Mengenal Teori Negosiasi Wajah dalam Lingkungan Kampus Heterogen (Studi Kasus UNESA)

ikom.fish.unesa.ac.id―Universitas atau kampus merupakan tempat di mana berbagai individu dari latar belakang budaya yang berbeda berkumpul untuk belajar dan berinteraksi. Dalam lingkungan kampus heterogen, konflik dan perbedaan pandangan sering kali muncul. Oleh karena itu, penting untuk memahami bagaimana individu dapat menegosiasikan diri mereka dalam situasi-situasi ini. Salah satu teori yang dapat membantu dalam memahami proses ini adalah Face Negotiation Theory atau Teori Negosiasi Wajah.
Teori Negosiasi Wajah dikembangkan oleh Ting-Toomey, berfokus pada cara individu dari berbagai budaya menegosiasikan "face" mereka dalam situasi konflik. "Face" merujuk pada kepentingan individu untuk mempertahankan citra diri mereka di depan orang lain. Teori ini membedakan antara budaya individualistik dan kolektivistik dalam cara mereka menegosiasikan "face".
Studi kasus yang dilakukan di Universitas Negeri Surabaya (UNESA) menunjukkan bagaimana teori ini dapat diterapkan dalam lingkungan kampus heterogen. Mahasiswa mampu mempelajari bagaimana mahasiswa lainnya dari berbagai budaya menegosiasikan diri mereka dalam situasi konflik.
Hasil studi menunjukkan bahwa mahasiswa dari budaya kolektivistik, seperti yang umum dijumpai di Indonesia, lebih cenderung mempertahankan "face" melalui tindakan penghindaran, kooperatif, atau kompromi. Mereka lebih peduli pada "mutual-face" dan "other-face", yaitu mempertahankan citra diri mereka dan orang lain. Sebaliknya, mahasiswa dari budaya individualistik lebih cenderung mempertahankan "self-face" melalui dominasi atau sikap agresif.
Salah satu contoh kasus yang menarik adalah terkait bagaimana mahasiswa dari budaya kolektivistik berusaha untuk memberikan "face" kepada orang lain. Misalnya, dalam ruang diskusi, mereka lebih cenderung untuk menghindari konflik atau mencari kompromi daripada mempertahankan pandangan mereka sendiri. Hal ini berbeda dengan mahasiswa dari budaya individualistik yang lebih cenderung untuk mempertahankan pandangan mereka sendiri melalui dominasi atau sikap agresif.
Implikasi dari Teori Negosiasi Wajah ini bagi kampus heterogen adalah diperlukannya strategi komunikasi yang lebih sensitif terhadap perbedaan budaya. Dengan memahami cara individu dari berbagai budaya menegosiasikan diri mereka dalam situasi konflik, maka kampus dapat meminimalisir terjadinya konflik dan meningkatkan kerjasama antarbudaya.
Pada intinya, Teori Negosiasi Wajah berupaya memberikan kerangka yang berguna untuk memahami cara individu menegosiasikan diri mereka dalam situasi konflik di lingkungan kampus heterogen. Studi kasus di UNESA menunjukkan bahwa teori ini dapat diterapkan dalam konteks kampus dan dapat membantu para civitas akademika dalam meningkatkan kerjasama antarbudaya.
Referensi:
Kanal: Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 12, No. 2, 91-97.
Repository UNESA, ISBN: 978-602-0951-17-1.
Jurnal Ilmu Komunikasi, Vol. 10, No. 1, Juni 2021, pp. 44-54.
***
Author: Azzahra Devian Milasari (PR Apprentice)
Editor: astr, 2024
Cover: Afina (PR Apprentice)
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA