Implementasi Komunikasi Pendidikan Perkuat Budaya Lokal di Museum Keraton Sumenep
Ikom.unesa.fisipol.ac.id.,
Sumenep – Mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi menerapkan praktik komunikasi
pendidikan melalui wisata edukasi budaya di Museum Keraton Sumenep. Kegiatan
ini menjadi bagian dari upaya penguatan budaya lokal sekaligus mendukung
pendidikan inklusif dan berkelanjutan.
Mahasiswa Ilmu Komunikasi yang
menjalani program magang di Dinas Kebudayaan, Kepemudaan, Olahraga, dan
Pariwisata (Disbudporapar) Kabupaten Sumenep, dengan penempatan di Museum
Keraton Sumenep, mulai mengimplementasikan keilmuan komunikasi secara langsung
dalam dunia kerja. Salah satu fokus praktik tersebut berada pada bidang
komunikasi pendidikan.
Salah satu peserta magang, Wanda,
mahasiswi yang menjalani masa magang sejak Agustus hingga Desember 2025,
terlibat aktif dalam kegiatan pendidikan berbasis budaya melalui pendampingan
wisata edukasi bagi siswa Taman Kanak-Kanak. Program ini bertujuan menciptakan
proses pembelajaran yang komunikatif, interaktif, dan menyenangkan sebagai
bentuk penanaman nilai budaya lokal sejak usia dini.
Selama kegiatan berlangsung,
Wanda berperan dalam penyampaian informasi budaya serta pengelolaan komunikasi
antara pengajar, pihak sekolah, dan pengelola museum. Peran ini mencerminkan
praktik komunikasi pendidikan yang mendukung akses pembelajaran berkualitas
bagi anak-anak, sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan di bidang
pendidikan.
Pada sesi pengenalan alat musik tradisional gamelan, siswa tidak hanya diperkenalkan secara visual, tetapi juga diajak berpartisipasi langsung. Pendekatan partisipatif ini dinilai efektif dalam meningkatkan keberanian, rasa ingin tahu, serta kemampuan komunikasi anak sejak usia dini.
(Siswa TK mengikuti wisata edukasi gamelan di Museum Keraton Sumenep. Dok/Anawanda)
Selain itu, Wanda turut
mendampingi siswa dalam sesi pengenalan pakaian adat dan sejarah kerajaan
melalui kunjungan ke ruang kereta kencana. Informasi disampaikan dengan bahasa
yang sederhana dan ramah anak, sehingga proses komunikasi berlangsung lebih akrab,
inklusif, dan mudah dipahami.
Menurut Wanda, komunikasi
pendidikan menuntut penyampaian pesan yang jelas, empatik, serta disesuaikan
dengan karakter audiens. “Magang ini membuat saya sadar bahwa komunikasi
memiliki peran penting dalam membentuk pemahaman dan karakter anak, bukan hanya
sekadar memberikan informasi,” ungkapnya.
Melalui program magang ini,
mahasiswa tidak hanya mengasah kompetensi akademik dan keterampilan praktis,
tetapi juga berkontribusi pada pelestarian budaya lokal dan pembangunan sosial
budaya. Sinergi antara institusi pendidikan, pemerintah daerah, dan museum
diharapkan mampu menciptakan model pendidikan berbasis budaya yang
berkelanjutan dan berdampak jangka panjang.
Penulis: Anawanda Zulkarnain (Ilmu
Komunikasi, 2023)
Editor: Putri Nailah Amelia, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komuniaski
UNESA