Apa yang Bisa Dipelajari dari Film? Ternyata Lebih dari Sekadar Sinematografi
ikom.fisipol.unesa.ac.id. - Film merupakan sebuah media komunikasi audio visual yang tidak hanya memberikan hiburan tetapi juga memberikan informasi bagi para penonton. Menurut Roland Barthes (1977), film merupakan teks yang terbuka, yang menyarankan bahwa makna film dapat diinterpretasikan dan didekonstruksi secara berbeda.
Sedangkan menurut The Oxford Dictionary of Film Studies, film
adalah sebuah rekaman gambar bergerak yang dihasilkan melalui pemutaran serangkaian gambar
yang direkam dalam urutan cepat.
Dalam film menggabungkan berbagai elemen untuk dapat menghasilkan
pengalaman yang imersif untuk para penonton. Salah satu elemen yang berperan
dalam mempengaruhi pengalaman penonton secara mendalam adalah sinematografi.
Sinematografi berperan sebagai seni visual untuk memberikan estetika gambar,
sudut pandang, dan suasana melalui kamera yang didukung oleh musik sebagai
elemen auditori yang membangun suasana hati.
Di balik sinematografi yang menawan, film juga menyimpan berbagai
pelajaran berharga yang dapat diambil manfaatnya oleh penonton, yakni tentang
komunikasi, budaya, dinamika sosial, dan nilai-nilai moral yang relevan dengan
kehidupan sehari-hari.
Tidak hanya itu, film juga dapat menjadi alat pendidikan yang kuat,
seperti yang dijelaskan dalam Indonesian Psychological Journal (Aditomo
& Ayuningtyas, 2008) karena merangsang kemampuan untuk berpikir kritis dan
melibatkan emosi penonton.
Film juga dapat dijadikan sebagai cerminan dari budaya lokal itu
sendiri, seperti film Laskar Pelangi yang termasuk salah satu film populer di
Indonesia. Dalam film laskar Pelangi menyoroti tentang kehidupan masyarakat di
Bangka Belitung untuk memperkuat identitas lokal dengan menyampaikan pesan
universal tentang pentingnya pendidikan.
Tidak sedikit film yang menggambarkan tentang dinamika komunikasi dalam
kelompok, seperti dalam komunitas atau tim kerja. Film sering menunjukkan
bagaimana konflik akibat komunikasi buruk dapat diatasi melalui keterbukaan dan
kerja sama.
Seperti yang digambarkan dalam Film The Intern (2015) yang
menggambarkan kolaborasi antar generasi antara Robert De Niro seorang pensiunan
dan CEO muda Anne Hathaway. Adegan di mana mereka berdua saling bertukar ide
yang mencerminkan prinsip inisiatif dari Henri Fayol, yang mendorong karyawan
untuk berkontribusi aktif dalam organisasi. Komunikasi dua arah dalam film ini
membantu tim mencapai tujuan bersama, menunjukkan pentingnya mendengarkan dan
berbagi ide.
Sedangkan menurut Shabrifa, Ketua LSO Kofiekom, mengungkapkan bahwa
beberapa hal dapat diambil dan dipelajari dari sebuah film, diantaranya dapat
mengasah kreatifitas dan imajinasi diri, terutama sebagai penonton.
Dalam film dapat ditemukan berbagai konsep pemikiran baru tentang
bagaimana penggambaran dunia dan seisinya yang tidak pernah terbayangkan
sebelumnya. Film juga dapat menjadi media maupun wadah penyampaian kritik
sosial dan politik secara halus.
Referensi:
- Aditomo, A.,
& Ayuningtyas, A. (2008). Apakah hubungan antara orientasi belajar dan
prestasi akademik tergantung pada konteks. Indonesian Psychological
Journal, 24, 56–68.
- Daniels, Tom D,
Spiker, Barry K, Papa, Michael J. (1997). Perspective on Organizational
Communication 4th Ed. USA: McGraw-Hill.
- Kurniawan.
(2001) Semiologi Roland Barthes. Yogyakarta: Yayasan Indonesia.
- Saputra, H.,
& Anwar, C. R. (2019). Digital dan pengantar
sinematografi: buku ajar yang bercerita. Jurnal Komunikasi hasil
pemikiran dan penelitian, 5 (1), 232 - 246.
- Sitepu, S. Y.
(2011). Paradigma dalam Teori Organisasi dan Implikasinya pada Komunikasi
Organisasi. Jurnal Al-Azhar Indonesia: Seri Pranata Sosial, 1(2),
83–91.
Penulis : Nur Mazidah Agustin N., 2025
Cover: Hamima Okamtiyan, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA