Teknik Persuasif AIDA dalam Kepenulisan
ikom.fisipol.unesa.ac.id. - Dalam menyampaikan informasi, teknik persuasif sangat penting digunakan karena mampu mempengaruhi pikiran dan perilaku pembaca. Penulis juga dapat menyusun pesan yang terarah dan strategis sehingga menghasilkan ajakan bertindak (call to action) yang efektif. Salah satu model yang paling banyak digunakan yakni AIDA (Attention, Interest, Desire, dan Action)
Model AIDA pertama kali dikembangkan oleh Elias St. Elmo Lewis, seorang pelopor dunia periklanan, pada tahun 1898. Model ini masih digunakan hingga sekarang karena tahapan-tahapannya sesuai dengan cara berpikir manusia dalam mengambil keputusan. Menurut Kotler & Keller (2016), AIDA merupakan kerangka komunikasi yang menggambarkan urutan pesan yang diterima konsumen, yakni perhatian, minat, keinginan, dan tindakan.
Perhatian (Attention)
Tahap pertama dari teknik AIDA adalah menarik perhatian audiens agar mereka mau melanjutkan membaca. Dalam kepenulisan, perhatian bisa dibangkitkan melalui judul yang kuat, pertanyaan retoris, atau fakta mengejutkan yang relevan dengan kehidupan pembaca. Bagian pembuka ini sangat penting karena menentukan apakah pesan selanjutnya akan dibaca atau diabaikan.
Untuk menarik perhatian secara efektif, penting bagi penulis untuk memahami audiens dengan baik. Mulai dari usia, jenis kelamin, lokasi, perilaku, hingga platform digital yang biasa mereka gunakan. Dengan pemahaman tersebut, informasi yang ditulis dapat disesuaikan agar terasa lebih dekat dan personal. Oleh karena itu, penting untuk memilih kata, gaya bahasa, dan pendekatan yang tepat dengan target audiens.
Penulis dapat langsung menyajikan kalimat pembuka yang singkat namun berdampak. Penggunaan bahasanya juga harus lugas, dan kalimat dapat disusun agar langsung mengarahkan pembaca ke inti persoalan sehingga menciptakan hook yang kuat. Misalnya, “Sudah hemat tapi tetap bokek tiap akhir bulan?” atau “85% orang gagal diet karena satu kebiasaan sepele ini.”
Minat (Interest)
Setelah perhatian berhasil ditangkap, tahap berikutnya adalah membangun minat pembaca terhadap pesan yang disampaikan. Penulis perlu menyajikan informasi yang relevan dan bernilai, seperti manfaat nyata, keunggulan, atau nilai tambah yang membedakan dari pilihan lain.
Ketertarikan atau minat dapat muncul ketika pembaca merasa isi tulisan menyentuh kebutuhannya. Karena itu, penting untuk menyusun isi tulisan secara fokus menggunakan bahasa yang mudah dipahami. Tujuannya agar pembaca terus melanjutkan membaca karena merasa kontennya bermanfaat.
Dalam tahap ini, penulis bisa memperkuat minat pembaca dengan menyisipkan data, fakta, atau testimoni nyata. Informasi tersebut membuat pembaca lebih percaya dan mempertimbangkan isi tulisan secara aktif. Jelaskan juga manfaat secara spesifik, tidak sekadar promosi umum, serta menggunakan kalimat yang lugas dan tidak berputar-putar.
Sebagai contoh, jika membahas diet, penulis bisa menulis “Makan larut malam tanpa disadari memperlambat metabolisme dan mempercepat penambahan berat badan.” Klaim ini dapat diperkuat dengan data, seperti “Penelitian menunjukkan bahwa menghindari makan setelah pukul 8 malam dapat meningkatkan efektivitas diet hingga 60%.” Tambahkan juga contoh nyata, seperti “Dina berhasil turun 4 kg dalam sebulan hanya dengan mengatur jam makan malam.” Informasi konkret seperti ini dapat mendorong pembaca untuk terus menyimak isi tulisan.
Keinginan (Desire)
Setelah pembaca merasa tertarik, langkah berikutnya adalah menumbuhkan keinginan mereka untuk mencoba atau memiliki produk yang ditawarkan. Pada tahap ini, pembaca mulai merasa cocok dan yakin bahwa produk tersebut adalah solusi yang sesuai dengan kebutuhannya.
Tugas penulis adalah memperkuat perasaan itu dengan membangun kesan bahwa produk atau pesan yang disampaikan benar-benar layak dipilih dibandingkan alternatif lain. Keinginan biasanya muncul ketika manfaat utama disampaikan dengan jelas, relevan, dan meyakinkan. Maka, penting untuk menyusun kalimat yang menunjukkan bagaimana produk bisa membuat hidup pembaca jadi lebih mudah.
Untuk menumbuhkan keinginan secara efektif, penulis dapat menonjolkan keunggulan utama yang membedakan produk dari pesaingnya. Misalnya, bisa dengan menyebut jumlah pengguna yang sudah merasakan manfaatnya, menyisipkan testimoni pelanggan, atau menunjukkan hasil nyata yang bisa dibuktikan. Bukti sosial seperti ini membuat pembaca merasa lebih yakin dan cenderung mengambil keputusan.
Contohnya, setelah membahas diet di tahap sebelumnya, kamu bisa menulis “Metode ini sudah digunakan lebih dari 10.000 orang, dan 90% di antaranya berhasil mempertahankan berat badan ideal.” Tambahkan testimoni, seperti “Setelah mencoba metode ini, saya turun 6 kg tanpa harus menyiksa diri.” Kalimat seperti ini tidak hanya informatif, tapi juga dapat membangun kepercayaan pembaca.
Dengan menyampaikan manfaat yang konkret dan relevan, pembaca akan merasa lebih dekat dan yakin bahwa solusi tersebut layak dicoba. Inilah inti dari tahap desire, yakni mengubah ketertarikan menjadi dorongan nyata.
Tindakan (Action)
Tahap terakhir dalam model AIDA adalah mendorong pembaca untuk melakukan tindakan nyata, seperti membeli produk, mengisi formulir, atau mendaftar layanan. Di sinilah, peran Call to Action (CTA) menjadi sangat penting. CTA harus disampaikan secara langsung, jelas, dan mudah dipahami.
Jangan biarkan pembaca bingung atau ragu tentang langkah apa yang harus dilakukan selanjutnya. Kalimat seperti “Coba sekarang secara gratis” atau “Klik di sini untuk mendaftar” bisa menjadi contoh CTA sederhana yang efektif.
Agar CTA lebih menarik, penulis juga bisa menambahkan elemen yang menciptakan urgensi, seperti diskon terbatas atau bonus khusus bagi mereka yang bertindak cepat. Misalnya, “Hanya hari ini, daftar dan dapatkan e-book gratis!” atau “Tersisa 15 slot saja untuk bulan ini.”
Strategi ini membuat pembaca terdorong untuk segera mengambil keputusan karena merasa ada kesempatan yang tidak boleh dilewatkan. Hindari memberi terlalu banyak pilihan, karena justru bisa menunda tindakan. Semakin fokus CTA, semakin tinggi pula peluang konversi.
Selain itu, penulis juga dapat membantu pembaca mengambil tindakan dengan mempermudah prosesnya. Misalnya, sediakan tombol langsung, formulir yang singkat, atau tautan tambahan yang bisa diakses dengan cepat. Penulis juga bisa menyertakan materi pendukung seperti contoh hasil kerja, statistik, atau testimoni terbaru yang menunjukkan kredibilitas.
Semakin praktis dan jelas CTA yang dibuat, semakin besar kemungkinan pembaca akan merespons sesuai harapan. Intinya, buat pembaca merasa mudah, yakin, dan tidak ragu untuk melangkah.
Manfaat Penggunaan AIDA dalam Penulisan
Penggunaan model AIDA dalam kepenulisan memberikan manfaat strategis, terutama ketika pesan yang disampaikan bertujuan untuk membujuk atau mempengaruhi. Dengan mengikuti tahapan Attention, Interest, Desire, dan Action, penulis dapat menyusun pesan yang lebih terstruktur dan sistematis. Alur yang jelas ini memudahkan pembaca dalam memahami inti pesan, karena setiap bagian memiliki fungsi spesifik untuk mengarahkan perhatian, membangun ketertarikan, menumbuhkan keinginan, dan akhirnya mendorong tindakan.
Selain itu, AIDA tidak hanya berfokus pada aspek logis, tetapi juga membangun keterlibatan emosional. Penulis dapat mengkombinasikan fakta dengan sentuhan personal agar pembaca merasa pesan tersebut relevan dan dekat dengan kehidupannya. Pendekatan ini membuat pesan lebih meyakinkan karena tidak sekadar informatif, tetapi juga menyentuh perasaan dan kebutuhan audiens. Hasilnya, pembaca tidak hanya memahami isi tulisan, tapi juga terdorong untuk terlibat lebih jauh.
Dalam dunia pemasaran dan copywriting, efektivitas model AIDA telah dibuktikan melalui berbagai penelitian. Model ini terbukti mampu meningkatkan daya tarik pesan, membangun minat audiens, serta mendorong mereka untuk melakukan tindakan yang diharapkan. Studi oleh Rusmasari et al. (2020) menunjukkan bahwa penerapan AIDA berpengaruh signifikan terhadap keputusan pembelian tiket Asian Games 2018. Penelitian lain oleh Hadiyati (2016) juga menegaskan bahwa kombinasi strategi pemasaran dengan model AIDA dapat meningkatkan keputusan pembelian produk secara online. Hasil ini memperkuat bahwa AIDA bukan hanya teori, tetapi strategi praktis yang terbukti efektif dalam mempengaruhi perilaku konsumen.
Ketika digunakan dengan tepat, teknik ini mampu memperbesar peluang pembaca untuk mengambil tindakan, seperti membeli produk, mendaftar layanan, atau membagikan informasi. Oleh karena itu, AIDA menjadi salah satu pendekatan yang banyak dipakai dalam kampanye promosi, email marketing, artikel blog, hingga tulisan naratif yang bertujuan untuk membujuk.
Referensi:
- Kotler, P., & Keller, K. L. (2016). Marketing Management (15th ed.). Pearson.
- Talent, A. (2025). What Is the AIDA Model? How It Works + Examples. Siegemedia.
- Aulia, H. I. (2023). Pengaruh Daya Tarik Iklan Shopee di YouTube Terhadap Keputusan Pembelian Subscriber Shopee (Skripsi, Program Studi S1 Ilmu Komunikasi, Fakultas Teknologi Informasi dan Komunikasi, Universitas Semarang)
- Rusmasari, Y. R., Adam, M., I., & Widiyanti, M. (2020). Pengaruh iklan berdasarkan konsep AIDA terhadap keputusan pembelian konsumen dalam membeli tiket Asian Games tahun 2018 di Kota Palembang. The Manager Review, 2(2), 1–8.
- Hadiyati, E. (2016). Study of Marketing Mix and AIDA Model to Purchasing On Line Product in Indonesia. British Journal of Marketing Studies, 4(7), 49–62.
Penulis: Alya Nasyanur Fauzia, 2025 | Cover: Hamima Okamtiyan, 2025
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA