Mengenal Rumah WR. Soepratman : Jejak Sang Pencipta Lagu Kebangsaan

ikom.fisipol.unesa.ac.id, Surabaya - Di tengah hiruk-pikuk kota Surabaya, berdiri sebuah rumah sederhana yang menyimpan kisah penuh sejarah. Rumah itu bukan hanya sekadar bangunan tua, melainkan saksi bisu perjuangan tokoh seniman besar yang berjuang dengan sebuah alunan biola, Wage Rudolf Soepratman. Di tempat inilah, ide-ide brilian yang melahirkan lagu kebangsaan Indonesia, 'Indonesia Raya' mulai bersemi.
Wage Rudolf Soepratman lahir pada 19 Maret
1903 di Purworejo. Sejak kecil, ia sudah menunjukkan bakat luar biasa dalam
musik. Setelah merantau ke berbagai kota, akhirnya ia menetap di Surabaya.
Rumahnya yang kini menjadi museum terletak di Jalan Mangga No. 21. Bangunan ini
bukan sekadar tempat tinggal, tetapi juga pusat lahirnya kreativitasnya yang
menginspirasi semangat kebangsaan.
Rumah WR Soepratman memiliki arsitektur khas kolonial Belanda dengan dinding tinggi, jendela besar, dan atap berbentuk pelana. Meskipun sederhana, rumah ini terasa mewah karena sejarah yang dikandungnya. Di dalamnya terdapat berbagai peninggalan, seperti biola legendaris yang digunakan WR Soepratman untuk menciptakan 'Indonesia Raya' buku-buku musik, dan dokumen-dokumen perjuangan.

Mengunjungi rumah ini
seperti memasuki lorong waktu. Setiap sudutnya menggambarkan perjuangan
WR Soepratman untuk menyuarakan semangat kemerdekaan melalui musik. Lagu
"Indonesia Raya," yang pertama kali diperdengarkan pada Kongres
Pemuda II tahun 1928, menjadi simbol perlawanan terhadap penjajahan.
Saya menemui Daru,
seorang siswa yang tinggal di sekitar Rumah WR. Soepratman. “Rumah tersebut
sangat bersejarah dan bisa dijadikan sebagai media pembelajaran bagi para
pelajar yang ingin mengenal lebih dekat dengan sosok WR. Soepratman.”
Daru juga menambahkan bahwa Rumah WR. Soepratman perlu disebarluaskan sebagai wisata yang edukatif yang disebabkan
kurangnya orang mengetahui mengenai Rumah WR. Soepratman. “Seharusnya wisata
edukatif seperti ini harus dikembangkan, karena memang jarang orang yang tahu
mengenai rumah ini, baik dari faktor lokasi ataupun publikasi.”
Ruangan utama rumah dipenuhi dengan
foto-foto WR. Soepratman dan keluarganya. Ada pula replika biola yang menjadi
ikon perjuangannya. Di dinding, terpajang lirik asli 'Indonesia Raya' yang ditulis tangan. Suasana di rumah ini begitu tenang, mengajak pengunjung
merenungkan perjuangan di masa lalu.
Di taman kecil di depan rumah, terdapat patung WR. Soepratman sedang memegang biola menyimbolkan dedikasinya terhadap seni dan
bangsa. Para pengunjung sering mengabadikan momen di tempat ini sebagai
penghormatan kepada sosok yang berjasa besar bagi Indonesia.
Rumah WR Soepratman tidak hanya menjadi tempat
mengenang sejarah, tetapi juga ruang belajar tentang pentingnya seni dalam
membangun identitas bangsa.
Dalam perspektif interkultural, karya WR. Soepratman
menunjukkan bagaimana musik dapat melampaui batas etnis, budaya, dan agama.
Lagu 'Indonesia Raya' berhasil menyatukan keragaman menjadi satu
suara perjuangan.
Bagi generasi muda, rumah ini adalah pengingat bahwa
perjuangan tidak selalu melalui perjuangan fisik, tetapi juga melalui karya
seni yang menginspirasi perubahan.
Rumah WR. Soepratman
adalah lebih dari sekadar bangunan bersejarah, bangunan ini adalah simbol
semangat nasionalisme dan kreativitas tanpa batas. Dengan mengunjungi rumah
ini, kita diajak untuk merenungkan makna perjuangan dan pentingnya menghargai
seni sebagai bagian dari identitas bangsa. Rumah ini menjadi warisan yang harus
dijaga agar generasi mendatang dapat terus belajar dan terinspirasi dari
semangat WR. Soepratman.
Author: Abiyyu Luthfi
Manshur (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor: Diva Sulistyazahra, 2025
***