Toto Kromo dan Seni Berbicara: Jangan Sampai Kata-kata Membawa Petaka
ikom.fisipol.unesa.ac.id – Film pendek Noto Kromo karya mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (UNESA) hadir bukan hanya sebagai tontonan visual yang menegangkan, tetapi juga medium refleksi yang lembut sekaligus menusuk. Ia bukan sekadar hiburan, melainkan ajakan untuk merenung: seberapa sering kita berbicara tanpa memikirkan akibatnya?
Dengan alur sederhana yang dibungkus nuansa horor, film ini menampilkan
kisah seorang tokoh yang secara tidak sadar mengucapkan kalimat sembrono saat
adzan berkumandang. Dari peristiwa kecil itu, suasana berubah drastis menjadi
mencekam, menghadirkan konsekuensi yang menguji keberanian sekaligus kesadaran
penonton. Di balik teror, terselip pesan moral relevan di tengah budaya
komunikasi instan: berbicara bukan hanya menyusun bunyi, melainkan menjaga
kehidupan.
Bahasa yang
Menyatukan atau Menyulut Petaka
Dalam falsafah Jawa, noto kromo bukan hanya soal sopan santun. Ia
mencerminkan cara hidup yang menekankan pemilihan kata, penempatan tutur, serta
penghormatan pada konteks ruang dan lawan bicara. Bahasa diibaratkan pedang
bermata dua: mampu merajut persatuan sekaligus menimbulkan perpecahan.
Pesan itu divisualisasikan dengan jelas melalui film Noto Kromo. Satu kalimat yang terucap sembarangan memantik rangkaian kejadian tak terkendali. Fenomena ini sejatinya bukan hanya milik dunia fiksi. Media sosial telah berulang kali menunjukkan bagaimana komentar kasar atau candaan sensitif bisa berujung pada konflik besar.
Proses pengambilan gambar. Dok/Tim Noto Kromo
Layaknya anak panah, kata-kata yang sudah terlepas tak akan bisa kembali.
Ia bisa menjadi pembawa kasih atau meninggalkan luka yang lama membekas.
Kesadaran inilah yang sering hilang di tengah derasnya percakapan digital,
ketika kecepatan membalas dianggap lebih penting daripada ketepatan makna.
Belajar dari
Kepekaan Bertutur
Seni berbicara tidak berhenti pada retorika atau memenangkan perdebatan. Ia mencakup kepekaan membaca suasana, kecermatan memilih diksi, serta kebijaksanaan mempertimbangkan dampak ucapan. Kesalahan kecil dalam bertutur, apalagi dalam ranah budaya dan kepercayaan, berpotensi menimbulkan kesalahpahaman panjang.
Adegan di dalam kelas. Dok/Tim Noto Kromo
Tokoh utama Noto Kromo menjadi gambaran nyata dari kegagalan
memahami seni bertutur. Ia tak hanya menjadi korban peristiwa gaib, tetapi juga
korban kelalaiannya sendiri. Seperti halnya seorang pemahat kayu yang
membutuhkan kesabaran, berbicara pun menuntut pengendalian diri. Satu kalimat
yang salah bisa merusak keseluruhan harmoni.
Di tengah gempuran notifikasi dan percakapan instan, kita kerap
mengorbankan kedalaman demi kecepatan. Film ini seakan menjadi pengingat untuk
menahan diri, memikirkan makna sebelum berucap, serta mengutamakan kualitas
tutur dibanding kuantitas percakapan.
Ajakan untuk
Menjaga Ucapan
Meski tak semua orang akan menghadapi pengalaman mistis seperti dalam Noto
Kromo, setiap orang pasti pernah merasakan dampak ucapan yang tergesa. Kata
bisa meruntuhkan kepercayaan, memutus hubungan, bahkan menyalakan konflik yang
sulit dipadamkan.
Di era digital, menghidupkan kembali semangat noto kromo terasa
mendesak. Pikirkan sebelum bicara, saring sebelum membagikan, kendalikan
sebelum mengetik. Dunia yang saling terhubung membutuhkan bukan hanya orang
cerdas berargumen, tetapi juga orang bijak dalam menjaga tutur.
Karya seperti Noto Kromo menegaskan bahwa film dapat menjadi
cermin sosial yang kuat. Ia tidak hanya menghadirkan cerita, melainkan juga
menanamkan pesan yang melekat: kehati-hatian dalam bertutur bukanlah kelemahan,
tetapi bukti kedewasaan. Di tengah banjir informasi, seni berbicara menjadi
benteng terakhir yang menjaga martabat, persaudaraan, dan keselamatan diri.
Sumber
Referensi:
- Novelia, K. D.,
Indriani, M. S., & Susiari Tantri, A. A. (2023). Struktur dan
kebahasaan teks opini pada media massa online Balipost.com serta
relevansinya terhadap pembelajaran menulis teks editorial dalam Bahasa
Indonesia. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
- Hasanah, S. U., Nisa,
K., Hasanah, U., & Nurzafira, I. (2024). Analisis teks editorial dan
opini pada surat kabar Kompas.id. Jurnal Buana Kata: Pendidikan,
Bahasa, dan Ilmu Komunikasi, 1(1), 29–34.
- Anggraini, N., Duku,
S., & Jawasi. (2024). Analisis semiotika pesan moral dalam film Menjelang
Maghrib karya Helfi Kardit. Jurnal Ilmu Komunikasi dan Sosial
Politik, 1(4), 676–688.
Penulis: Putri Nailah Amelia, 2025 | Cover: Hamima Okamtiyan, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA