan akademik seperti FISIPOL UGM.
Perjalanan perempuan menuju jabatan akademik tertinggi kerap terhambat birokrasi rumit, beban ganda antara akademik dan domestik, serta budaya organisasi yang minim kepercayaan pada kepemimpinan mereka. Meski upaya kesetaraan terus digaungkan, stereotip dan ekspektasi masih membatasi ruang gerak mereka.
Dalam konteks ini, Aditya Fahmi Nurwahid, S.I.Kom., M.A menilai bahwa komitmen Indonesia dalam mendorong kepemimpinan perempuan masih kurang. “Kuota 30% perempuan di DPR seharusnya tidak sekedar menjadi angka formalitas, tetapi benar-benar dioptimalkan agar peran perempuan dalam politik semakin kuat,” ungkapnya.
Sebaliknya, Awang Dharmawan, S.I.Kom., M.A. justru melihat kebijakan ini sebagai peluang besar. Menurutnya budaya politik Indonesia yang sangat maskulin dapat lebih seimbang dengan adanya kuota tersebut. “Dengan adanya kebijakan ini perempuan memiliki jalur yang lebih jelas untuk masuk ke dalam arena politik dan membuktikan kapabilitas mereka,” ujarnya.
Anik juga menekankan bahwa kepemimpinan perempuan memiliki karakteristik yang lebih inklusif dan berbasis empati. Menurutnya, sebelum seseorang bisa memimpin kelompok atau organisasi, yang paling penting adalah kemampuan untuk memimpin diri sendiri terlebih dahulu. Hal ini menjadi dasar bagi perempuan untuk membangun kepercayaan diri dan membuktikan bahwa mereka mampu bersaing dalam dunia kepemimpinan.
Dogma sosial yang menempatkan perempuan sebagai sosok lemah dan terlalu perasa juga masih menjadi tantangan. Namun, cara terbaik untuk mengubahnya adalah dengan memulai dari diri sendiri. Stigma ini justru bisa menjadi kekuatan, karena kepemimpinan berbasis empati dan keterlibatan emosional dapat menciptakan hubungan yang lebih baik dengan orang-orang di sekitarnya.
Selain itu, budaya memiliki peran yang sangat penting dalam membentuk kepemimpinan perempuan. Lingkungan yang masih patriarki membuat perempuan harus bekerja lebih keras untuk mendapatkan pengakuan yang sama dengan laki laki. Oleh karena itu, membangun kesadaran kolektif dan lingkungan yang lebih inklusif menjadi langkah penting dalam menciptakan perubahan.
Sebelum berbicara lebih luas tentang kesetaraan gender, Putri Aisyiyah Rachma Dewi S.Sos., M.Med.Kom. mengajak para peserta untuk lebih dulu sadar dengan lingkungan terdekat mereka. Dengan membangun lingkungan yang mendukung perempuan sejak dini, diharapkan akan semakin banyak pemimpin perempuan yang mampu membawa perubahan besar di berbagai sektor.
Dengan adanya forum seperti PODIUM, diskusi mengenai Kepemimpinan Perempuan terus didorong agar lebih banyak ruang bagi perempuan untuk berkembang dan mendapatkan tempat yang seharusnya di berbagai bidang. Kesadaran dan dukungan dari berbagai pihak akan menjadi kunci utama dalam menciptakan perubahan nyata bagi kepemimpinan perempuan di Indonesia.
Reporter: Putri Nailah Amelia, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA