Hotel Majapahit: Tragedi Perobekan Bendera Belanda

ikom.fisipol.unesa.ac.id, Surabaya – Hotel Majapahit berdiri megah di pusat Surabaya merupakan saksi bisu berbagai peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Didirikan pada tahun 1910 oleh keluarga Sarkies, hotel ini awalnya dikenal sebagai Hotel Oranje. Sarkies bersaudara merupakan pengusaha ternama yang mendirikan beberapa hotel mewah di Asia Tenggara, seperti Raffles Hotel di Singapura dan Eastern & Oriental Hotel di Penang.
Hotel Oranje dirancang dengan gaya arsitektur kolonial Eropa yang mewah, menjadikan hotel ini salah satu bangunan paling bergengsi pada masanya. Pada masa Hindia Belanda, hotel ini menjadi simbol status sosial bagi para pejabat dan saudagar kaya. Perjalanan hotel ini tidak lepas dari perubahan yang dibawa oleh dinamika politik dan perang. Ketika Jepang menduduki Indonesia selama Perang Dunia II pada tahun 1942-1945 hotel ini berganti nama menjadi Yamato Hoteru.
Pada saat itu hotel ini dialihfungsikan menjadi markas militer Jepang, yang mencerminkan letak strategisnya di Surabaya. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, hotel ini menjadi saksi salah satu peristiwa paling bersejarah, yaitu Insiden Bendera yang terjadi pada 19 September 1945.
Pada saat itu sejumlah pemuda Surabaya memaksa masuk ke hotel untuk menurunkan bendera Belanda yang masih berkibar. Mereka merobek bagian biru bendera tersebut, meninggalkan warna merah dan putih sebagai simbol kemerdekaan Indonesia. Insiden ini mencerminkan semangat juang pemuda Surabaya dalam mempertahankan kemerdekaan dan menjadi salah satu tonggak penting dalam sejarah perjuangan bangsa.
Setelah era kemerdekaan, hotel ini mengalami beberapa kali pergantian nama dan pengelolaan, namun tetap mempertahankan statusnya sebagai simbol kemewahan. Nama Hotel Majapahit akhirnya dipilih untuk mencerminkan kejayaan Kerajaan Majapahit, yang dikenal sebagai salah satu kerajaan terbesar dalam sejarah Nusantara. Nama ini sekaligus menegaskan simbol identitas nasional dan kebanggaan budaya Indonesia.
Memasuki era modern, Hotel Majapahit mengalami renovasi besar-besaran untuk mempertahankan keindahan arsitektur kolonialnya, sekaligus memperbarui fasilitasnya agar sesuai dengan standar hotel mewah masa kini. Hotel ini sekarang menawarkan berbagai fasilitas kelas dunia, seperti spa, kolam renang, restoran mewah, dan ballroom yang elegan sebagai lokasi paling terkenal untuk acara kenegaraan dan perayaan mewah.
Sebagai salah satu bangunan cagar budaya, Hotel Majapahit tidak hanya menarik wisatawan yang ingin menikmati kemewahan dan kenyamanan, tetapi juga bagi mereka yang ingin merasakan sisa jejak sejarah perjuangan bangsa. Mencampurkan perpaduan antara keindahan arsitektur kolonial dan nilai historis yang mendalam, Hotel Majapahit tetap menjadi salah satu landmark paling ikonik di Surabaya dengan menghubungkan antara masa lalu yang heroik dan masa kini yang modern.
"Hotel ini keren, selain itu bangunannya juga megah, klasik, tapi tetap nyaman. Berasa lagi di masa kolonial tapi fasilitasnya modern, rasanya seperti kembali ke masa perjuangan. Bangga juga bisa menginap di sini, tidak hanya nyaman tapi juga kaya pengalaman karena ada cerita sejarah di baliknya," ungkap Dina, salah satu tamu hotel dari Bandung.
Mencampurkan antara perpaduan kemewahan, sejarah, dan identitas budaya yang kental, Hotel Majapahit terus menjadi salah satu landmark paling ikonik di Surabaya, yang bisa menghubungkan masa lalu heroik dengan kenyamanan masa kini.
***
Author : Nikita Nathania (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor : Zidah, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA