Dampak Teori Standpoint Terhadap Persepsi Diri

ikom.fish.unesa.ac.id―Pada artikel sebelumnya, kita telah membahas konsep dan prinsip utama Teori Standpoint. Di sini kita akan mengulas kembali bagaimana Teori Standpoint dapat mempengaruhi persepsi diri setiap individu. Pada umumnya, teori ini memiliki asumsi bahwa persepsi diri kita dibentuk oleh posisi sosial dan pengalaman hidup kita. Dengan kata lain, cara kita melihat diri kita sendiri dipengaruhi oleh faktor-faktor seperti gender, ras, kelas sosial, agama, dan identitas lainnya.
Berikut adalah beberapa dampak penting dari Teori Standpoint terhadap persepsi diri:
1. Membentuk identitas diri
Teori Standpoint membantu kita untuk memahami siapa diri kita dan di mana kita berada di dunia. Melalui interaksi dengan orang lain dan pengalaman hidup kita, kita dapat mengembangkan pemahaman tentang diri kita sebagai anggota dari kelompok tertentu. Misalnya, mahasiswa yang belajar di jurusan seni dan desain memiliki sudut pandang yang lebih kreatif dan ekspresif dibandingkan mahasiswa jurusan lain. Pengalaman mereka dalam mengeksplorasi ide dan menghasilkan karya seni dapat memperkuat identitas diri mereka sebagai individu yang kreatif dan inovatif.
2. Mempengaruhi interpretasi pengalaman
Teori Standpoint mewarnai cara kita menginterpretasikan pengalaman. Kita cenderung melihat peristiwa dan situasi melalui lensa pengalaman dan identitas kita. Misalnya, seorang individu yang pernah mengalami diskriminasi ras mungkin akan menafsirkan interaksi sehari-hari dengan cara yang berbeda daripada seseorang yang tidak pernah mengalami diskriminasi ras. Individu yang pernah mengalami diskriminasi ras mungkin lebih cenderung melihat tindakan tertentu sebagai rasis, meskipun tindakan tersebut tidak dimaksudkan demikian.
3. Membentuk ekspektasi dan aspirasi
Teori Standpoint dapat memengaruhi ekspektasi dan aspirasi kita untuk masa depan. Kita mungkin membatasi diri kita sendiri berdasarkan apa yang kita yakini sebagai mungkin atau tidak mungkin, di mana hal ini berdasarkan pengalaman dan identitas kita. Misalnya, mahasiswa yang memiliki minat tinggi terhadap aktivisme maka ekspektasi yang dibayangkan adalah ingin menggunakan pendidikan untuk memperjuangkan keadilan sosial dan perubahan politik. Kemudian, aspirasi yang diinginkan adalah untuk mewujudkan perubahan dan memperjuangkan hak-hak asasi.
4. Memicu bias dan prasangka:
Di sisi lain, Teori Standpoint juga dapat mencetuskan bias dan prasangka. Jika kita hanya berinteraksi dengan orang-orang yang mirip dengan kita, mungkin kita akan mengembangkan stereotip dan prasangka tentang kelompok lain. Misalnya, mahasiswa dari kelompok etnis mayoritas mungkin memiliki prasangka terhadap mahasiswa dari kelompok etnis minoritas, begitu pula sebaliknya. Mahasiswa dari budaya tertentu mungkin memiliki stereotip negatif tentang cara belajar atau perilaku mahasiswa dari budaya lain.
Penting untuk diingat bahwa Teori Standpoint bukanlah konsep yang bersifat statis. Sudut pandang kita dapat berubah seiring berjalannya waktu dengan kita mengalami hal-hal baru dan berinteraksi dengan orang yang berbeda. Dengan memahami bagaimana Teori Standpoint dapat mempengaruhi persepsi diri, maka juga dapat membantu kita untuk menjadi lebih sadar diri dan terbuka dengan perspektif orang lain.
Referensi:
Setiawan, I. (2023). Memahami Standpoint Theory. Diakses pada 12 Julis 2023 dari https://widuri.ac.id/memahami-standpoint-theory
***
Author: Cindy Rahma Tsania (PR Apprentice)
Editor: astr, 2024
Cover: Lia (PR Apprentice)
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA