Latihan Berkomunikasi yang Baik di Bulan Ramadan
Ramadan bukan
hanya momentum untuk menahan lapar dan dahaga, tetapi juga ruang latihan
spiritual untuk memperbaiki cara kita berkomunikasi. Dalam tradisi Islam, Nabi Muhammad menganjurkan umatnya untuk menjaga lisan dan berkata
baik atau diam: “Barang
siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata baik
atau diam.”
Pesan ini terasa
semakin relevan di era digital, ketika komunikasi tidak hanya berlangsung
secara lisan, tetapi juga melalui jari-jari yang mengetik di media sosial. Di bulan Ramadan, setiap ucapan dan tulisan semestinya
lebih terjaga. Kita diajak untuk menahan amarah, menghindari ujaran kebencian,
tidak nyinyir, serta menjauhi komentar yang merendahkan orang lain. Puasa
melatih pengendalian diri, dan pengendalian diri itu seharusnya tercermin dalam
cara kita berbicara maupun menulis. Sebab, kata-kata memiliki daya yang besar:
ia bisa menenangkan, tetapi juga bisa melukai.
Dalam konteks
media sosial, Ramadan dapat menjadi momentum refleksi atas jejak digital kita.
Apakah unggahan kita membawa manfaat? Apakah komentar yang kita tulis
memperkeruh suasana? Atau justru memperkuat silaturahmi dan menyebarkan energi
positif? Berkomunikasi yang baik berarti menghadirkan empati, memilih diksi
yang santun, serta memastikan informasi yang dibagikan tidak menebar kebencian
atau prasangka.
Latihan ini tidak
mudah, tetapi Ramadan menyediakan atmosfer yang mendukung. Lingkungan sosial
cenderung lebih religius, konten-konten kebaikan lebih banyak bermunculan, dan
kesadaran spiritual meningkat. Situasi ini menjadi peluang untuk membangun
kebiasaan komunikasi yang sehat (baik dalam
percakapan sehari-hari, diskusi publik, maupun produksi konten digital).
Harapannya,
kebiasaan baik ini tidak berhenti ketika Ramadan usai. Jika selama sebulan kita
mampu menahan diri dari kata-kata yang sia-sia dan menyakitkan, maka selepas
Ramadan pun kita semestinya mampu melanjutkannya. Dengan demikian, Ramadan
benar-benar menjadi madrasah komunikasi: tempat kita belajar menjadikan lisan
dan tulisan sebagai sarana kebaikan yang memberi manfaat bagi sesama.