Jembatan Merah: Menyambung Sejarah, Menghubungkan Cerita

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA — Jembatan Merah
bukan sekadar infrastruktur, tetapi juga saksi bisu perjalanan Surabaya sejak
era kolonial. Dibangun pada masa VOC dengan nama Roode Brug, jembatan
ini awalnya berbahan kayu dan menjadi jalur penting bagi pedagang di Sungai
Kalimas. Seiring perkembangan, strukturnya diperkuat dengan besi, menjadikannya
bagian tak terpisahkan dari wajah Kota Lama.
Selain nilai historisnya, Jembatan Merah juga menjadi simbol perlawanan rakyat Surabaya dalam pertempuran 10 November 1945. Kini, keberadaannya bukan hanya menghubungkan dua sisi kota, tetapi juga mempertemukan masa lalu dan masa kini dalam harmoni yang tetap hidup.
Perpaduan Budaya yang Unik
Jembatan Merah adalah titik pertemuan dua
dunia: budaya Tionghoa yang terwakili oleh gapura merah Kya-Kya di sisi timur,
serta arsitektur kolonial Eropa di sisi barat. Kombinasi ini menciptakan nuansa
khas yang menarik perhatian wisatawan, baik untuk mengabadikan momen maupun
sekadar menikmati suasana.
Di sepanjang Jalan Jembatan Merah,
pengunjung juga bisa menemukan aneka kuliner khas Jawa Timur. Saat malam tiba,
lampu-lampu jalan menambah keindahan jembatan ini, menjadikannya tempat yang
sempurna untuk bersantai.
Antusiasme Wisatawan dan Kemacetan
Sebagai destinasi wisata populer, kawasan
Kota Lama semakin ramai, terutama saat akhir pekan. Wisatawan datang untuk berfoto,
berwisata kuliner, atau sekadar menikmati suasana, membuat lalu lintas di
sekitar Jembatan Merah sering kali macet. Bagi warga lokal, kepadatan ini
menjadi tantangan tersendiri yang harus dihadapi setiap hari.
Tirta, seorang pengunjung asal Sidoarjo,
mengungkapkan daya tarik unik dari tempat ini.
“Menurutku, Jembatan Merah ini spot foto yang benar-benar mencerminkan Kota Lama. Kirinya ada budaya Tionghoa, kanannya Eropa—kombinasinya terasa banget. Selain buat foto-foto, tempat ini juga sering dipakai buat quality time sama teman, pacar, atau keluarga sambil menikmati Sungai Kalimas. Gatau ya... tapi aku sendiri ngerasa kalau tempat ini cocok banget buat healing dan melamun,"
Sementara itu, Rizky, warga lokal yang
tinggal di sekitar Kota Lama, mengonfirmasi kepadatan luar biasa di kawasan ini
pada akhir pekan.
“Gila! Benar-benar gila macetnya kalau
udah masuk weekend. Aku sampai harus muter jauh karena macetnya bisa
berjam-jam!,”
Tingginya antusiasme ini menunjukkan bahwa Kota Lama masih menjadi magnet bagi banyak orang.

Lebih dari Sekadar Jembatan
Jembatan Merah bukan hanya warisan
sejarah, tetapi juga simbol keberagaman dan persatuan. Perannya sebagai
penghubung tidak hanya berlaku dalam arti fisik, tetapi juga dalam menyatukan
berbagai latar belakang budaya yang ada di Surabaya.
Di tengah perbedaan, kita bisa belajar dari Jembatan Merah—bahwa keberagaman tidak harus memisahkan, melainkan dapat menjadi kekuatan jika dijembatani dengan pemahaman dan toleransi. Sudahkah kita menjadi "jembatan" dalam kehidupan sehari-hari, atau justru membiarkan perbedaan semakin menjauhkan kita?
***
Penulis: Audrey Odelia (Ilmu Komunikasi,
2023)
Editor: Zakariya Putra
Soekarno, 2025
Laboratorium Ilmu
Komunikasi UNESA