JEJAK KOLONIAL DAN WARISAN SEJARAH YANG TERSIMPAN DI MAKAM BELANDA KAMPUNG PENELEH SURABAYA

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA – Surabaya kaya akan berbagai peninggalan bersejarah. Terutama peninggalan saat Belanda menjajah Indonesia, hingga peninggalan setelah Jepang menduduki Indonesia. Dalam beberapa literatur menyebutkan bahwa dalam beberapa tahun, Surabaya menjadi kota perdagangan dan perkembangan pendidikan.
Sehingga penjajah dari Belanda sangat menginginkan Surabaya untuk dijadikan sebagai pusat pemerintahan dan perdagangan di daerah Jawa Timur. Hal ini terbukti dengan beberapa peninggalan seperti bangunan kuno serta literatur yang menceritakan bahwa Surabaya adalah pusat Jawa Timur.
Beberapa bangunan yang masih kokoh berdiri dengan beberapa ornamen yang masih tertinggal menggambarkan kemegahan arsitektur Belanda yang berjaya pada masanya. Sebagai contoh, pemukiman yang berada di Kota Tua yang kini sedang digandrungi oleh wisatawan maupun warga lokal yang ingin merasakan suasana Kota Tua di era sebelum kemerdekaan.
Hal ini menandakan bahwa dahulu Belanda pernah bermukim dan bahkan menetap di Indonesia. Contoh lain yang menunjukkan bahwa dahulu Belanda pernah bermukim di Surabaya yakni terdapat beberapa titik yang digunakan Belanda untuk memakamkan saudara atau kerabat yang sudah tiada, ditandai dengan adanya kompleks kuburan khusus untuk Belanda yang berada di kampung Peneleh, Surabaya Utara.
Makam Belanda ini terletak di Kampung Peneleh, berada di Surabaya bagian barat. Kampung peneleh sendiri merupakan kawasan bersejarah yang dikenal sebagai tempat tinggal dari berbagai kalangan, etnis, maupun latar belakang. Kampung Peneleh di Surabaya merupakan desa bersejarah yang diperkirakan ada sejak abad 14.
Kampung peneleh sendiri tidak terlepas dari perkembangan Kota Surabaya. Pada masa Kolonial, kawasan ini menjadi tempat tinggal bagi para pegawai Belanda dan pedagang. Kampung ini juga terkenal dengan arsitektur bangunan tua yang masih tersisa dan mencerminkan gaya kolonial, yang menjadi daya tarik tersendiri.
Tidak hanya itu, Kampung Peneleh juga memikili beberapa tempat bersejarah seperti Sumur Jobong, yang di mana pernah ditemukan peninggalan kuno seperti fosil manusia dan artefak kuno, sehingga memperkuat identitasnya sebagai kampung tua. Temuan ini memberikan wawasan mendalam tentang sejarah kawasan tersebut. Penemuan sumur tua di Peneleh yang diyakini berasal dari era Majapahit menunjukkan pentingnya situs ini dalam sejarah. Ini menambah bukti bahwa kampung ini memiliki warisan budaya yang kaya.
Temuan bersejarah di Trowulan menunjukkan bahwa area tersebut dihuni pada era Kerajaan Majapahit. Tidak hanya itu, di Kampung Peneleh terdapat Makam Belanda yang merupakan kompleks pemakaman yang dibangun pada tahun 1800-an untuk petinggi Belanda, Inggris, Jepang, dan tokoh pribumi. Lokasi ini dipilih karena dianggap terisolir dan aman dari perkembangan kota.
Kompleks pemakaman makam Belanda diresmikan pada 1 Desember 1847. Peneleh mencakup sekitar 6,4 hektar dan merupakan tempat peristirahatan bagi pejabat Hindia Belanda dan masyarakat lainnya.
Terdapat keunikan dalam struktur dan desain kuburan yang mencerminkan masa kolonial. Menurut catatan, kuburan di sini berjumlah sekitar 3.500 makam, dengan sekitar tiga jenis kuburan yang terdiri dari orang Belanda dan Asia, yang menunjukkan keragaman budaya.
Jenazah yang paling tinggi jabatannya di sini ialah jenazah jendral VOC sebelah Surabaya Barat, yang meninggal di tahun 1844. Jenazah ini adalah P.J.B. de Perez, atau Pierre Jean Baptiste de Perez, yang merupakan Wakil Direktur Mahkamah Agung Hindia Belanda dan juga komisaris di beberapa perusahaan besar.
Catatan tentang kehidupannya dan peranannya dalam sejarah masih dibahas, dengan beberapa sumber yang merujuk pada makamnya yang terlihat seperti monumen. Ia memainkan peran penting dalam sejarah Hindia Belanda, terutama selama masa akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20. Ia adalah seorang politikus dan administrator yang berkontribusi pada kebijakan kolonial Belanda di wilayah tersebut. Ia berusaha memajukan pendidikan di Hindia Belanda dengan mengembangkan sistem pendidikan yang lebih baik untuk penduduk lokal.
Sebagai seorang pejabat pemerintah, ia terlibat dalam pengambilan keputusan mengenai kebijakan kolonial yang berdampak pada hubungan antara pemerintah Belanda dan penduduk lokal. Kebijakan yang diambil sering kali kontroversial dan memiliki dampak jangka panjang.
Ia juga dikenal karena pengaruhnya dalam isu-isu kesejahteraan sosial dan bagaimana pemerintah Belanda merespons masalah yang dihadapi oleh masyarakat pribumi. Secara keseluruhan, P.J.B. de Perez adalah salah satu tokoh yang mencerminkan dinamika dan kompleksitas pemerintahan kolonial Belanda di Hindia Belanda. Perannya dalam pendidikan, infrastruktur, dan kebijakan sosial menjadi bagian dari sejarah yang lebih luas mengenai penguasaan Belanda di Asia Tenggara.
Masih banyak hal yang unik dalam pemakaman yang ada di kampung peneleh ini. Namun, setelah kemerdekaan, banyak warga lokal atau oknum yang tidak bertanggung jawab dengan sengaja membongkar beberapa makam yang teridentifikasi sebagai makam pejabat Belanda.
Hal ini dikarenakan jenazah umat Katolik atau Kristen dikuburkan bersamaan dengan beberapa perhiasan dan beberapa barang yang sekiranya berharga bagi mendiang yang telah meninggal. Hal ini yang menjadi faktor utama penjarahan yang terjadi sekitar tahun 1960 hingga tahun 2006 yang membuat makam ini menjadi kurang terawat.
Sehingga, pemerintah Kota Surabaya saat itu, Ibu Tri Rismaharini berupaya merawat makam Belanda Peneleh dan menjadikannya sebagai Situs Cagar Budaya yang dapat dilestarikan. Dalam hal ini, maka sebagai warga Indonesia, kita harus menjaga kelestarian yang ada di sekitar kita sendiri.
Tidak hanya pada saat kemerdekaan saja, tetapi setiap hari kita bisa merasakan bagaimana situs sejarah sangat berharga dan harus bertahan hingga cucu-cucu kita agar bisa dinikmati sebagai pembelajaran saat yang berada pada masa penjajahan tidak mudah untuk meraihnya.
***
Author : Aldixon Timothy Natalo (Ilmu Komunikasi 2023)
Editor : Yasmin, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA