Menelusuri Sejarah Islam di Nusantara Melalui Makam Nyai Siti Fatimah

ikom.fisipol.unesa.ac.id, Gresik - Makam Nyai Siti Fatimah Binti Maimun merupakan salah situs bersejarah yang menjadi penanda awal masuknya Islam ke Nusantara. Terletak di Desa Leran, Gresik, makam ini diyakini sebagai makam Islam tertua di Asia Tenggara. Situs ini menjadi saksi bisu bagaimana Islam pertama kali dikenalkan di wilayah Jawa, sekaligus menunjukkan keterkaitan antara Nusantara dengan peradaban Islam global.
Nyai Siti Fatimah Binti Maimun diyakini sebagai perempuan bangsawan Muslim yang membawa ajaran Islam ke Nusantara pada abad ke-11. Bukti arkeologis berupa batu nisan yang dihiasi kaligrafi Arab menunjukkan bahwa Islam masuk ke Indonesia melalui jalur perdagangan maritim. Makam ini juga memperlihatkan pengaruh seni Islam awal yang berpadu dengan budaya lokal.
Selain menjadi situs sejarah, makam ini juga menjadi tujuan ziarah bagi banyak orang dari berbagai daerah. Terletak di Kecamatan Manyar, Kabupaten Gresik, makam ini tetap terawat meskipun telah berusia hampir seribu tahun. Perpaduan arsitektur Hindu-Budha dan Islam terlihat jelas dalam bentuk dan bahan bangunannya, mencerminkan proses akulturasi budaya yang terjadi dalam sejarah penyebaran Islam di Indonesia.
Akulturasi Budaya dan Signifikansi Sejarah
Salah satu ciri khas makam ini adalah batu nisannya yang dihiasi ukiran kaligrafi Arab bergaya Kufi, yang jarang ditemukan di Indonesia. Keberadaan motif bunga dan perpaduan unsur arsitektur lokal dengan pengaruh Timur Tengah menunjukan bagaimana Islam berasimilasi dengan budaya yang sudah ada di sebelumnya.
Keunikan lain dari makam ini adalah lingkungan sekitarnya yang asri dan menenangkan, menjadikannya tempat yang ideal bagi peziarah untuk merenung dan berdoa. Letaknya yang tidak jauh dari pusat kota Gresik juga menjadikannya mudah diakses, dengan fasilitas pendukung seperti parkir yang memadai. Tidak heran jika makam ini sering dikunjungi terutama pada bulan Ramadhan dan acara keagamaan lainnya.
Makam Nyai Siti Fatimah juga memiliki nilai penting dalam kajian sejarah Islam Nusantara. Kehadirannya menjadi bukti bahwa penyebaran Islam di Indonesia tidak hanya dilakukan oleh laki-laki, tetapi juga melibatkan perempuan. Hal ini memberikan perspektif baru mengenai peran perempuan dalam sejarah Islam di Nusantara, yang sering kali kurang mendapat sorotan dalam catatan sejarah formal.
Selain itu, keberadaan makam ini menguatkan fakta bahwa perdagangan maritim memiliki peran besar dalam penyebaran Islam. Pedagang Muslim dari Timur Tengah, India, dan Cina berinteraksi dengan penduduk lokal, memperkenalkan ajaran Islam, dan membangun hubungan budaya yang harmonis. Adaptasi budaya terlihat dalam seni, tradisi, dan struktur makam yang tetap menghormati nilai-nilai lokal yang telah ada sebelumnya.
Upaya Pelestarian dan Makna bagi Generasi Mendatang
Pelestarian situs ini menjadi tantangan tersendiri. Masyarakat setempat, akademisi, dan pemerintah bekerja sama untuk menjaga keutuhan makam agar tetap menjadi saksi sejarah peradaban Islam di Nusantara. Salah satu bentuk pelestarian yang dilakukan adalah renovasi dengan tetap mempertahankan bentuk aslinya, sehingga nilai sejarahnya tetap terjaga.
Keberadaan makam ini bukan hanya sebagai tempat ziarah, tetapi juga sebagai simbol harmoni budaya yang mengajarkan pentingnya toleransi dan dialog antar budaya. Kisah Nyai Siti Fatimah menjadi pengingat bahwa penyebaran Islam di Nusantara berlangsung secara damai dan menghargai keberagaman. Hal ini dapat menjadi Inspirasi bagi generasi mendatang untuk menjaga semangat toleransi dan keberagaman dalam kehidupan beragama di Indonesia.
Sebagai warisan sejarah, makam ini memiliki nilai yang tak ternilai. Keberadaanya mengajarkan bahwa Islam dapat tumbuh dan berkembang melalui pendekatan yang menghargai budaya setempat. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus menjaga dan melestarikan makam Nyai Siti Fatimah sebagai bagian dari identitas sejarah dan budaya Indonesia. Dengan demikian, nilai-nilai yang terkandung dalam situs ini dapat terus diwariskan kepada generasi mendatang.
***
Author : Natasya Tita Aurelia (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor : Nailah, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA