Jejak yang Terhapus Jadi Sorotan SIFS, Singkap Isu Manipulasi dan Ingatan Terhapus
ikom.fisipol.unesa.ac.id., Film Jejak yang Terhapus karya mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA sukses menyita perhatian dalam sesi pemutaran di Srawung International Film Screening (SIFS) 2025. Disutradarai oleh Zefanya Vincentia, film thriller misteri ini menyingkap sisi gelap ruang akademik yang kerap dipersepsikan steril dari praktik manipulatif dan relasi kuasa.
Film berdurasi 10 menit ini diproduseri oleh Ulfatuzzahra, dengan naskah ditulis oleh Velita Maya Andini. Bertindak sebagai asisten sutradara adalah Auriel Maulidya, DOP sekaligus editor oleh M. Bummy Rizaldhi, art director oleh Putri Aulia Wulandari, serta I.B.M Surya Pramudita sebagai soundman. Film ini diperkuat jajaran pemain: Aliefian Adirama (Niko), Daniya Sarah Arisandi (Nadia), Wildan Bustomi (Kevin), Agnes Setiawan (Kayla), Naufal Rafi Putra Mulyana (Pak Agas), dan Mathew Febrian Maulana (Adrian).
Mengangkat misteri hilangnya seorang mahasiswa di tengah praktik manipulasi ingatan dan kekuasaan kampus, Jejak yang Terhapus membangun atmosfer suram melalui tone warna biru tua, abu-abu, dan hijau gelap, dipadukan musik gesek minimalis berdentum rendah yang memicu kecemasan. “Tone dingin itu kami pilih untuk mencerminkan misteri kehilangan yang tak kasatmata sekaligus menegangkan,” ungkap Zefanya Vincentia, sang sutradara.
Ulfatuzzahra selaku produser mengaku genre thriller misteri adalah ketertarikan personalnya. “Genre seperti ini selalu membawa dopamin lebih buat audiens. Ceritanya bikin penasaran sekaligus bisa jadi sarana menyampaikan kritik sosial yang kuat,” ujarnya. Ia juga menegaskan pentingnya peran produser menjaga keseimbangan konsep cerita yang cukup kompleks. “Kami berdiskusi intens soal alur, mana yang perlu dikunci, mana yang ditampilkan clear. Script breakdown jadi proses krusial agar tiap adegan terjaga continuity dan relevansinya,” tambahnya.
Secara artistik, film ini menyisipkan simbol-simbol visual sebagai petunjuk tersembunyi bagi penonton. Zefanya bersama art director Putri Aulia Wulandari menyiapkan properti dan kostum untuk memperkuat karakterisasi. “Seperti outfit Nadia yang dominan warna gelap, maroon dan hitam. Itu menggambarkan sisi misterius dan kuasa yang tersembunyi,” jelas Zefanya.
Proses reading dan pendalaman karakter juga dilakukan intensif. Sutradara menjelaskan, “Sebelum reading, saya sudah jelaskan poin-poin utama cerita dan deskripsi karakter. Saat reading tinggal fokus memperdalam emosinya.” Kolaborasi erat pun terjadi antara sutradara, DOP, dan sound designer demi menghasilkan nuansa visual dan audio yang selaras dengan ritme cerita.

Lebih dari sekadar tugas mata kuliah, Jejak yang Terhapus diharapkan mampu menjadi refleksi kritis atas fenomena hierarki kuasa di lingkungan akademik. “Banyak institusi dipersepsikan ideal, padahal relasi kuasa di dalamnya bisa jadi ruang subur praktik manipulatif yang sulit terdeteksi,” tutur Zefanya.
Ulfatuzzahra pun berharap film ini bisa memantik diskusi lebih luas. “Saya ingin audiens tidak sekadar terhibur, tapi juga menyadari bahwa di balik citra baik sebuah lembaga, kebenaran bisa saja dikaburkan oleh yang berkuasa,” tegasnya.
Jejak yang Terhapus membuktikan bahwa film mahasiswa tak hanya soal tugas akademik, tetapi bisa menjadi alat perubahan sosial lewat narasi yang kritis, estetis, dan berdampak.
Reporter: Zakariya Putra Soekarno, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA