Kampanye All Eyes on Rafah Sebagai Agenda Setting Isu Palestina-Israel

ikom.fish.unesa.ac.id―Di era digital ini, media sosial bukan hanya platform untuk berbagi momen dan bertukar kabar. Media sosial juga menjadi medan pertempuran isu-isu sosial yang bergema di kalangan anak muda. Salah satu contohnya adalah gerakan "All Eyes on Rafah" yang baru-baru ini viral di Indonesia. Pernahkah kalian mendengar istilah "All Eyes on Rafah"? Hashtag ini menjadi tren di media sosial beberapa waktu lalu, serta merupakan simbol solidaritas global terhadap krisis yang terjadi di Rafah, Palestina. Di balik viralnya hashtag ini, terdapat peran media sosial sebagai agenda setting yang mempengaruhi persepsi publik, termasuk anak muda, terhadap isu-isu sosial. Tak dapat dipungkiri, media massa memiliki peran yang sangat besar dalam membentuk opini publik dan mengatur agenda sosial.
Teori Agenda Setting memberikan gambaran bagaimana media tidak hanya memberitakan informasi, tetapi juga menentukan isu apa yang penting untuk dibicarakan oleh masyarakat. Ini berarti bahwa media juga memiliki kekuatan untuk mempengaruhi persepsi publik tentang isu-isu tertentu, termasuk isu sosial yang sedang hangat dibicarakan.
Kita dapat membayangkan media sosial sebagai sebuah panggung yang luas. Di atas panggung itu ada berbagai isu sosial yang berebut perhatian dan berusaha menjadi pusat perhatian. Di sinilah peran media sebagai agenda setting, yaitu menentukan isu mana yang akan menjadi sorotan dan mempengaruhi persepsi publik, termasuk anak muda.
Konsep agenda setting berakar pada teori komunikasi dan komunikasi massa, di mana teori ini menjelaskan bagaimana media massa termasuk media sosial dapat mempengaruhi apa saja yang dipikirkan dan diperdebatkan oleh publik. Oleh karenanya, hal-hal yang dilakukan oleh media meliputi:
- Memilih dan memberitakan isu, seperti menentukan isu mana yang akan diberitakan dan berapa banyak ruang yang diberikan, sehingga ada batasan dalam berita itu setelah diluncurkan.
- Membingkai isu dengan menekankan aspek tertentu dan mengabaikan aspek lain. Ini lebih pada penekanan terhadap hal yang ingin ditonjolkan.
- Membuat peluang suatu isu yang diberitakan semakin besar, sehingga publik akan menganggapnya penting dalam komunikasi massa.
Media seperti televisi, radio, surat kabar dan media sosial memainkan peran penting dalam menyebarkan informasi. Ketika media memilih untuk memberitakan isu tertentu secara berulang-ulang, artinya mereka sedang menetapkan agenda bagi publik. Misalnya, ketika khalayak umum diramaikan dengan kampanye “All Eyes On Rafah” yang sering muncul di berbagai platform media sosial, maka kita akan mulai memandang isu tersebut sebagai isu yang penting untuk diperhatikan.
Pada kasus "All Eyes on Rafah", media sosial, khususnya Instagram menjadi platform penting untuk menyebarkan informasi, menggalang dana dan dukungan, serta meningkatkan kesadaran publik tentang krisis yang sedang terjadi. Kampanye "All Eyes on Rafah" menjadi simbol solidaritas dan menyerukan perhatian dunia, termasuk Indonesia, terhadap situasi di Palestina.
Lantas, dampak yang diharapkan dari agenda setting terkait kampanye "All Eyes on Rafah" yaitu pembentukan persepsi publik, di mana media sosial dapat mempengaruhi cara publik memandang isu-isu sosial melalui advokasi maupun penyampaian pendapat, sehingga hal ini tentu dapat meningkatkan kesadaran mereka terhadap isu-isu penting sekaligus mendorong mereka untuk terlibat dalam aksi sosial. Akhirnya, hal ini dapat memicu gerakan yang dapat memobilisasi anak muda dan juga khalayak umum lainnya untuk mendorong aksi kolektif dalam menuntut adanya perubahan sosial. Contohnya, masyarakat Indonesia melanggengkan aksi boikot produk yang berafiliasi dengan Israel, kemudian melakukan kampanye kepada masyarakat global melalui media sosial untuk menyuarakan kepeduliannya terhadap Palestina, seperti aksi penggalangan dana.
Badai konten yang tersebar di media sosial sangatlah beragam sehingga kita perlu menjadi konsumen media yang cerdas agar tidak terbawa arus terlalu jauh. Selain itu, kita harus kritis terhadap informasi yang tersebar, karena tidak semua informasi di media sosial telah terjamin akurasinya, sehingga kita perlu untuk memverifikasi informasi sebelum membagikannya.
Selanjutnya, kita perlu sadar akan bias, karena kita tahu bahwa media memiliki keterpihakan dari masing-masing informasi, sehingga kita perlu untuk mencari informasi dari berbagai sumber guna mendapatkan gambaran sudut pandang yang lebih utuh. Terakhir, kita jangan mudah terpengaruh oleh tren atau opini di media, karena opini muncul berdasarkan informasi dan nilai-nilai pribadi yang bersifat subjektif. Pada intinya, media sosial adalah alat yang ampuh untuk mempengaruhi persepsi publik. Kita juga memiliki kuasa untuk menggunakannya dengan bijak, jangan sampai malah kita yang dikuasai oleh media, sehingga semua opini berbalik menghantui.
Referensi:
Anam, K., M Kolopaking, L., & A Kinseng, R. (2020). The Effectiveness of Social Media Usage within Social Movement to Reject the Reclamation of the Jakarta Bay, Indonesia. Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan, 8(1), 64–81. https://doi.org/10.22500/8202028955
Astari, N. (2021). Sosial Media Sebagai Media Baru Pendukung Media Massa untuk Komunikasi Politik dalam Pengaplikasian Teori Agenda Setting: Tinjauan Ilmiah pada Lima Studi Kasus dari Berbagai Negara. Jurnal Teknologi Dan Sistem Informasi Bisnis, 3(1), 131–142. https://doi.org/10.47233/jteksis.v3i1.190
Bachtiar1, A., Pranawukir2, I., & Prisgunanto3, I. (2021). Pengukuran Agenda Media Sosial Isu Pandemik Covid 19 Konteks Kamtibmas di Indonesia. In Jurnal Ilmu Kepolisian | (Vol. 16).
Ergun, S., & Erdogmus, I. (2017). The Impact of Social Media on Social Movements: The Case of Anti-Consumption. In Online Communities as Agents of Change and Social Movements. https://doi.org/10.4018/978-1-5225-2495-3.ch009
Juditha, C. (2019). Agenda Setting Penyebaran Hoaks di Media Sosial. Jurnal Penelitian Komunikasi, 22. https://doi.org/10.20422/jpk.v22i2.669
Pratama, I., & Qodir, Z. (2022). What Lies behind No-Confidence Motion on Indonesian Social Media? Society, 10(1), 84–96. https://doi.org/10.33019/society.v10i1.334
Shabira, F., & Faidlatul Habibah, A. (n.d.). Agenda Setting : Eksplorasi Pada Komunikasi Massa.
***
Author: Sabrina Zalsabillah Wahab (PR Apprentice)
Editor: astr, 2024
Cover: Anadya (PR Apprentice)
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA