Lisanmu, Bencanamu
Bulan Ramadhan
mengajarkan pada kita untuk menjaga lisan yang dimana bisa dianalogikan seperti
melakukan mitigasi bencana. Keduanya sama-sama berkaitan dengan upaya
pencegahan sebelum dampak buruk benar-benar terjadi. Dalam konteks kebencanaan,
masyarakat di daerah rawan seperti sekitar Gunung Semeru atau Gunung Merapi
memahami bahwa mitigasi bukan pilihan, melainkan kebutuhan. Tanpa mitigasi yang
baik (seperti edukasi, sistem peringatan dini, dan jalur evakuasi) bencana
dapat menimbulkan korban jiwa dan kerugian besar.
Begitu pula dengan lisan.
Kata-kata yang terucap tanpa kendali dapat melukai, memicu konflik, bahkan
merusak relasi sosial yang telah lama dibangun. Jika bencana alam meruntuhkan
bangunan fisik, maka lisan yang tak terjaga dapat meruntuhkan bangunan
kepercayaan dan persaudaraan. Keduanya sama-sama berbahaya jika diabaikan.
Mitigasi bencana
mengajarkan pentingnya kesadaran, kewaspadaan, dan tanggung jawab kolektif.
Masyarakat dilatih untuk tidak panik, tidak menyebarkan informasi palsu, serta
saling membantu saat situasi darurat. Prinsip yang sama relevan dalam menjaga
lisan. Kita perlu menyaring sebelum berbicara, mempertimbangkan dampaknya, dan
menahan diri dari ujaran kebencian, fitnah, maupun kata-kata kasar.
Jika mitigasi tidak
dilakukan dengan baik, dampaknya bukan hanya dirasakan individu, tetapi juga
komunitas secara luas. Demikian pula, lisan yang tidak dijaga bukan hanya
mencederai diri sendiri (karena menumbuhkan kebiasaan buruk dan dampak sosial)
tetapi juga melukai orang lain. Relasi retak, suasana menjadi tidak kondusif,
dan konflik mudah membesar.
Karena itu, menjaga lisan dan menjaga lingkungan sejatinya adalah dua sisi dari kesadaran yang sama: tanggung jawab sebagai manusia. Kita dituntut untuk merawat apa yang ada dalam diri (kata-kata dan sikap), serta apa yang ada di luar diri (alam dan lingkungan). Dengan begitu, kita bukan hanya menghindari bencana, tetapi juga membangun kehidupan yang lebih aman, damai, dan bermartabat.