Cerita Rafa Afifa Maharani Mengenal Pemahaman Lintas Budaya Melalui UGMA Batch 2 ke China

ikom.fish.unesa.ac.id, SURABAYA–Belajar menjadi manusia yang selalu rendah hati dengan memahami sudut pandang orang lain merupakan alasan Rafa Afifa Maharani, mahasiswa Prodi S1 Ilmu Komunikasi yang menjadi salah satu dari empat belas mahasiswa UNESA yang berkesempatan mengikuti program pertukaran mahasiswa ke Tiongkok.
Mahasiswa yang kerap disapa Rafa itu menjalani program pertukaran mahasiswa di Zhengzhou Information Engineering Vocational College (ZIEVC) melalui program UNESA Global Mobility Awards (UGMA) 2024 Batch 2. Kegiatan ini berlangsung selama 10 hari, yakni pada tanggal 12-22 Juni 2024 dan difokuskan pada pengenalan bahasa dan budaya Tiongkok.
Rafa menceritakan mengenai persiapan apa saja yang ia lakukan untuk mengikuti program UGMA Batch 2 ini. Hal pertama yang ia lakukan saat mendaftar adalah mempersiapkan esai atau surat motivasi.
“Karena kampus yang aku apply memiliki fokus di bidang engineering, jadi esai atau surat motivasi yang kubuat harus berhubungan dengan kampus yang kutuju. Kebetulan kemarin surat motivasiku berhubungan dengan algoritma sosial media karena aku anak Ilmu Komunikasi,” ucapnya.

Selama 10 hari menjalani kegiatan di Tiongkok, Rafa mempelajari banyak hal mengenai bahasa dan budaya Tiongkok. Kegiatan yang dilakukan meliputi kelas bahasa, tea experience course, make up and traditional clothes course, martial arts (wushu dan tai chi), juga permainan tradisional.
“Kelas favorit selama di sana yaitu ketika tea experience. Kita mahasiswa belajar mulai dari sejarahnya, cara membuat, tata caranya, dan juga dipersilakan mencoba jenis teh yang berbeda-beda. Tea experience kalau di Tiongkok menjadi bagian dari tradisi untuk menyambut tamu,” jelasnya.
Tak hanya itu, Rafa juga menceritakan pengalaman tak terlupakan selama ia mengikuti program di Tiongkok, yaitu ia dan teman-teman mahasiswa lainnya harus merayakan hari raya Idul Adha jauh dari rumah dan keluarga. “Kegiatan kita waktu itu bertepatan dengan hari raya Idul Adha, jadi kami harus melaksanakan ibadah sendiri di tempat asrama bersama-sama,” ungkap Rafa.
Selain pengalamannya merayakan hari raya jauh dari rumah dan keluarga, Rafa juga menceritakan pengalaman menantang lainnya. “Hal paling menantang selama di sana adalah kendala bahasa dan makanan. Karena kita muslim, kita harus benar-benar teliti untuk memilih makanan. Di kampus tidak ada tempat untuk ibadah, jadi kalau mau ibadah hanya bisa dilakukan di asrama,” ucapnya.
Mengenai perbedaan budaya, menurutnya budaya masyarakat di Tiongkok membuatnya sedikit kaget karena mereka selalu ekstra dalam membuat penyambutan. Mahasiswa diberikan berbagai macam fasilitas dan bantuan, baik dari dosen maupun volunteer.

“Hal yang paling berkesan adalah ketika international gala atau semacam closing ceremony. Di sana kita sama-sama menyanyikan lagu 'Tanah Airku' dan kita mahasiswa Indonesia memakai kebaya dan pakaian tradisional. Hal itu menurutku cukup membuat terharu,” ungkapnya.
Menurut Rafa, program yang ia jalani ini penting untuk diikuti dan menurutnya program ini merupakan kesempatan yang tepat supaya mahasiswa dapat merasakan pengalaman belajar dan hidup di luar negeri.
“Menurutku ini tentang bagaimana kita bisa belajar memaknai, memahami dan mengerti orang lain dengan perspektif, budaya, dan bahasa yang berbeda, hingga menjadi suatu hal yang menantang untukku dan selalu ingin kucoba,” jelasnya [erz, 2024].
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA