Malima: Pitutur Peteng, Kritik Sosial Mahasiswa UNESA Soal Dosa-Dosa Anak Muda
ikom.fisipol.unesa.ac.id., Srawung International Film Screening (SIFS) 2025 kembali menjadi panggung bagi karya sinematik mahasiswa Universitas Negeri Surabaya (UNESA). Salah satu film yang mencuri perhatian pada sesi pemutaran kali ini adalah Malima: Pitutur Peteng, sebuah film pendek produksi mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA dari kelompok 4 Kelas Multimedia B 2023.
Disutradarai oleh Evan Achmad Arlian, film berdurasi belasan menit ini mengangkat tema Malima, lima larangan besar dalam budaya Jawa: madon (selingkuh), madat (narkoba), maling (mencuri), main (berjudi), dan mabuk. Melalui karakter utama bernama Bima, film ini menampilkan potret anak muda yang tanpa rasa bersalah terjerumus ke dalam lima dosa tersebut.
Produser film, Hyoga Aditya Shaputra, menuturkan bahwa keresahan terhadap fenomena sosial di lingkungan sekitar menjadi alasan kuat di balik lahirnya film ini. “Saya melihat banyak di antara teman-teman kami yang kerap kali melakukan salah satu dari larangan Malima, tanpa disadari. Film ini jadi ruang refleksi moral untuk kami dan juga penonton muda lainnya,” ujarnya.
Dalam proses kreatifnya, Evan selaku sutradara menekankan pendekatan realistis tanpa menggurui. “Saya ingin Malima menjadi cermin, bukan penghakiman. Film ini memperlihatkan keseharian anak muda seperti membentak orang tua, berkata kasar pada teman, atau larut dalam pergaulan bebas. Ketika divisualisasikan, penonton bisa merasakan bahwa hal-hal itu sebenarnya tidak pantas dilakukan, tanpa perlu saya katakan langsung,” ungkap Evan.
Secara visual, nuansa kelam atau peteng diwujudkan melalui atmosfer gelap dan teknik pengambilan gambar minim dialog, fokus pada gestur dan suasana. Evan sempat merencanakan tiap dosa diberi warna simbolik, namun karena keterbatasan, nuansa puncak dosa ditampilkan melalui adegan Bima dihantui bayangan kakaknya di kegelapan.
Tak hanya berbicara soal moralitas, Malima: Pitutur Peteng juga mengusung pesan tentang pentingnya hadir bagi teman yang terjerumus dalam lingkaran buruk. “Kadang orang terjerumus karena tak punya siapa-siapa. Kami ingin menyampaikan bahwa jangan jauhi mereka, tapi dampingi, supaya mereka masih punya alasan untuk keluar dari situasi buruknya,” tambah Hyoga.

Film ini diperkuat oleh Rizky Maulana Firdaus, Ahmad Shandy Mustika, dan Mohammad Dhani Firdause. Sementara di balik layar, kru film terdiri dari mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA MM B 2023 seperti Hera Tena Pramudiana (penulis naskah), Nabilah Zalfaa (Art Director), Daiva Fachrezzy Wirananda (DOP & Editor), Haris Fauza Hamdallah (Soundman), serta Muhammad Nurma Al Jabar (Runner & Gaffer).
Melalui Malima: Pitutur Peteng, mahasiswa UNESA membuktikan bahwa karya film mahasiswa bisa menjadi medium edukasi sosial yang relevan, kritis, sekaligus kental nilai budaya lokal.
“Semoga film ini dapat menjadi bahan renungan bahwa dosa bukan sekadar salah atau benar, tapi tentang kesadaran, siklus, dan keberanian keluar dari jeratan,” pungkas Evan.
Reporter: Zakariya Putra Soekarno, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA