Tidak Berkata Jujur
Ketika
dua orang yang berbeda latar belakang budaya sedang berkomunikasi, tidak
berkata jujur dapat dimaknai sebagai cara untuk menghindari munculnya konflik.
Orang yang sedang berkomunikasi tersebut tidak berbohong, hanya menghindari
berkata apa adanya sebagai langkah awal untuk menjaga agar situasi yang sedang
berlangsung selama interaksi tidak menjadi canggung.
Tidak
berkata jujur dapat diartikan tidak mengatakan yang sebenarnya, dapat juga
diartikan berkata bohong. Tidak berkata jujur tidak serta merta dapat diartikan
berbohong karena tidak berkata jujur dapat berarti menyembunyikan kebenaran. Di
sisi lain, berbohong dapat langsung dimaknai sebagai bagian dari tidak berkata
jujur. Hal ini dapat dilihat dalam peristiwa dugaan perkataan bernada rasisme
yang dilakukan oleh salah satu pemain Klub Sepakbola Benfica terhadap salah
satu pemain Klub Sepakbola Real Madrid pada Selasa (17/2/2026) waktu setempat.
Gianluca
Prestianni (pemain Benfica) diduga mengatakan sesuatu yang mengarah pada ucapan
rasis kepada Vinicius Junior sembari menutup mulutnya dengan kaos warna merah
yang ia pakai. Sorot kamera tidak dapat merekam gerak bibir Gianluca
Prestianni, tapi hanya dapat merekam reaksi Vinicus Junior yang langsung
melayangkan protes ke wasit. Wasit kemudian mengaktifkan protokol anti-rasisme
dengan menghentikan pertandingan sepakbola selama sepuluh menit. Peristiwa
tersebut lantas memicu suasana yang memanas di dalam dan luar lapangan.
Publik
tidak tahu apa yang sebenanya dikatakan oleh Gianluca Prestianni kepada
Vinicius Junior hari itu, yang jelas Gianluca Prestianni membantah telah
mengatakan sesauatu yang mengarah pada rasisme. Publik tetap mengecam
tindakannya dengan menyebutnya sebagai tindakan pengecut karena tidak berkata jujur.
Setelah
pertandingan, publik penyuka sepakbola serta pelatih, pengamat, dan pemain
turut berkomentar tentang peristiwa tersebut. Berdasarkan atas beberapa
komentar, terdapat dua hal utama yang menjadi perhatian publik. Pertama, bahwa
rasisme dan tindakan lain yang melecehkan kemanusiaan tidak boleh ada dalam
olah raga apapun, termasuk sepakbola. Kedua, cara berkomunikasi dengan menutup
mulut dengan kaos untuk menutupi kebenaran merupakan tindakan pengecut.
Asosiasi
Sepakbola Uni Eropa (UEFA) melakukan investigasi atas peristiwa tersebut.
Apabila terbukti bersalah, pemain dan klub terancam menerima sanksi berat dari
UEFA.
Tidak
berkata jujur ternyata dapat mendatangkan bahaya bagi yang melakukannya. Hal
ini seharusnya dapat dijadikan sebagai cerminan bagi kita umat Islam, khususnya
di bulan puasa seperti saat ini. Bulan puasa dapat menjadi sarana untuk
mendekatkan diri dengan Tuhan dengan memperbanyak tindakan-tindakan baik serta
menahan hawa nafsu, menahan diri untuk tidak berkata yang dapat menyakiti orang
lain dan tidak berkata jujur.