Smart Branding untuk Pariwisata Berkelanjutan, 3 Mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA Ikuti Studi Independen di Citiasia

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA―Tiga mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA terpilih menjalani program Studi Independen Bersertifikat (SIB) Batch 7 di Citiasia Inc. mulai 9 September hingga 31 Desember 2024. Citiasia mengangkat topik 'Smart Branding for Sustainability Tourism' melalui kelas virtual sebanyak lima puluh pertemuan dengan mengundang narasumber kredibel dan berpengalaman di bidangnya.
Afrian Ardiansyah, Alifia Priyayitha Hapsari dan Alhafiz Sabian Nufus merupakan mahasiswa Ilmu Komunikasi UNESA angkatan 2022. Mereka ingin mempelajari branding kota secara mendalam sebab dalam proses implementasinya pasti berbeda dengan branding produk. Dilatarbelakangi oleh tujuan tersebut, mereka memilih Citiasia sebagai mitra Studi Independen.
Citiasia Inc. merupakan konsultan yang berfokus pada implementasi smart city di Indonesia dan melayani institusi publik serta bisnis untuk akselerasi kinerja berkelanjutan yang berkontribusi pada nilai-nilai sosial.
Dalam pelaksanaannya selama satu semester, terdapat enam kursus yang wajib dihadiri, yakni Konsep Dasar dan Solusi Smart City, Konsep Pariwisata Berkelanjutan, Konsep dan Strategi Pemasaran dan Diplomasi Kota, Strategi Peningkatan Kualitas Branding Kota melalui Penataan Wajah dan Citra Kota (City Image), Peningkatan Ekosistem Bisnis dan Investasi Melalui Strategi City Branding, serta Project Management and Soft Skill.
Secara keseluruhan, materi yang diajarkan adalah mengenai pengelolaan sebuah kota cerdas melalui pemberdayaan masyarakatnya, pemanfaatan teknologi dalam fasilitas layanan publik, dan branding potensi kota tersebut. Ketika branding sebuah kota berhasil, maka dapat mendorong penanaman modal atau investasi, serta mampu meningkatkan kesejahteraan hidup penduduknya. Hal ini dapat diraih dengan cara diplomasi kota bersama daerah atau negara lain.
Kegiatan ini mewajibkan mahasiswa untuk membuat proyek akhir berupa brand book dan video interaktif yang dikerjakan secara berkelompok. Setiap kelompok dibekali oleh mentor yang berasal dari Citiasia.
Afrian, Alifia dan Bian berada di kelompok yang berbeda dan memperoleh mentor yang berbeda pula. Setiap kelompok dipersilakan untuk memilih salah satu daerah dan membuat brand book-nya. Brand book meliputi rebranding logo, analisis ekosistem bisnis, serta wajah kotanya, tetapi tetap difokuskan terhadap pariwisata berkelanjutan.
Afrian memilih Kabupaten Sidoarjo sebagai objek penugasan karena menurutnya banyak anggota kelompoknya yang berdomisili di Sidoarjo dan sekitarnya, sehinga mempermudah mereka dalam melakukan analisis city branding. Sejauh ini, Afrian dan timnya telah menggali berbagai informasi mengenai Kabupaten Sidoarjo. Mulai dari analisis SWOT, destinasi wisata kuliner, destinasi wisata alam, desa wisata keberlanjutan, hingga kawasan industri.
Salah satu peluang terbesar yang dapat dimanfaatkan untuk meningkatkan city branding Sidoarjo adalah pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). UMKM memiliki potensi unik yang dapat dijadikan ciri khas kota, seperti produk kerajinan dan kuliner lokal yang menarik bagi wisatawan.
Dengan berbagai potensi tersebut, Afrian dan kelompoknya berharap dapat merancang strategi branding yang tidak hanya menarik, tetapi juga dapat berkontribusi pada pengembangan ekonomi berkelanjutan di Sidoarjo. Pengembangan UMKM ini juga diharapkan dapat mendukung pemberdayaan masyarakat setempat dan memperkuat identitas kota, sehingga dapat memperkenalkan Sidoarjo sebagai destinasi wisata kepada khalayak luas.
Di sisi lain, Alifia dan Bian memilih Kota Surabaya. Alifia memilih Kota Pahlawan tersebut karena kemudahannya memperoleh data dan mayoritas anggota kelompoknya berdomisili di Surabaya. Selain itu, ia juga tertarik dengan program yang diinisiasi oleh Pemerintah Kota Surabaya untuk memajukan ekosistem bisnis.
Dalam brand book yang dibuat bersama kelompoknya, Alifa mengangkat pelaku bisnis yang mengutamakan lingkungan keberlanjutan. Dengan ini, ia pun lebih aware terhadap pengelolaan limbah yang dihasilkan dari industri.
Bian menambahkan, Kota Surabaya juga merupakan kota bersejarah yang memiliki berbagai kebudayaan yang harus ditonjolkan. Maka dari itu, Surabaya memerlukan branding kota dengan memajukan berbagai wisata bersejarahnya, seperti Kampung Peneleh, Museum Pendidikan, Museum 10 November, dan Rumah H. O. S Tjokroaminoto.
“Dikarenakan banyak anggota kelompok dari daerah luar Jawa, kami membagi jobdesk mereka dalam pembuatan logo Surabaya. Sedangkan yang di Surabaya, kami mengerjakan video project branding Kota Surabaya,” jelas Bian.
Banyak sekali manfaat yang diperoleh, di antaranya adalah pengetahuan baru tentang teknik marketing dan branding kota, pengelolaan pariwisata berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat di sekitar tempat pariwisata, serta cara mengunggulkan potensi daerah untuk memaksimalkan branding.
Kegiatan Studi Independen Bersertifikat di Citiasia berjalan dengan baik didampingi oleh narasumber yang interaktif, mentor yang responsif, serta DPP yang komunikatif. Mereka berharap bisa mengimplementasikan ilmu yang diperoleh untuk mewujudkan ekosistem wisata dan bisnis yang berkelanjutan di Indonesia.
***
Reporter: Arfian dkk, SIB Citiasia 2024
Editor: astr, 2024
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA