Terima Kasih Ibu Mutiah, Sosok Penuh Ketulusan yang Takkan Terlupakan

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA–Ia berhenti berbicara sesaat. Tangisnya pecah membuat suasana ruangan terdiam penuh haru. Momen mengharukan itu terjadi ketika Mutiah diberikan kesempatan untuk menyampaikan kata perpisahan kepada seluruh rekan dosen di ruang rapat prodi. Hari itu Mutiah hendak berpamitan. Dosen yang mengabdi di Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya sejak tahun 2015 itu akan berpindah tugas di Universitas Sriwijaya, Palembang mulai September 2024 ini.
Danang Tandyonomanu, Ketua Program Studi Ilmu Komunikasi UNESA periode 2013-2023 diberikan kesempatan untuk membuka forum. Danang, sapaan akrabnya, sebagai pendiri Prodi Ilmu Komunikasi sekaligus ketua program studi yang menerima pertama kali kehadiran Mutiah, mengawali dengan kalimat yang menyentuh.
“Dulu saya berpikir kalau saya lah yang pertama kali akan meninggalkan prodi ilmu komunikasi ini. Ternyata tidak, karena Bu Mutiah yang pertama meninggalkan kita. Ternyata ditinggalkan itu nyesek apalagi oleh keluarga kita sendiri,” ungkapnya.
Rangkaian kalimat pertama Danang langsung membawa suasana forum itu menjadi haru biru. Puspita Sari Sukardani, biasa disapa Puspita, menambah keharuan dengan memberikan kesan-kesan selama berinteraksi bersama di prodi Ilmu Komunikasi. Ia merasakan kehilangan mendalam dengan kepindahan Mutiah ke Palembang.
“Relasi di prodi memang selalu naik turun dengan berbagai dinamika. Tetapi kenangan yang kita bangun sangat banyak baik soal perkuliahan, interaksi sehari-hari, termasuk momen-momen menyenangkan bersama,” ucapnya sembari sesekali mengusap air mata.
Selanjutnya ketika Mutiah berhenti bicara karena menangis, rekan-rekan dosen perempuan memberinya semangat. Momen itu coba dicairkan dengan memutar video testimonial dari seluruh dosen beserta mahasiswa. Selepasnya suasana menjadi lebih menyenangkan karena beberapa ungkapan dalam video tak hanya mengharukan tetapi juga menyenangkan.
Momen ditutup dengan doa dari Awang Dharmawan yang mengajak seluruh hadirin di ruangan untuk mendoakan kesuksesan Mutiah dalam perjalanan karir selanjutnya.

Kesan yang mendalam dari Rekan Dosen dan Mahasiswa
Tahun 2015 menjadi awal perjalanan Mutiah, S.Sos., M.I.Kom., di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (saat itu masih Fakultas Ilmu Sosial). Selama hampir satu dekade, ia tak sekadar merupakan dosen biasa, tetapi juga seseorang yang memberi kesan mendalam dan menginspirasi mahasiswa.
Menurut sebagian dosen, Mutiah akan dikenang dengan ketenangan dan kesabarannya. Ia dikenal sebagai dosen yang paling kalem di antara rekan-rekannya. Bagi mahasiswa, Alumnus Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran ini selalu menghadirkan suasana pembelajaran yang tenang dan penuh kehangatan.
Tahun ini, Mutiah mengajukan pindah tugas ke Universitas Sriwijaya (UNSRI), Palembang, kampung halaman tempat ia dilahirkan dan dibesarkan. Kembali ke Palembang artinya Mutiah bisa berkumpul lagi dengan keluarganya. Namun bagi rekan dosen dan mahasiswa, momen ini adalah waktu perpisahan dengan sosok yang telah memberikan banyak kenangan berharga.

Putri Aisyiyah Rachma Dewi mungkin salah satu rekan yang paling mengagumi Mutiah. Putri, sapaan akrabnya, selalu menggarisbawahi bahwa Mutiah memberikan nuansa berbeda di program studi. Ia menyebut Mutiah membawa ketenangan di kala kehebohan dosen-dosen yang lain.
“Hal yang selalu saya ingat dari Mbak Mutiah adalah bagaimana dia bisa mengontrol segala emosi negatif. Saya malah belum pernah melihat beliau marah. Beliau orangnya selalu tersenyum, sabar dan kalem. Doa dan harapan saya untuk Ibu Mutiah, semoga beliau semakin produktif di tempat yang baru, terutama dalam hal pengajaran, penelitian, riset, dan sebagainya. Kapanpun Ibu Mutiah ke Surabaya, ada kami saudara-saudaranya yang selalu menyambut dengan tangan terbuka,” ujar Putri.
Tak hanya soal sifatnya, Mutiah juga dikenal profesional dalam menjalankan tugasnya. Penilaian itu disampaikan Jauhar Wahyuni. Jojo, sapaan akrabnya, menyatakan pengalaman kerja bersama Mutiah juga meninggalkan kesan mendalam.
“Dulu pertama kali saya gabung di UNESA, saya pernah satu tim teaching dengan beliau di mata kuliah Excellent Service and Hospitality. Saya punya ketertarikan yang sama dengan beliau. Sekarang sedih, sih, saya jadi kehilangan partner saya. Tapi di sisi lain saya senang karena Ibu Mutiah akhirnya bisa kumpul lagi dengan keluarganya. Harapannya, meskipun nanti sudah tidak satu instansi, tapi kita tetap bisa menjalin kerjasama,” ungkapnya.
Bagi mahasiswa bimbingan, Mutiah lebih dari sekadar dosen. Rinda Meilda Cahyani, mahasiswa angkatan 2020, mengungkapkan rasa terima kasihnya atas bimbingan yang telah diterima selama ini.
“Terima kasih Ibu Mutiah atas bimbingannya selama ini, mulai dari awal hingga saya bisa menyelesaikan sidang akhir saya. Semoga di tempat yang baru, Ibu Mutiah selalu dilancarkan segala urusannya,” ungkapnya.
Ucapan serupa juga datang dari Marsa Faaiza Hardiyanti, mahasiswa bimbingannya angkatan 2019. Marsa mengungkap bahwa Mutiah selama ini selalu membimbing seraya mengingatkannya untuk mengejar kelulusan meski ia tengah sibuk bekerja.
“Terima kasih atas bimbingan Ibu Mutiah hingga saya bisa lulus kuliah. Semoga ilmu yang Ibu berikan ke saya bisa saya sebarluaskan nantinya. Semoga Ibu sehat selalu, lancar rezekinya, dan selalu diberikan kesehatan. Semoga Ibu Mutiah sukses selalu di Palembang,” ucapnya.
Mutiah telah menorehkan pelajaran penting bahwa kebersamaan dan bimbingan yang tulus akan selalu melekat di hati. Meskipun jarak memisahkan, sosok beliau akan terus hidup dalam setiap langkah yang diambil oleh mahasiswa dan rekan-rekan dosen di Ilmu Komunikasi UNESA [erz, 2024].

***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA