Pengalaman Global Mahasiswa Ikom UNESA dalam Program Cultural Exchange di Kazakhstan
ikom.fisipol.unesa.ac.id., Kokshetau, Kazakhstan — Mahasiswa
Prodi Ilmu Komunikasi UNESA, Muhammad Athallah Naufal M.Z., berkesempatan
mengikuti program pertukaran budaya Internasional di Kazakhstan selama dua
pekan. Program Cultural Exchange ini diselenggarakan oleh
Universitas Negeri Surabaya dan Abay Myrzakhmetov Kokshetau University (AMKU).
Kegiatan ini menjadi pengalaman internasional pertama Athallah dan memberikan
banyak pembelajaran serta mengubah cara pandangnya terhadap keberagaman.
Eksplorasi Budaya dan Pengalaman Pertama
Sebelum
tiba di Kokshetau, perjalanan di awali dengan kunjungan ke Kota Astana, ibu
kota Kazakhstan yang penuh dengan arsitektur modern. Mahasiswa peserta program
mengunjungi ikon-ikon kota seperti Menara Bayterek dan Khan Shatyr, yang
menggambarkan kemajuan arsitektur dan penuh makna simbolik.
Selama
satu minggu di kampus AMKU, Athallah dan teman-teman mengikuti perkuliahan dan
lokakarya bertema global seperti Leadership Styles, International
Marketing, hingga Conflict and Stress Management dengan
metode pembelajarannya yang interaktif.
“Kami
tidak hanya duduk dan mencatat, tetapi benar-benar diajak berdiskusi langsung
dengan dosen di sana, menyampaikan opini, dan bertukar pandangan tentang
isu-isu dunia,” Ungkapnya.
Selain
kegiatan akademik, peserta juga diajak mengeksplorasi budaya Kazakhstan melalui
kunjungan ke sejumlah museum bersejarah seperti M. Gabdullin Museum,
Local History Museum, dan People’s
Friendship House. Kami juga berkesempatan mendaki
sebuah bukit ikonik di Kokshetau untuk mengikuti acara National
Symbolic of Kazakhstan.
Tak
hanya itu, peserta mahasiswa juga dikenalkan pada kuliner khas Kazakhstan
dengan mencicipi makanan khas Kazakhstan di salah satu restoran lokal. Seperti,
susu kuda fermentasi yang disebut kumis, beshbarmak (hidangan
daging kuda dengan mi lebar), baursak, samsa, kurt, hingga es
krim khas Kokshetau.
Momentum
spiritual juga hadir ketika Athallah berkesempatan menunaikan salat Idul Adha untuk pertama
kali di Kazakhstan. Pelaksanaan
salat dimulai pukul 4 pagi,
jauh lebih pagi dibandingkan di Indonesia. Memberikan pengalaman spiritual
mendalam tentang syukur dan kebersamaan dalam suasana yang sangat berbeda.
International Summer Camp di Burabay
Memasuki
minggu kedua, kegiatan berlanjut di resort kawasan Burabay,
yang dikenal sebagai “Swiss-nya Kazakhstan”.
Pada International Summer Camp ini, mahasiswa dari Indonesia
berinteraksi dengan peserta dari berbagai negara seperti Rusia, Armenia, dan
tentu saja Kazakhstan. Program ini berfokus pada isu-isu global melalui SDGs
HACK/2025, di mana peserta diajak merancang solusi secara kreatif dan
mempresentasikannya di hadapan peserta lain.
Dengan
kegiatan yang beragam, mulai dari kelas-kelas bertema seni dan keberlanjutan
hingga permainan tim yang memadukan olahraga dan strategi. Seperti Contemporary
Art dan Art Therapy, terdapat suasana yang tenang dan
santai di dalamnya. Semua kegiatan itu mendorong peserta mengenal diri dan
orang lain dengan cara yang unik dan tidak biasa. Peserta membuat mind map
tentang diri sendiri, membentuk emoji berkelompok yang menggambarkan perasaan,
hingga memecahkan tantangan yang harus diselesaikan bersama.
Lebih dari Sekadar Pertukaran Budaya
Pada
malam penutupan, mahasiswa Indonesia tampil membawakan lagu kebangsaan
seperti Kulihat Ibu Pertiwi, Rayuan Pulau Kelapa, Indonesia Pusaka, dan Tanah
Airku. Penampilan ini menjadi bentuk apresiasi terhadap identitas nasional.
Saling
bertukar cendera mata antar peserta menjadi penanda perpisahan yang penuh
kesan. Program ini tidak hanya memperkaya wawasan akademik, tetapi juga
membentuk cara pandang yang lebih inklusif terhadap keberagaman.
“Program
ini memberi saya lebih dari sekadar pengalaman akademik. Saya pulang dengan
pemahaman baru tentang pentingnya keberagaman, empati, dan komunikasi lintas
budaya. Saya belajar bahwa menjadi mahasiswa komunikasi tidak cukup hanya fasih
berbicara, tetapi juga mampu mendengar, merasakan, dan menjalin koneksi dengan
siapa pun, di mana pun,” pungkasnya.
Penulis:
Muhammad Athallah Naufal M.Z. (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor: Yasmin Dian R., 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA