Menelusuri Ereveld Kembang Kuning, Salah Satu dari Tujuh Pemakaman Kehormatan Belanda di Indonesia

ikom.fisipol.unesa.ac.id – Pada salah satu sudut tersembunyi Kota Surabaya,
terdapat kawasan bersejarah dari Negara Kincir Angin. Kawasan ini adalah salah
satu dari tujuh kompleks pemakaman kehormatan milik Belanda di Indonesia, yang
dikenal dengan nama Ereveld Kembang Kuning.
Ereveld Kembang Kuning merupakan salah satu tempat pemakaman yang memiliki
konsep berbeda dari makam yang ada di Surabaya. Lebih dari sekedar kompleks
pemakaman, Ereveld Kembang Kuning merupakan saksi bisu dari sejarah yang
menggetarkan.
Sejarah Makam Ereveld
Ereveld Kembang Kuning merupakan kompleks pemakaman yang telah ada sejak
zaman kolonial Belanda pada tahun 1917 yang kemudian diresmikan pada tanggal 8
Maret 1947. Kawasan ini didirikan sebagai pemakaman kehormatan Belanda di
Surabaya yang dikelola oleh yayasan Oorlogsgravenstichting (OGS) dan
berada di bawah pengawasan Kedutaan Besar Belanda.
Sebagai kawasan yang memiliki nilai sejarah, terdapat peraturan yang
berlaku bagi para pengunjung makam, termasuk izin dalam pengambilan gambar dan
tidak diperbolehkan mengekspos nama-nama orang yang telah tiada agar dapat
menghindari hal-hal yang bisa merugikan pihak tertentu. Makam kehormatan
Belanda di Indonesia ini memang mencerminkan sepenggal sejarah Belanda dan
Indonesia di Asia Tenggara.
Pemakaman Ereveld Kembang Kuning menampung lebih dari 5.000 korban perang,
termasuk orang Belanda dan Indonesia, yang gugur selama Perang Dunia Kedua
dalam pertempuran melawan tentara Jepang (1941-1945) dan selama masa revolusi
setelah Perang Dunia Kedua (1945-1949).
Dari banyaknya makam di Ereveld Kembang Kuning, tercantum 915 nama tentara Angkatan
Laut Kerajaan Belanda yang gugur dalam Pertempuran Laut Jawa pada 27 Februari
1942. Tidak hanya itu, terdapat monumen khusus seperti Monumen Karel
Doorman yang berada di tengah kawasan Ereveld untuk mengenang pemimpin
pasukan Sekutu dalam pertempuran.
Pertempuran Laut Jawa tersebut merupakan bagian dari peperangan antara Angkatan
Laut Kekaisaran Jepang dan pasukan Sekutu yang dipimpin oleh Laksamana Karel
Doorman. Pertempuran ini bagian dari upaya Negara Nippon atau Jepang untuk
menguasai Hindia Belanda.
Dalam Pertempuran Laut Jawa ini, pasukan Sekutu mengalami kekalahan telak dan pemimpin dari pasukan Sekutu, Karel Doorman, tewas di medan perang. Kemenangan ini memudahkan Jepang melakukan invasi ke Pulau Jawa, sekaligus menandai runtuhnya kekuasaan Belanda di Indonesia.

Pemandangan Ereveld
Ketika menuju kompleks pemakaman Ereveld Kembang Kuning, kita akan disambut
oleh gerbang dengan bangunan yang tinggi, besar, dan memberikan kesan estetika
pemakaman yang berbeda dari pemakaman yang ada di Kota Surabaya. Sebelum
memasuki area pemakaman, pengunjung juga diperlihatkan bel besar dan bel kecil
yang digunakan untuk memberitahu kehadiran orang yang ingin mengunjungi kawasan
Ereveld Kembang Kuning kepada petugas.
Memasuki kawasan Ereveld Kembang Kuning, pengunjung disuguhkan tanaman hias dengan bermacam-macam warna di tepi jalan yang bisa membuatnya merasakan keindahan dari area pemakaman tersebut. Dalam area pemakaman, terdapat pendopo untuk para pengunjung melakukan registrasi. Tercatat tidak hanya warga lokal saja yang berkunjung untuk melihat keindahan area pemakaman, melainkan warga negara asing juga kerap mengunjungi Ereveld Kembang Kuning.
Sejarah, ciri khas, dan alasan pentingnya makam kehormatan Ereveld Kembang
Kuning ini termaktub jelas melalui tulisan yang terpampang di depan pendopo. Dengan
pemandangan Monumen Karel Doorman di tengah pemakaman, pesona keindahan makam
dengan nuansa sejarah menjadi semakin kental dan memukau.
Suasana di Ereveld Kembang Kuning dapat digambarkan sebagai kombinasi
antara kesucian, historisitas, dan kesederhanaan arsitektural. Area yang
dirancang dengan rapi dan bersih, dengan rumput hijau dan patok-patok putih
menciptakan dataran syahdu. Angin semilir di sore hari dan pohon-pohon di
sekitar membuat suasana pemakaman harmonis dan damai.
Tempat ini tidak hanya sebagai pemakaman, melainkan kenangan tentang
sejarah kolonial Belanda. Dengan adanya perawatan rutin untuk menjaga
kebersihan dan kelestarian area makam, menjadikan tempat ini masih tetap
beroperasi dengan baik hingga hari ini.
Mahira (19), salah satu pengunjung Ereveld Kembang Kuning, mengatakan, “Jujur, aku baru
pertama kali ke sini. Aku tertarik setelah melihat kompleks pemakaman yang
sangat indah di Surabaya saat scrolling TikTok. Ketika aku masuk, aku
tidak menyangka disambut dengan bunga-bunga yang cantik dan tata makam yang
rapi serta bersih. Selain memiliki sejarah yang signifikan, suasananya juga
indah, tenang, dan damai, jauh dari kesan seram seperti pemakaman pada umumnya,”
Refleksi Lintas Budaya
Ereveld Kembang Kuning di Surabaya adalah mencerminkan isu lintas budaya dalam
konteks sejarah kolonial dan hubungan Indonesia-Belanda. Pemakaman ini menjadi
simbol pertemuan dua budaya, di mana masyarakat lokal dan keturunan Belanda
yang dapat berinteraksi dalam penghormatan terhadap pihak yang telah tiada. Tatanan
makam yang rapi dan unik memberikan identitas yang khas, mirip dengan pemakanan
di negara lain.
Kawasan Ereveld Kembang Kuning mencerminkan lintas budaya dari Negara Indonesia dan Belanda yang masih berkembang. Dengan suasana yang tenang, tatanan makam seperti di Eropa, serta adanya interaksi antara penjaga dan pengunjung yang memiliki gaya bahasa yang berbeda menjadi bentuk menghargai suatu perbedaan.
Dengan demikian, kawasan yang terkenal menawarkan keindahan sekaligus menjadi tempat mempelajari berbagai sejarah tersebut menjadi rekomendasi kawasan pemakaman yang indah dan wajib dikunjungi setidaknya sekali seumur hidup.
***
Author : Muhammad Zakyanda Vara Jati (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor : alya, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA