Magang di Coaction Indonesia, Fay Kembangkan Kemampuan Berjejaring dan Riset

ikom.fish.unesa.ac.id, SURABAYA―Ifah Fairuz Nurlaily, atau yang kerap disapa Fay, mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UNESA mendapat kesempatan untuk magang dan memperbanyak pengalaman di luar kampus. Sesuai dengan minat yang ditekuninya, Fay berkesempatan magang di Kota Jakarta.
Bukan organisasi sembarangan, mahasiswa angkatan 2021 ini berkesempatan untuk magang di Coaction Indonesia/Yayasan Koaksi Indonesia. Koaksi merupakan sebuah organisasi non-profit atau Civil Society Organization (CSO) yang bergerak di bidang advokasi green jobs, isu iklim dan transisi energi.
Fay yang menekuni peminatan Communication and Development (Comdev) ini menjelaskan tugas-tugas apa saja yang harus ia lakukan di sana. Koaksi berkomitmen untuk berkontribusi bagi pembangunan berkelanjutan di seluruh wilayah Nusantara.
“Kami di Koaksi mengadvokasi terkait green jobs, renewable energy dan climate change. Kemudian secara aktif melakukan advokasi kebijakan kepada pemerintah dan melakukan kampanye publik. Lalu ada juga pengembangan kolaborasi strategis dengan berbagai mitra, seperti pembuat kebijakan, sektor swasta, industri, dan masih banyak lagi,” jelasnya.
Selaras dengan peminatan yang ia tekuni di kampus, yakni Comdev, di Koaksi Fay bekerja di bagian Communication and Campaign. Di sana ia fokus untuk membangun jejaring baru dan melakukan riset.
“Aku ikut membangun jaringan dengan cara turut hadir dalam forum CSO lain. Harus selalu update dan riset terhadap isu utama juga. Kemudian aku mengelola kampanye digital melalui media sosial X dan LinkedIn Koaksi Indonesia, serta mengelola website resmi Koaksi melalui pembuatan artikel,” ujarnya.
Fay menjelaskan, tempat magang yang ia pilih saat ini sesuai dengan apa yang dipelajarinya di Ilmu Komunikasi. Mulai dari advokasi, berjejaring, kampanye, dan marketing sosial. “Aku banyak belajar dan kemampuanku banyak berkembang di sini. Kemampuan dalam mengelola digital campaign, komunikasi, dan berjejaring jadi meningkat,” jelasnya.
Mendapat kesempatan untuk magang di kota terpadat di Indonesia, Fay mengaku kesulitan yang dihadapinya diakibatkan oleh padatnya masyarakat yang bekerja di sana. “Aku harus naik transportasi umum yang padet banget, berdesakan dengan banyak orang, ditambah polusi udara di Jakarta yang sangat parah bikin aku kesulitan,” keluhnya.
Namun, kesulitan itu tak menghalanginya untuk mengembangkan diri. Sebab menurutnya, tempat magangnya kini memberinya banyak pengalaman baru dan jejaring yang penting untuk masa depannya kelak.
“Aku dapat relasi yang banyak banget selama di sini. Aku ketemu sama CSO lain yang sudah besar namanya dan aku jadi punya banyak akses untuk berjejaring. Nantinya aku jadi bisa merancang program sosial di Surabaya dan mengambil data riset serta jejaring dari tempatku magang sekarang,” ucap Fay [Erz, 2024].
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA