Mengenal Penjara Kalisosok Surabaya, Saksi Bisu Perjuangan Era Kolonial hingga Pasca Kemerdekaan

ikom.fisipol.unesa.ac.id - Bangsa Indonesia tentu memiliki sejarah panjang di balik manisnya kemerdekaan. Sebuah perjuangan yang penuh dengan luka dan tangis dalam melawan para penjajah. Jerih payah tersebut banyak terukir ke dalam berbagai kenangan dan peninggalan yang sering kali masih bisa kita temui hingga sekarang. Termasuk sebuah bangunan yang berdiri di kawasan utara Surabaya, yakni Penjara Kalisosok.
Terletak di salah satu kawasan padat di Surabaya, Penjara Kalisosok masih bisa kita temui dan menjadi ikon menarik sekaligus bersejarah yang menyimpan cerita panjang tentang perjuangan bangsa Indonesia. Penjara ini menjadi saksi bisu atas segala perjuangan, terutama selama masa penjajahan Belanda hingga masa pasca-kemerdekaan.
Sejarah Penjara Kalisosok
Penjara ini dibangun pada tahun 1907 oleh Pemerintah Kolonial Belanda. Saat itu, penjara ini digunakan untuk menahan para aktivis, tokoh perjuangan, dan orang - orang yang dianggap melawan Pemerintah Kolonial Belanda. Salah satu tokoh besar yang pernah berada di dalam penjara ini adalah Presiden Pertama Republik Indonesia, Soekarno, yang ditahan pada tahun 1929 karena keterlibatannya dalam aktivis politik yang menentang kolonialisme.
Selain itu, penjara ini juga menjadi tempat pemenjaraan tokoh-tokoh pergerakan lainnya, seperti DR. Sutomo dan anggota - anggota organisasi pergerakan rakyat lain. Kehadiran tokoh - tokoh penting ini di Penjara Kalisosok menjadikan penjara ini sebagai simbol perjuangan dan perlawanan dalam merebut kembali kemerdekaan bangsa Indonesia.
Pada awalnya, penjara ini dirancang dengan gaya arsitektural dan kokoh agar dapat menampung banyak narapidana sekaligus dengan keamanan dan keindahan yang terjaga.
Setelah era Pemerintah Kolonial Belanda berakhir dan berganti dengan masa pendudukan Jepang, penjara ini tetap digunakan, namun lebih fokus untuk berfungsi menahan mereka yang melawan pemerintahan militer Jepang.
Bahkan setelah Indonesia merdeka, Penjara Kalisosok juga masih tetap digunakan sebagai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) hingga tahun 2000.
Kondisi dan Rumor yang Beredar
Saat ini, Penjara Kalisosok telah ditutup dan sempat terlantar karena tidak mendapatkan perawatan. Bangunan yang dulu kokoh juga sudah mulai rapuh, memiliki banyak hiasan lumut dan terdapat lubang besar di temboknya. Meski tidak terawat, Penjara Kalisosok ini masih memiliki aura yang kuat dan kental akan sejarahnya.
Dengan usia yang sudah memasuki se-abad, penjara ini memiliki kelebihan dalam bidang arsitektur. Bahan baku bata merah yang digunakan dalam bangunan ini menunjukan keahlian teknik masa lampau yang masih relevan untuk diapresiasikan hingga kini.
Walaupun bentuk luar dari penjara dapat dikatakan masih indah dan enak untuk dipandang, tetapi hal tersebut justru berbanding terbalik dengan banyak beredarnya berbagai rumor mistis dan kesan yang mencekam dari dalam penjara tersebut.
Banyak masyarakat yang merasa tertekan dan sulit bernafas ketika mengunjungi Penjara Kalisosok karena dianggap memiliki aura yang gelap dan mencekam. Bahkan, tidak sedikit orang yang mengatakan bahwa mereka mendengar dan melihat berbagai bayangan dan kilatan aneh. Konon, dikatakan bahwa hal-hal mistis yang ada di tempat tersebut ingin menunjukkan keberadaanya bersamaan dengan kedatangan pengunjung.
Hal-hal tersebut justru malah semakin menarik perhatian banyak pihak untuk datang, terutama mereka yang menyukai kegiatan mistis dan spiritual karena merasa tertantang sehingga datang untuk membuktikannya sendiri.
Upaya Pelestarian
Upaya dalam pelestarian penjara ini sebelumnya telah ditegaskan oleh beberapa kelompok, seperti pemerintah maupun komunitas masyarakat. Sebagian pihak menginginkan agar penjara ini menjadi museum atau cagar budaya, sementara beberapa pihak yang lain menyarankan untuk memadukannya dengan konsep wisata edukasi agar lebih ramah dan lebih dekat dengan masyarakat luas.
Penjara Kalisosok dinilai memiliki potensi besar untuk menjadi objek wisata dan menjadi salah satu ikon milik Surabaya apabila dapat dikelola dengan baik oleh masyarakat sekitar serta pemerintah. Tempat ini juga dapat diubah menjadi museum interaktif, galeri seni, maupun lokasi edukatif yang menyajikan informasi terkait perjuangan bangsa sehingga dapat menyadarkan pengunjung akan pentingnya nilai sejarah bagi kehidupan kita.
Penjara Kalisosok sendiri juga bukan hanya sebuah bangunan tua yang sudah tidak terpakai dan tidak diperhatikan lagi oleh siapapun, melainkan menjadi suatu monumen milik masyarakat dan memiliki nilai pengorbanan, keberanian, dan semangat dari para pahlawan.
Bukan hanya dapat dijaga dalam bentuk fisik bangunannya, menjaga nilai perjuangan dan semangat serta nilai-nilai luhur milik pahlawan dan mereka yang pernah berada di dalam penjara tersebut juga menjadi salah satu aspek yang penting.
Sebagai bagian dari sejarah Surabaya, sudah mestinya Penjara Kalisosok mendapatkan perhatian dan perawatan lebih agar dapat terus menyadarkan bangsa bahwa perlawanan dan pengorbanan yang telah dicurahkan para pahwalan begitu penting dan sakral sehingga bangsa harus dapat menjalankan nilai - nilai dan moral yang telah diwariskan.
****
Author : Eprimsa Andika Tarigan (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor : Alya, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA