Ungkap Perjuangan Kesetaraan Gender, PODIUM UNESA Vol. 4 Bedah Film Hidden Figures

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA―Dalam rangka mengungkap perjuangan kesetaraan gender, Forum Komunikasi Mahasiswa (FORKOMM) UNESA kembali menggelar Kajian Rutin PODIUM (Pusat Dialog dan Diskusi Ilmu Komunikasi) Vol. 4 dengan konsep yang berbeda dari perjumpaan sebelumnya. Kegiatan ini dilaksanakan pada Kamis, 21 November 2024 berlokasi di Panggung Kesetaraan (halaman I5), FISIPOL, Kampus UNESA Ketintang.
Pada edisi kali ini, PODIUM UNESA melakukan kegiatan nonton bareng sekaligus bedah film Hidden Figures untuk mengupas tuntas bagaimana perjuangan kesetaraan gender yang tersirat dalam film berdurasi 2 jam 7 menit tersebut. Diskusi ini menghadirkan 3 mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA angkatan 2021 dengan konsentrasi Communication Development sebagai narasumber utama. Mereka adalah Teofilus Dipo Karyanto, Fairuz Nurlaily dan Keisha Prabawa Sofianada.
Dengan mengusung tema besar 'Mengungkap Perjuangan Kesetaraan Gender Melalui Kekuatan Komunikasi', kajian rutin ini diikuti oleh sejumlah mahasiswa Ilmu Komunikasi dari angkatan 2021-2024, 2 orang mahasiswa dari Prodi IPS, dan 3 orang mahasiswa dari Prodi Pendidikan Sejarah.
Agenda pertama dimulai dengan kegiatan nonton bareng film Hidden Figures. Setiap peserta diskusi turut menyimak seluruh jalan cerita film drama biografi tersebut dengan baik. Setelah itu, mereka diberi kesempatan untuk menyampaikan buah pemikiran mereka melalui forum diskusi bedah film yang tengah berjalan usai nonton bareng.
Teo, Fay dan Keisha menggaris bawahi bahwa gender memiliki cakupan yang luas, tidak hanya sekadar berbicara soal konsep feminisme saja. Melalui film Hidden Figures, mereka membahas lebih jauh tentang tiga gelombang gerakan feminisme, yakni hak pilih perempuan, kesetaraan dan hak-hak sipil, serta intersexionally sebagai topik yang minoritas dan marjinal.
Menurut mereka, peran laki-laki dalam film tersebut adalah sebagai kelompok ally atau sekutu, yaitu kelompok yang mendukung kemajuan suatu kelompok lain yang merasa terpinggirkan. Mereka menuturkan bahwa laki-laki dalam film tersebut berperan penting dalam memberikan dukungan sebagai suatu bentuk rasa empati, sehingga film ini dinilai sebagai film inklusif pro perempuan (bachdeltes).
Uniknya, film ini ternyata tidak hanya membahas tentang perjuangan kesetaraan gender saja, melainkan juga memperlihatkan banyak sekali permasalahan ras. Melalui adanya hal tersebut, peserta diskusi mulai belajar mengenal Hukum Jim Crow, yaitu undang-undang segregasi rasial yang diresmikan oleh badan-badan legislatif di kawasan selatan Amerika Serikat pada akhir abad ke-19.
Sebagai penutup, para pemantik diskusi bedah film menekankan pentingnya keseimbangan antara equality dan equity, di mana kita harus mampu memberikan hak yang sama kepada orang lain dan senantiasa menjunjung tinggi inklusivitas. Gerakan kesetaraan gender dapat dimulai dari hal-hal yang sederhana, di samping itu kajian gender tidak hanya mempelajari tentang perspektif perempuan saja, melainkan juga melibatkan peran laki-laki dalam mewujudkan kesetaraan gender.
"Saya tumbuh dengan paradigma yang membenci salah satu suku dengan anggapan mereka adalah suku yang pelit, serakah, dan lain-lain. Akan tetapi hal tersebut merupakan hal yang salah dan tak dapat dibenarkan. Jika kita ingin mengubah hal tersebut, tentu kita sebagai individu harus memiliki keberanian untuk menyuarakan," tutup Raya, salah satu peserta diskusi PODIUM UNESA Vol. 4 [astr, 2024].
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA