Balai Kota Surabaya Warisan Budaya dan Bersejarah

ikom.fisipol.unesa.ac.id, Surabaya – Balai Pemuda dibangun oleh pemerintah kolonial Belanda pada awal abad ke-20, bangunan ini awalnya disebut De Simpangsche Societeit dan digunakan sebagai tempat rekreasi eksklusif untuk warga Belanda di Surabaya. Namun, seiring waktu berjalan, setelah kemerdekaan Indonesia, bangunan ini berfungsi sebagai Balai Pemuda, sebuah tempat yang lebih terbuka dan digunakan oleh masyarakat dari berbagai latar belakang dan budaya.
Gedung Balai Pemuda Surabaya mulai dibangun pada tahun 1907. Ide bangunan dibuat oleh arsitek Belanda bernama Westmaes. Lokasinya berada di pusat kota langsung, di pojok Gedung tersebut dimiliki oleh perkumpulan orang Belanda yang disebut "De Simpangsche Sociёteit" yang terletak di Simpang Susun Perwari. Gedung ini dikenal sebagai tempat berkumpul para pemuda dan Yos Sudarso.
Tempat hiburan favorit untuk orang Belanda, untuk pesta, menari, bowling, dan rekreasi. Pada tahun 1929 dibangun bangunan baru di kompleks balai pemuda, karena adanya kekurangan ruang. Bangunan baru ini terletak di sebelah barat gedung lama, dengan desain arsitektur modern yang berbeda dengan bangunan lama. Bangunan baru ini direncanakan oleh firma arsitek Job & Sprey dari Surabaya.
Sebagai tempat kegiatan budaya, Balai Pemuda memiliki banyak acara yang bisa dinikmati oleh masyarakat umum. Mulai dari pameran seni, pertunjukan teater, hingga workshop. Acara-acara ini diadakan untuk memperkenalkan dan menjaga warisan budaya Indonesia. Balai Pemuda di Surabaya merupakan tempat bagi komunitas seni untuk berekspresi dan bertemu, memperlihatkan keberagaman lapisan masyarakat yang berbeda-beda. Ini adalah bukti bahwa Balai Pemuda bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga tempat yang terus berkembang bersama masyarakat Surabaya.
Balai Pemuda Surabaya tetap mempertahankan daya tarik masa lalu dengan arsitektur khas kolonialnya yang megah. Bangunan ini memiliki deretan pilar kuat, lengkungan besar, dan jendela kaca patri berwarna yang menciptakan cahaya indah di dalam ruangan. Di dalamnya, terdapat aula utama dengan lantai marmer yang bersinar dan terasa sejuk. Bau khas bangunan lama menciptakan suasana yang tenang dengan seni lokal dan foto masa lalu yang menghiasi dinding.
“Ini adalah salah satu lokasi yang menjadi tempat semacam klub gitu, klub dansa, kemudian tempat hiburannya orang-orang Eropa lah di saat itu. Kemudian di era perjuangan ini menjadi markasnya PRI, Pemuda Republik Indonesia. Kemudian, disebut Balai Pemuda setahun setelah Indonesia Merdeka yang menjadi seperti sekarang ini,” ungkap Yayan Indrayana, salah satu pengunjung Balai Pemuda.
Pertunjukan tari, musik tradisional, dan teater sering diadakan di ruang besar dengan suasana magis yang diciptakan oleh suara gamelan dan cahaya lampu redup. Taman yang terawat di sekitar bangunan menambah kesegaran dan keindahan alamiah, serta memberikan tempat tenang bagi pengunjung untuk menikmati suasana. Balai Pemuda adalah tempat yang penuh dengan cerita, motivasi, dan semangat persatuan dari berbagai generasi.
Secara interkultural, Balai Pemuda menyatukan berbagai budaya dan lapisan masyarakat. Bangunan ini telah menjadi saksi perjalanan sejarah yang melibatkan pertemuan budaya Barat dan Timur. Arsitekturnya yang bergaya kolonial mengingatkan kita pada masa penjajahan, sementara kegiatan yang dilaksanakan di dalamnya seperti pameran seni tradisional, pertunjukan musik Jawa, hingga diskusi kebudayaan menghidupkan kembali warisan budaya lokal.
Interaksi budaya di Balai Pemuda terlihat dalam bangunan dan kegiatan seni, serta sikap masyarakat Surabaya yang menyambut semua orang. Balai ini menjadi tempat lintas generasi dan budaya, di mana semua merasa terhubung. Bagi masyarakat Jawa, tempat ini memperlihatkan budaya tradisional. Acara di Balai Pemuda mengajarkan nilai toleransi dan kerukunan. Di tengah modernisasi global, tempat ini mengingatkan pentingnya melestarikan keragaman budaya.
*****
Author : Risya Dinda (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor : Zidah, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA