Kisah OCD dalam Repetisi (2025), Mahasiswa Ilkom UNESA Tawarkan Visual yang Mengoyak
ikom.fisipol.unesa.ac.id., Film psychological thriller berjudul Repetisi (2025) menjadi salah satu suguhan paling menarik dalam rangkaian Srawung International Film Screening (SIFS) 2025. Mengangkat tema tentang realitas yang retak dan ilusi yang kian menelan logika, film ini menghadirkan kisah tentang seorang pemuda bernama Reza yang harus berhadapan dengan gangguan obsesif kompulsif (OCD) yang perlahan mengacaukan hidupnya.
Film berdurasi 17 menit ini diproduksi oleh Manda Dwi Agustin, dengan naskah yang ditulis oleh Al Vania Agustin, serta disutradarai oleh Rifqi Khairan. Proses penggarapan film turut melibatkan sejumlah mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA dari kelompok 2 kelas 2023 Multimedia A sebagai kru produksi.
Al Vania Agustin juga merangkap sebagai asisten sutradara (astrada), sementara Bima Ramadhan bertanggung jawab sebagai Director of Photography (DOP) sekaligus Gaffer. Departemen kamera dipegang oleh Daniel Gabriel yang juga merangkap sebagai editor bersama Bima. Daniel turut menangani tata suara untuk film ini.
Di lini artistik, Ishfa Wahyu dipercaya sebagai Art Director, Risya Dinda menangani Wardrobe, serta Chindy Septianingrum di posisi Make Up Artist. Film ini dibintangi oleh Zihan Haliza, Brian Wisnu, dan Sahrul Maulana yang sukses membawakan karakter-karakter dalam cerita dengan intensitas emosional yang kuat.
Dalam wawancara bersama produser, Manda menyebut bahwa ketertarikannya terhadap konsep film ini berawal dari ide ceritanya yang unik. Ia mengaku cukup menyukai genre semacam ini dan merasa terpanggil untuk terlibat karena tema yang diangkat jarang dibahas di lingkungan kampus. Manda menjelaskan bahwa untuk menerjemahkan konsep abstrak yang sarat simbol, ia bersama penulis dan sutradara banyak berdiskusi, melakukan riset tentang OCD, hingga mempelajari makna simbol-simbol yang muncul di sepanjang film.
“Pastinya kami ngobrol bareng, riset simbol-simbol, dan pelajari sifat-sifat orang yang mengalami OCD. Karena kalau nggak paham, bisa salah kaprah dan filmnya nggak sampai pesannya,” ujar Manda.
Tantangan terbesar selama produksi, lanjutnya, justru datang dari soal teknis. Mulai dari lokasi syuting yang tak sesuai ekspektasi hingga persoalan anggaran yang terbatas membuat proses syuting beberapa kali harus mengalami retake. Manda pun mengaku harus pintar-pintar memanfaatkan peralatan yang ada agar tetap bisa mewujudkan konsep yang sudah disepakati bersama tim.
Sementara itu, sang sutradara Rifqi Khairan menuturkan bahwa film ini lahir dari inspirasi personal. Ia pernah cukup lama berteman dengan seseorang pengidap OCD, dan pengalaman itu membekas hingga membawanya ke gagasan tentang pengulangan rutinitas yang mengikat sekaligus menyiksa. Menurutnya, penderita OCD kerap merasa terganggu ketika hal-hal di sekelilingnya tidak berjalan sesuai kebiasaan, bahkan sampai menyakiti diri sendiri.
“Dari situ aku yakin cerita ini layak divisualisasikan. Film ini bukan cuma soal gangguan mental, tapi tentang ketakutan manusia saat tidak bisa mengendalikan realitasnya sendiri,” jelas Rifqi.

Ia menambahkan, untuk membangun tensi psikologis dalam film, dirinya banyak mengambil referensi dari fakta penderita OCD, mulai dari kebiasaan berulang hingga konsekuensi emosional saat rutinitas terganggu. Proses pencarian talent yang bisa memerankan karakter Reza pun menjadi tantangan tersendiri. Beruntung, kata Rifqi, para aktor dalam film ini cukup mudah diarahkan dan mampu menjiwai karakter dengan baik.
Dari segi visual, Rifqi menyisipkan simbol angka tujuh yang berulang di beberapa adegan, seperti jam digital, jumlah cuci tangan, hingga langkah kaki ke kamar mandi. Angka ini dipilih karena dipercaya sebagai simbol kesucian, sesuatu yang juga diyakini pengidap OCD saat merasa dirinya bersih. Untuk menciptakan suasana disturbing, editor film memadukan suara asli dengan efek audio khusus yang mampu mengganggu telinga penonton, menyesuaikan ketegangan yang dibangun di tiap adegan.
Film ini ditutup dengan pesan personal dari Rifqi, yang ditujukan untuk para pejuang OCD. Ia mengingatkan bahwa perjuangan melawan pikiran obsesif bukanlah perkara sepele, dan masyarakat perlu lebih peduli, bukan malah menjauhi atau menertawakan.
“Mungkin hari-hari kalian terasa berat, tapi kalian masih bertahan. Itu sebuah keberanian luar biasa,” pungkas Rifqi.
Reporter: Zakariya Putra Soekarno, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA