PODIUM Vol. 7: Apa Arti Nasionalisme Saat #KaburAjaDulu Menjadi Tren di Kalangan Pemuda?

ikom.fisipol.unesa.ac.id., SURABAYA—Forum Komunikasi Mahasiswa (FORKOMM) UNESA kembali menggelar kajian rutin PODIUM (Pusat Dialog dan Diskusi Ilmu Komunikasi) Vol. 7 pada Kamis, 27 Februari 2025, di Gedung I01, FISIPOL, Kampus UNESA Ketintang. Diskusi ini mengangkat tema #KaburAjaDulu, sebuah tren yang mencerminkan dilema nasionalisme serta kekecewaan anak muda terhadap kondisi bangsa.
Diskusi ini menghadirkan Dr. Anam Miftakhul Huda, S.Kom., M.I.Kom., Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi UNESA, dan Ahmad Nizar Hilmi, S.AP., MPA, dosen Administrasi Publik FISIPOL UNESA, sebagai pemantik. Selain itu, beberapa mahasiswa Ilmu Komunikasi dan mahasiswa dari berbagai program studi lainnya turut serta dalam diskusi ini.
Dalam forum ini, fenomena #KaburAjaDulu dikaji dari berbagai sudut pandang, menyoroti bagaimana tren ini mencerminkan realitas sosial anak muda yang kecewa terhadap kondisi politik, ekonomi, dan kebijakan pemerintah. Diskusi juga mengulas dampaknya terhadap nasionalisme serta keterlibatan generasi muda dalam pembangunan bangsa.
Dr. Anam menekankan bahwa fenomena ini seharusnya menjadi bahan kajian lebih lanjut untuk memahami pola pikir generasi muda. “Dari gagasan-gagasan ini, bisa lahir embrio-embrio perubahan di luar sana. Jangan hanya melihat ini sebagai bentuk ketidakpedulian, tetapi justru kesempatan untuk belajar dan memperbaiki,” ungkapnya.
(Ahmad Nizar Hilmi sedang membahas fenomena #kaburajadulu yang terjadi belakangan/ dok/ Tim PDD PODIUM)
Dalam diskusi tersebut, Ahmad Nizar HilmI, S.AP., MPA, membahas fenomena #KaburAjaDulu dengan pendekatan Taksonomi Bloom (C1-C6), menyoroti bagaimana generasi muda memproses informasi dan pengambilan keputusan. Fenomena ini tidak hanya sekedar pelarian, tetapi juga refleksi terhadap kondisi yang dianggap stagnan atau kurang mendukung perkembangan ini.
Selain itu, nasionalisme menjadi isu utama. Pemantik menekankan bahwa nasionalisme bukan hanya sekedar berada di dalam negeri, tetapi juga kontribusi nyata terhadap bangsa. Pertanyaan mendasar yang diajukan adalah “Bagaimana kita bisa dikatakan nasionalis?” Diskusi menyoroti bahwa nasionalisme bukan hanya soal kewarganegaraan, tetapi bagaimana individu tetap peduli dan berkontribusi, di dalam maupun di luar negeri.
Pembahasan semakin interaktif dengan studi kasus B.J. Habibie dan Anggun C. Sasmi. Habibie memilih kembali ke Indonesia untuk membangun industri dirgantara, sementara Anggun berpindah kewarganegaraan demi perkembangan karirnya. Hal ini memunculkan pertanyaan “Apakah nasionalisme ditentukan oleh status kewarganegaraan atau kontribusi seseorang terhadap bangsa?”
Diskusi juga menyoroti dampak pernyataan pejabat publik yang cenderung meremehkan keresahan anak muda. Ungkapan seperti “kabur sekalian dan jangan balik lagi” dianggap sebagai gaslighting politik yang memperparah ketidakpercayaan terhadap pemerintah.
Sebagai kesimpulan, fenomena #KaburAjaDulu mencerminkan keresahan sosial, ekonomi, dan politik generasi muda. Diharapkan lebih banyak ruang dialog yang dapat menjembatani aspirasi anak muda dengan pemangku kebijakan, sehingga solusi yang lebih inklusif dapat ditemukan demi masa depan bangsa.
Reporter: Putri Nailah Amelia, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA