Kilas Balik Transformasi Bersejarah Toko Kelontong Pertama Surabaya ke Tunjungan Plaza

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA – Pada tahun 1925 di Surabaya, berdiri sebuah toko kelontong sederhana bernama Toko NAM didirikan oleh Sarkies Bersaudara, yang juga merupakan pendiri Hotel Yamato. Bangunan kecil itu menjadi saksi bisu geliat perdagangan di masa kolonial Hindia Belanda, tempat masyarakat datang untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, siapa sangka, toko kecil ini akan menjadi cikal bakal salah satu pusat perbelanjaan terbesar dan termegah di Surabaya, Tunjungan Plaza.
Kisah Toko NAM bukan hanya tentang perjalanan bisnis, tetapi juga tentang evolusi kota Surabaya itu sendiri. Dari sebuah toko kelontong tradisional yang melayani kebutuhan dasar masyarakat, hingga menjadi simbol kemajuan dan gaya hidup modern, jejak Toko NAM terus hidup di tengah gemerlap Tunjungan Plaza.
Di Surabaya, sebuah toko kelontong sederhana yang pertama kali berdiri pada awal abad ke-20 kini telah berubah menjadi salah satu pusat perbelanjaan paling ikonik di Indonesia: Tunjungan Plaza. Perubahan ini bukan hanya tentang fisik bangunan, tetapi juga tentang perjalanan sejarah yang menggambarkan evolusi urbanisasi Surabaya, dari sebuah kota perdagangan yang ramai menjadi kota modern yang berkembang pesat.
Toko kelontong pertama yang terletak di kawasan Tunjungan pada masa itu melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat Surabaya, menawarkan barang-barang kebutuhan rumah tangga yang sederhana. Dengan tradisi lokal yang kental, toko ini menjadi bagian integral dari kehidupan sehari-hari warga kota. Namun, pada tahun 1986, toko tersebut digantikan oleh sebuah proyek besar yang merubah wajah Surabaya selamanya: Tunjungan Plaza.
Pembangunan Tunjungan Plaza, yang awalnya dirancang sebagai pusat perbelanjaan modern dengan fasilitas lengkap, menjadi tonggak penting dalam transformasi ekonomi dan sosial Surabaya. Dengan hadirnya berbagai merek internasional, bioskop, dan restoran. Tunjungan Plaza menawarkan pengalaman berbelanja yang berbeda dari apa yang sebelumnya ada di kota tersebut. Mall ini menjadi simbol kemajuan dan modernitas Surabaya, menarik pengunjung dari berbagai lapisan masyarakat, mulai dari kalangan elit hingga masyarakat biasa.
Namun, meskipun kini dikenal sebagai pusat perbelanjaan yang megah, keberadaan Tunjungan Plaza tetap menyimpan kenangan akan sebuah toko kelontong yang sederhana. Di balik arsitektur megah dan keramaian yang ada, ada sejarah panjang yang mengingatkan kita akan masa lalu Surabaya yang penuh dengan perubahan.
Hari ini, Tunjungan Plaza tetap menjadi pusat perbelanjaan terbesar di Surabaya, dan bahkan di Jawa Timur, sekaligus menjadi saksi bisu perjalanan panjang kota ini. Dari toko kelontong pertama menjadi pusat perbelanjaan modern, perjalanan ini adalah contoh nyata bagaimana sebuah tempat bisa bertransformasi mengikuti dinamika zaman, tanpa melupakan akar sejarahnya.
Transformasi Toko NAM menjadi Tunjungan Plaza bukan hanya perjalanan bisnis, tetapi juga cerminan perubahan zaman dan identitas kota Surabaya. Dari sebuah toko kelontong sederhana yang melayani kebutuhan sehari-hari masyarakat, kini berdiri megah sebuah pusat perbelanjaan yang menjadi simbol gaya hidup modern. Namun, di balik gemerlapnya lampu dan hiruk-pikuk aktivitas mall, sejarah Toko NAM tetap menjadi bagian penting dari warisan kota. Sejarah itu, meski tersembunyi di balik dinding kaca dan marmer, akan selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari denyut nadi kota Surabaya.
***
Author : Aurell Cathliniyah (Ilmu Komunikasi 2023)
Editor : zidah, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA