Menelisik Sejarah Berdirinya Kampung Inggris Pare, Tempat Bertemunya Bahasa dan Budaya

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA - Kecamatan Pare yang kini dikenal sebagai Kampung Inggris Pare, tempat di mana bahasa dan budaya berinteraksi dalam harmoni yang unik. Pare saat ini menjadi tempat berkumpulnya bagi ribuan pelajar dari seluruh Indonesia bahkan mancanegara untuk tempat belajar berbagai bahasa asing. Label sebagai Kampung Inggris telah melekat secara historis pada Pare.
Keberagaman yang ada di Kampung Inggris Pare tidak hanya bertemu orang dari dalam negeri saja, seringkali juga menjumpai turis asing yang juga belajar maupun mengajar bahasa inggris disini. Keberagaman yang tercipta membuat Kampung Inggris Pare bukan hanya tempat untuk belajar bahasa, namun juga belajar budaya dari keberagaman orang yang ditemukan di sana. Budaya Lokal juga memainkan peran penting dalam kehidupan di Kampung Inggris Pare. Meskipun fokus utama adalah pembelajaran bahasa Inggris, nilai-nilai budaya dan tradisi lokal tetap dijaga dan dihormati.
Berdirinya Kampung Inggris ini diawali ketika Mohammad Kalend, yang merupakan seorang santri Kutai Kartanegara, tengah menimba ilmu di Pondok Modern Gontor, Ponorogo, Jawa Timur. Memasuki tahun kelima ia belajar di Pondok Pesantren Gontor, ia terpaksa berhenti sekolah karena tidak mampu menanggung biaya pendidikan lebih lanjut. Bahkan keinginannya untuk pulang kembali ke kampung yang ia tinggalkan sejak tahun 1972 tidak dapat terlaksana karena ketiadaan biaya.
Dalam situasi yang sulit itu, seorang teman memberitahukan adanya seorang guru yang baik hati dan pintar bernama Achmad Yazid, bertempat tinggal di Desa Pare yang menguasai delapan bahasa asing.
Mohammad Kalend kemudian berniat berguru pada Achmad Yazid dengan harapan paling tidak dapat menguasai bahasa inggris. Ia cukup tahu diri dengan kemampuannya yang dirasa tidak mungkin menguasai banyak bahasa asing. Maka pergilah Mohammad Kalend ke Desa Pare, tinggal di selasar sebuah masjid kecil dan belajar bahasa arab dan bahasa inggris pada Achmad Yazid.
Kalend, begitulah sapaan akrabnya, terus belajar bahasa inggris hingga suatu kesempatan, datang dua orang tamu mahasiswa dari Institut Agama Islam Negeri Sunan Ampel, Surabaya. Kedatangan dua mahasiswa itu untuk belajar bahasa inggris kepada Achmad Yazid, sebagai persiapan menghadapi ujian negara yang akan dihelat dua pekan berikutnya di kampus mereka. Kebetulan saat itu, Achmad Yazid tengah bepergian ke Majalengka untuk suatu urusan, sehingga kedua mahasiswa itu hanya ditemui oleh istri Achmad Yazid.
Kedua mahasiswa itu diarahkan untuk belajar kepada Kalend yang baru saja nyantri. Dua mahasiswa itu kemudian menyodorkan beberapa lembaran kertas yang berisi 350 soal berbahasa Inggris. Setengah ingin tahu, Kalend memeriksa soal-soal itu dan setelah membacanya, ia merasa yakin dapat mengerjakan soal itu lebih dari 60 persen.
Hal tersebut disebabkan karena buku yang kedua mahasiswa itu bawa yaitu buku bahasa inggris Nine Hundreds, buku yang sama dengan buku bahasa inggris yang Kalend pelajari di Pondok Pesantren Gontor. Ketiganya terlibat proses belajar dan mengajar dengan intensif di serambi masjid selama lima hari.
Ketika kedua mahasiswa itu kembali ke Surabaya dan berhasil lulus ujian bahasa inggris di kampusnya, keberhasilan keduanya mulai tersebar di kalangan mahasiswa IAIN Sunan Ampel Surabaya, sehingga banyak dari mahasiswa IAIN yang mengikuti jejak seniornya untuk datang ke Desa Pare dan belajar bahasa inggris kepada Kalend.
Promosi dari mulut ke mulut ini, akhirnya menjadi cikal bakal terbentuknya kelas bahasa inggris pertama. Sejak saat itulah, Kalend merintis sebuah tempat kursus bahasa inggris bernama Basic English Course (BEC) yang diresmikan pada tanggal 15 Juni 1977 dengan peserta sebanyak enam siswa. Para siswa tersebut terus dibina dan dididik tidak hanya dalam kemampuan bahasa inggris saja, namun juga ilmu agama serta kecakapan akhlak.
Seiring berjalannya waktu, popularitas Kampung Inggris Pare berkembang pesat, dan saat ini ada sekitar 250 buah kursus yang tersebar di daerah tersebut. Bukan hanya bahasa inggris, tetapi ada juga lembaga yang membuka kursus bahasa mandarin dan bahasa arab.
Namun demikian, berbagai lembaga kursus tersebut mampu berjalan seirama tanpa diwarnai kompetisi negatif. Hal tersebut disebabkan para pendiri lembaga-lembaga kursus itu mempunyai ikatan sejarah yang sama, yaitu sama-sama belajar dari satu guru yakni Mohammad Kalend.
***
Author : Apta Rejhan Nugraha (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor : zidah, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA