Dr. Nugrahaeni Prananingrum Ungkap Paradigma Baru Public Relations di Era Digital
ikom.fisipol.unesa.ac.id., Surabaya — Program Mobilitas Akademik Prodi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) kembali menghadirkan Kelas Praktisi pada Jumat, 24 Oktober 2025. Kegiatan yang berlangsung di Ruang Sidang Lt. 2 - I8 FISIPOL ini menghadirkan Asep Sugiarto, S.IK., M. Si., akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Jakarta dan aktif sebagai Humas UNJ beserta Dr. E. Nugrahaeni Prananingrum, M.Si., akademisi Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Jakarta, dengan topik pembahasan Transformasi Public Relations di Era Digital.
Dalam sesi ini, mengupas tuntas bagaimana transformasi Public Relations yang tidak hanya berfungsi sebagai penyampai informasi satu arah, namun telah menjadi komunikasi dua arah yang berlangsung secara real-time. Berdasarkan materi yang disampaikan, pergeseran tersebut menjadi tanda adanya perubahan komunikasi dari model one-to-many menjadi many-to-many yang lebih dinamis.
Hal ini dibuktikan dengan adanya media massa seperti televisi, radio, dan surat kabar yang bertransformasi ke platform digital seperti media sosial, blog, dan website. Audiens tidak lagi menjadi penerima informasi yang pasif, melainkan aktif berpartisipasi dengan memberikan opini, komentar, hingga membuat konten tandingan (user-generated content) yang memperkaya interaksi publik.
Peserta diajak memahami bagaimana teknologi memegang peran penting dalam PR digital, termasuk pemanfaatan Big Data sebagai segmentasi audiens berdasarkan pada minat, perilaku online, dan lokasi. Materi juga membahas tentang peran Artificial Intelligence (AI) sebagai analisis sentimen, chatbot layanan publik, hingga rekomendasi strategi konten. Penggunaan automation tools juga penting, seperti Hootsuite, Buffer, dan Sprinklr sebagai alat untuk menjadwalkan konten, memonitor percakapan, dan merespons secara cepat.
Dalam kelas praktisi ini juga dibahas beberapa keunggulan digital PR yang lain, termasuk kecepatan penyebaran informasi yang dapat viral dalam hitungan menit, serta kemudahan interaksi di mana audiens bisa langsung memberikan tanggapan dan berdialog dengan penyelenggara PR. Selain itu, setiap aktivitas digital bisa diukur melalui metrik seperti klik, share, impression, dan engagement, sehingga efektivitas kampanye dapat dianalisis secara akurat.
Hal yang menjadi sorotan dalam kelas kali ini adalah tentang strategi penting dalam PR, seperti manajemen reputasi online (Online Reputation Management), pengelolaan hubungan dengan influencer dan Key Opinion Leader (KOL), serta pembinaan komunitas online melalui forum dan grup media sosial sebagai sarana interaksi dan loyalitas audiens. PR juga harus menguasai teknik SEO (Searching Engine Optimization) agar konten artikel dapat mudah ditemukan di Google.
Masa depan PR akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan teknologi komunikasi dan ekspektasi publik. AI akan mempermudah otomatisasi pembuatan konten dan analisis potensi krisis. Virtual influencer sebagai avatar digital juga mulai digunakan sebagai sarana promosi dengan kendali penuh dari brand. Hyper-targeting and Personalization menjadi kunci, meski harus diimbangi dengan etika agar tidak terkesan manipulatif. Selain itu, publik semakin menuntut brand untuk mengusung nilai sosial dan lingkungan dalam komunikasi mereka, menuntut konsistensi dan tidak boleh sekedar greenwashing.
Melalui kelas praktisi ini, mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA mendapatkan wawasan baru tentang gambaran menyeluruh sebagai seorang PR yang harus mampu beradaptasi untuk mengoptimalkan peranannya dalam ekosistem digital yang terus berubah.
Penulis : Nur Mazidah Agustin Ningsih, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA