Transformasi Digital Berbasis Pemberdayaan: Perguruan Tinggi sebagai Penggerak Indeks Masyarakat Digital Indonesia

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA—Prodi S1 Ilmu Komunikasi UNESA menyelenggarakan Seminar Nasional dengan tema 'Transformasi Digital Berbasis Pemberdayaan Perguruan Tinggi sebagai Penggerak Indeks Masyarakat Digital Indonesia 2024'. Acara ini berlangsung pada hari Jumat, 13 September 2024, pukul 15.00 hingga 17.00 WIB, bertempat di Gedung Srikandi, FISIPOL UNESA.
Seminar ini menghadirkan tiga narasumber yang kompeten di bidangnya, yakni Dr. Eng. Hary Budiarto, M.Kom., IPM, Kepala Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia, Dr. Meithiana Indrasari, S.T., M.M, Chief Executive Regional of ACSB East Java, dan Dr. Anam Miftakhul Huda, S.Kom., M.I.Kom, Koordinator Program Studi Ilmu Komunikasi UNESA.
Acara ini dibuka secara resmi oleh Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL), Dr. Wiwik Sri Utami, M.P, di hadapan ratusan mahasiswa yang hadir dari UNESA, STIKOSA-AWS, dan Universitas Lambung Mangkurat. Dalam sambutannya, Dekan FISIPOL menekankan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendorong peningkatan literasi digital dan pemberdayaan masyarakat di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

Seminar ini bertujuan untuk mendalami bagaimana peran perguruan tinggi dalam mendukung transformasi digital di Indonesia, khususnya dalam meningkatkan indeks masyarakat digital. Transformasi digital yang kuat dianggap sebagai kunci penting untuk mempercepat pembangunan sosial dan ekonomi di era digital ini.
Pada sesi materi, para narasumber menyoroti pentingnya kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah dan sektor industri dalam mendorong inovasi teknologi, memperkuat literasi digital, serta mempersiapkan generasi muda untuk menghadapi tantangan dunia digital yang semakin kompleks.
Dr. Hary menyampaikan bahwa Indeks Masyarakat Digital Indonesia pada tahun 2024 berada di angka 43.34, di mana angka tersebut dinilai kecil dibanding negara tetangga di Asia Tenggara, seperti Singapura. Hal itu terjadi karena distribusi pengetahuan ilmu digital yang tidak merata di Indonesia.
Dalam pemaparannya, Dr. Hary pula menyoroti pentingnya pemberdayaan masyarakat melalui pendidikan digital sebagai salah satu kunci dalam meningkatkan Indeks Masyarakat Digital Indonesia. "Pemberdayaan masyarakat berbasis pendidikan digital di perguruan tinggi sangat penting untuk membangun ekosistem digital yang kuat di Indonesia, terutama di Jawa Timur," ujarnya.
Sementara Dr. Meithiana mengingatkan akan ancaman kejahatan siber yang semakin merajalela seiring dengan berkembangnya teknologi informasi. “Kejahatan siber makin ganas. Bersikap skeptis terhadap informasi yang beredar adalah salah satu cara untuk bertahan di era turbulensi informasi ini,” jelasnya.
Mantan rektor STIKOSA-AWS ini juga menambahkan pentingnya pendidikan dan pelatihan untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia dalam teknologi digital, juga kembali ke track Pancasila dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai pilar digital.
Selanjutnya Dr. Anam menekankan peran media sebagai alat kontrol sosial dalam transformasi digital. "Media harus menjadi penjaga moral dan kontrol sosial di tengah derasnya arus informasi yang tidak selalu dapat dipercaya," ujarnya. Koordinator Prodi Ilmu Komunikasi ini pun juga menambahkan terkait bagaimana seharusnya peran aktif mahasiswa dalam peningkatan literasi digital.

Sebagai Ketua Pelaksana, Dr. Eko Pamuji, M.I.Kom, menyampaikan rasa bangga dan antusiasmenya atas kesuksesan acara ini. “Ilmu komunikasi sangat terkait erat dengan Kementerian Komunikasi dan Informatika, sehingga kehadiran para pakar literasi digital dan komunikasi dari pusat sangat diapresiasi. Materinya benar-benar mendalam dan sangat bermanfaat bagi mahasiswa,” ungkapnya.
Acara ini diharapkan perguruan tinggi dapat semakin berperan aktif dalam mendukung transformasi digital di Indonesia, sehingga tidak hanya mencetak lulusan yang melek teknologi, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat dalam meningkatkan literasi digital.
Melalui seminar ini pula, diharapkan mampu mendorong mahasiswa untuk lebih berperan sebagai agen perubahan yang lebih sadar terhadap pentingnya literasi digital guna memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan global di era revolusi industri 4.0 [karina stikosa, 2024].
***
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA