Cinlok dalam Dunia Perfilman: Apakah Bisa Tetap Profesional?
ikom.fisipol.unesa.ac.id. - Cinta lokasi (cinlok) adalah fenomena yang sering terjadi di dunia produksi film, baik di industri profesional maupun dalam proyek mahasiswa. Intensitas interaksi, tekanan kerja, serta keterlibatan emosional dalam proses produksi menjadi pemicu utama munculnya perasaan romantis di antara kru dan pemain.
Cinlok dalam Perspektif Psikologi dan Sosiologi
Fenomena cinlok dapat dijelaskan melalui berbagai teori psikologi sosial.
Salah satu konsep yang relevan adalah mere exposure effect, yang
dikemukakan oleh Zajonc (1968). Teori ini menyatakan bahwa semakin sering
seseorang terpapar pada individu tertentu, semakin besar kemungkinan mereka
mengembangkan perasaan terhadap orang tersebut. Dalam konteks produksi film,
kru dan pemain menghabiskan waktu yang panjang bersama dalam situasi kerja yang
penuh tekanan dan kreativitas, sehingga ikatan emosional yang terbentuk lebih
kuat dibandingkan hubungan kerja biasa (Smith et al., 2020).
Dari perspektif sosiologi, teori social exchange menjelaskan bagaimana hubungan interpersonal berkembang berdasarkan pertukaran sosial yang saling menguntungkan (Blau, 1964). Dalam dunia produksi film, individu yang mengalami tekanan kerja cenderung saling mendukung, menciptakan kedekatan emosional yang berpotensi berkembang menjadi hubungan romantis.
Selain itu, teori role congruity (Eagly & Karau, 2002) menunjukkan bahwa individu cenderung menyesuaikan peran sosial mereka dengan ekspektasi di lingkungan sekitar. Dalam produksi film, di mana banyak adegan romantis diperankan, aktor dan aktris sering kali terbawa perasaan yang kemudian berkembang menjadi hubungan nyata.
Dinamika Cinlok dalam Produksi Film
Dalam praktiknya, cinlok seringkali muncul dalam produksi film mahasiswa,
termasuk di komunitas Kofiekom. Ketua Departemen PSDM Kofiekom 2023/2024,
Fauzyaur Rahma Trisnani, menegaskan bahwa cinlok bukanlah hal baru dan dapat
diterima selama profesionalisme tetap dijaga.
"Saya rasa ini bukan hal yang asing dalam produksi film. Yang terpenting adalah tetap menjaga profesionalisme. Jangan sampai hubungan pribadi mengganggu jalannya produksi," ujarnya.
Namun, cinlok juga dapat menimbulkan tantangan. Jika hubungan berakhir dengan konflik, komunikasi antar anggota tim bisa terganggu. Sebuah penelitian oleh Rachmawati dan Andriansyah (2022) menemukan bahwa hubungan romantis di tempat kerja dapat berdampak pada dinamika tim, baik dalam bentuk peningkatan motivasi kerja maupun konflik interpersonal yang menghambat produktivitas.
Seorang mahasiswa yang mengalami cinlok dalam produksi film berbagi pengalamannya:
"Awalnya, kami merasa semakin termotivasi karena bisa bekerja bareng.
Tapi setelah ada masalah dalam hubungan, komunikasi kerja jadi lebih sulit.
Rasanya seperti ada dinding yang menghalangi koordinasi," katanya.
Selain itu, ada pula risiko bias dalam pengambilan keputusan. Sutradara atau produser yang menjalin hubungan dengan anggota tim produksi mungkin secara tidak sadar memberikan perlakuan khusus. Hal ini menciptakan ketidakadilan di antara anggota tim lainnya (Putri & Rachmawati, 2018). Oleh karena itu, beberapa perusahaan film profesional menerapkan kebijakan khusus terkait hubungan asmara di tempat kerja untuk menjaga objektivitas dan profesionalisme.
Penelitian akademis menunjukkan bahwa hubungan romantis di lingkungan kerja
dapat memiliki dampak positif maupun negatif tergantung pada bagaimana hubungan
tersebut dikelola. Menurut Suhartini (2021), hubungan asmara di tempat kerja
dapat meningkatkan kebahagiaan individu, yang berdampak positif terhadap
motivasi kerja dan kepuasan dalam menjalankan tugas.
Seorang mahasiswa lain yang pernah mengalami cinlok menyatakan:
"Ketika hubungan kami masih baik-baik saja, semuanya terasa lebih
menyenangkan. Tapi setelah putus, aku merasa harus berusaha ekstra untuk tetap
profesional dan tidak membawa masalah pribadi ke dalam kerja tim."
Di sisi lain, jika hubungan tersebut berakhir dengan konflik, dampak negatifnya bisa signifikan. Penelitian menunjukkan bahwa ketegangan akibat hubungan pribadi yang tidak dikelola dengan baik dapat menyebabkan komunikasi menjadi tidak efektif, menurunkan efisiensi tim, serta menciptakan ketidaknyamanan bagi anggota tim lainnya (Rachmawati & Andriyansah, 2022).
Dalam lingkungan produksi yang serba cepat dan penuh tekanan, pengelolaan hubungan interpersonal menjadi kunci utama agar cinlok tidak mengganggu produktivitas. Beberapa produksi film bahkan menerapkan aturan informal agar hubungan romantis tidak berdampak negatif terhadap dinamika tim.
Strategi Mengelola Cinlok dalam Produksi
Film
Mengingat bahwa cinlok adalah fenomena yang sulit dihindari, strategi
tertentu dapat diterapkan untuk memastikan hubungan asmara di tempat kerja
tidak mengganggu profesionalisme. Beberapa langkah yang dapat diterapkan antara
lain:
- Menjaga
Profesionalisme –
Memisahkan urusan pribadi dan pekerjaan menjadi kunci utama agar hubungan
asmara tidak menghambat jalannya produksi.
- Komunikasi
Terbuka – Jika
terjadi permasalahan dalam hubungan, penting bagi individu yang terlibat
untuk tetap berkomunikasi secara terbuka dan menjaga koordinasi kerja.
- Kebijakan
Tim yang Jelas –
Beberapa perusahaan film menerapkan kebijakan khusus mengenai hubungan
asmara di lingkungan kerja guna mencegah konflik kepentingan dan menjaga
dinamika tim tetap sehat (Putri & Rachmawati, 2018).
- Dukungan Sosial dari Tim – Dalam kasus tertentu, dukungan dari rekan kerja dapat membantu individu yang mengalami cinlok untuk tetap fokus dan menjalankan tugasnya secara profesional.
Cinlok dalam produksi film adalah fenomena yang kompleks dengan berbagai implikasi bagi dinamika tim. Hubungan romantis dapat meningkatkan kebahagiaan dan motivasi kerja, tetapi juga berpotensi menimbulkan konflik jika tidak dikelola dengan baik. Profesionalisme tetap menjadi faktor utama dalam menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan tanggung jawab kerja. Oleh karena itu, penting bagi tim produksi untuk memahami bagaimana hubungan interpersonal dapat mempengaruhi efektivitas kerja. Dengan pendekatan yang tepat, cinlok dapat dikelola agar tidak mengganggu jalannya produksi, melainkan justru memperkuat kolaborasi tim.
- Blau, P. M. (1964). Exchange and power in social life. Wiley.
- Eagly, A. H., & Karau, S. J. (2002). Role congruity theory of prejudice toward female leaders. Psychological Review, 109(3), 573–598.
- Putri, A. P., & Rachmawati, A. (2018). Hubungan antara kebahagiaan di tempat kerja dengan keterikatan karyawan. Jurnal Empati, 7(2), 123-130.
- Rachmawati, A., & Andriyansah, A. (2022). Faktor-faktor terjadinya asmara di tempat kerja dan dampaknya terhadap kinerja. Jurnal Bimbingan dan Teknologi, 1(1), 1-10.
- Smith, J. A., Brown, K., & Taylor, R. (2020). Workplace relationships and productivity: A psychological perspective. Routledge.
- Suhartini, T. (2021). Dampak keseimbangan kehidupan kerja dan kehidupan pribadi terhadap kepuasan kerja dan kinerja karyawan. Jurnal Branding, 3(1), 45-60.
- Zajonc, R. B. (1968). Attitudinal effects of mere exposure. Journal of Personality and Social Psychology, 9(2), 1-27.
Penulis: Zakariya Putra Soekarno, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA