Hok An Kiong: Di Antara Doa, Dupa, dan Keindahan yang Sarat Makna

ikom.fisipol.unesa.ac.id,—Di
salah satu sudut Kota Surabaya, berdiri sebuah klenteng tua yang tak hanya
menjadi tempat ibadah, tetapi juga saksi perjalanan sejarah. Namanya Klenteng
Hok An Kiong, yang berarti 'Istana Kebahagiaan dan Keselamatan.' Sejak didirikan pada abad ke-18, klenteng ini telah menjadi bagian penting
dalam kehidupan masyarakat Tionghoa di Surabaya.
Awalnya, tempat ini hanyalah bangunan kecil tempat para imigran Tionghoa beribadah. Namun, seiring waktu, Hok An Kiong berkembang menjadi pusat spiritual dan budaya. Bayangkan saja, dari generasi ke generasi, orang-orang datang ke sini membawa doa, harapan, dan mungkin juga kegelisahan. Entah mereka mencari petunjuk, mengucap syukur, atau hanya ingin merasakan ketenangan sejenak dari kesibukan sehari-hari.

Mazu: Sang Pelindung di Setiap Perjalanan
Salah satu sosok utama
yang dihormati di klenteng ini adalah Makco (Mazu), dewi pelindung laut dan
pelayaran. Di masa lalu, para pedagang dan pelaut Tionghoa yang menjelajahi
lautan luas selalu memohon perlindungannya sebelum berangkat. Kini, meskipun
zaman sudah berubah, doa yang dipanjatkan di altar Mazu tetap sama: memohon
keselamatan dalam perjalanan, baik perjalanan fisik maupun perjalanan hidup yang
penuh ketidakpastian.
Menariknya, banyak orang
yang datang ke klenteng ini bukan hanya untuk beribadah, tapi juga mencari
jawaban. Ada yang menggunakan batang kayu ramalan, ada pula yang hanya berdiri
diam di depan altar, seakan menunggu sebuah pertanda. Mungkin, di tempat
seperti ini, jawaban terkadang tidak datang dalam bentuk kata-kata, tetapi
dalam ketenangan yang tiba-tiba terasa.
Keindahan yang Sarat Makna
Dari luar, Hok An Kiong
sudah mencuri perhatian dengan arsitektur khas Tionghoa-nya. Warna merah yang
mendominasi bangunan melambangkan keberuntungan dan kebahagiaan, sementara
ukiran naga di atapnya melambangkan kekuatan dan kebijaksanaan. Setiap detail
di klenteng ini punya makna tersendiri, termasuk lentera-lentera besar yang
menggantung di pintu masuk, seakan menyambut siapa pun yang datang dengan
hangat.
Jika berkunjung di malam
hari, suasananya semakin terasa magis. Lentera-lentera menyala, aroma dupa
menyebar pelan di udara, dan di beberapa sudut, orang-orang berdoa dalam
hening. Ada sesuatu yang sulit dijelaskan dengan kata-kata, sebuah kedamaian
yang begitu khas. Mungkin ini yang membuat orang terus kembali, bukan hanya
karena keyakinan, tapi karena tempat ini memang memberikan ruang untuk berhenti
sejenak dan merasakan kehadiran sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.
Pusat Kebudayaan dan Tradisi
Tak hanya sebagai tempat
ibadah, Klenteng Hok An Kiong juga menjadi pusat budaya, terutama saat perayaan
besar seperti Imlek, Cap Go Meh, dan ulang tahun Dewa Mazu. Saat momen itu
tiba, klenteng ini dipenuhi pengunjung yang datang untuk berdoa, menyaksikan
pertunjukan barongsai, atau sekadar menikmati suasana yang meriah.
Pak Bakir, seorang pedagang di sekitar klenteng, pernah berkata, "Setiap tahun, suasana di sini selalu hidup. Orang-orang datang dari berbagai tempat, bukan cuma yang beribadah, tapi juga yang ingin merasakan suasana khas pecinan." Dan memang benar, Hok An Kiong lebih dari sekadar tempat ibadah, ia adalah jembatan antara spiritualitas, budaya, dan kehidupan sosial yang terus berdenyut.
Lebih dari Sekadar Tempat Ibadah
Satu hal yang sering
terlewatkan oleh banyak orang adalah bagaimana klenteng ini juga menyimpan
kekayaan seni. Dari ukiran kayu di pintu dan jendela hingga patung-patung dewa
yang memiliki filosofi mendalam, setiap sudut Hok An Kiong seolah bercerita.
Bagi yang suka memperhatikan detail, berjalan-jalan di dalam klenteng ini
seperti memasuki galeri seni yang sarat akan sejarah dan makna.
Pada akhirnya, Hok An
Kiong bukan hanya tempat untuk beribadah atau melihat bangunan bersejarah. Ia
adalah ruang yang hidup, ruang untuk merasakan, merenung, dan mungkin, menemukan
sesuatu yang selama ini kita cari. Jika suatu hari Anda berkesempatan datang ke
sini, coba luangkan waktu sebentar. Berdiri di depan altar, hirup aroma dupa,
dan biarkan tempat ini berbicara dengan caranya sendiri. Siapa tahu, mungkin
Anda akan pulang dengan hati yang lebih ringan.
***
Penulis: Arifah Kurnia Andhani (Ilmu
Komunikasi, 2023)
Editor: Zakariya Putra
Soekarno, 2025
Laboratorium Ilmu
Komunikasi UNESA