Menggali Budaya melalui Gedung Kesenian Cak Durasim Surabaya: Panggung Ekspresi sebagai Apresiasi Seni

ikom.fisipol.unesa.ac.id, SURABAYA - Di tengah hiruk pikuknya Kota Surabaya, berdiri sebuah gedung yang megah dan menjadi simbol perjuangan seni dan budaya. Gedung tersebut dikenal dengan nama Gedung Kesenian Cak Durasim.
Bangunan yang merupakan bagian dari kompleks Taman Budaya Jawa Timur ini
berfungsi sebagai tempat wahana ekspresi, apresiasi seni, dan pengembangan
keterampilan sekaligus monumen penghormatan kepada Cak Durasim, seniman ternama
yang menggunakan seni Ludruk untuk mengkritik penjajah dan menyebarkan
pesan-pesan isu sosial.
Dengan konstruksinya yang memadukan fitur modern dan klasik, Gedung Cak
Durasim berfungsi sebagai wadah bagi para seniman untuk memamerkan karya mereka
dan menunjukkan keragaman budaya Indonesia. Setiap pertunjukkan di sini
berfungsi sebagai hiburan sekaligus perayaan warisan budaya yang bertahan dan
berkembang.
Sejarah Gedung
Terletak di pusat Kota Surabaya, Gedung Kesenian Cak Durasim memiliki
sejarah yang kaya dan beragam serta menggambarkan evolusi seni dan budaya kota
dari awal hingga saat ini.
Bangunan ini pertama kali dibangun pada tahun 1881 sebagai bagian dari
kompleks Kadipaten Soerabaija, yang digunakan sebagai kediaman bupati.
Sementara pada tahun 1976, bangunan ini dialih fungsikan menjadi pusat kesenian
dan diberi nama sesuai dengan nama seniman ludruk bernama Cak Durasim.
Sejak awal berdiri, Gedung Cak Durasim berupaya untuk menjadi pusat
kegiatan seni dan budaya di Surabaya. Bangunannya tampak indah dan memiliki
cukup ruang untuk menjadi wadah berbagai pertunjukan, termasuk teater dan seni
rupa. Dalam konteks sejarahnya, bangunan ini merupakan upaya pemerintah daerah
untuk mendukung dan memelihara kesenian tradisional dalam menghadapi pengaruh
modernisasi yang semakin besar.
Dari waktu ke waktu, bangunan ini menjadi semakin berkembang dan menjadi
tempat pertemuan bagi para seniman dari berbagai bidang serta sering kali
digunakan sebagai tempat menyelenggarakan berbagai acara dan festival seni.
Untuk meningkatkan fasilitas dan estetikanya, Gedung Kesenian Cak Durasim
juga telah mendapatkan sejumlah perbaikan. Mulai dari fasilitasnya yang
diperluas, ruang praktiknya ditambah, dan fasad serta interiornya dibuat lebih
estetis dengan perubahan baru. Setelah direhabilitasi, total luas bangunan
menjadi sebesar 1.800 meter persegi dan dilengkapi dengan fasilitas kontemporer
yang memfasilitasi pertunjukan seni.
Saat ini, Gedung Kesenian Cak Durasim berfungsi sebagai pusat kegiatan
budaya dan seni, yang sering menyelenggarakan produksi teater, konser musik
tradisional, dan acara seni lainnya. Selain itu, melalui berbagai lokakarya dan
program pelatihan, bangunan ini berkontribusi dalam mengajarkan seni
tradisional kepada generasi mendatang.
Dengan begitu, gedung ini tidak hanya sebagai tempat pertunjukan, tetapi juga sebagai simbol identitas budaya yang kaya dan beragam. Melalui Panggung Ekspresi yang ada di dalamnya, Gedung Kesenian Cak Durasim terus berkomitmen untuk mengapresiasi seni dan budaya lokal serta menciptakan jembatan antara generasi masa lalu dan masa kini.

Panggung Ekspresi
Pada 3 November 2024, Festival Tari Anak Indonesia yang diselenggarakan
oleh Raff Dance Company sukses digelar di Panggung Ekspresi, Gedung Kesenian
Cak Durasim. Dengan fokus untuk mengembangkan kreativitas dan apresiasi seni
sejak dini, festival ini melibatkan anak-anak dari berbagai usia yang
menampilkan beragam pertunjukan tari, seperti tari remo, tari bambu runcing,
dan lain sebagainya.
Setiap detail penampilan dirancang untuk menunjukkan keindahan gerakan,
kostum yang berwarna-warni, serta kekayaan budaya Indonesia. Dengan begitu,
cara ini tidak hanya sekedar pertunjukan tari, tetapi juga merupakan perayaan
keberagaman budaya Indonesia.
Wildan, salah seorang penonton muda yang ikut menyaksikan pertunjukan,
mengatakan, “Sangat terhibur dengan penampilan dari anak-anak tersebut,
penampilan yang sangat memukau di usianya yang masih tergolong sangat muda,
mereka bisa menampilkan pertunjukan yang luar biasa dan sanggup memperkenalkan
beragam budaya melalui gerakan tarinya.”
Dalam rangkaian Festival Tari Anak Indonesia juga terdapat acara puncak
yang sangat dinanti, yaitu Opera Anak Prod.5 yang bertema “Keong Emas dan Nenek
Sihir”. Pertunjukan ini disutradarai oleh Arief Rofiq, dengan penata musik yang
luar biasa, Firman Fuadi.
Opera yang mengisahkan perjalanan dua karakter utama, yaitu Galuh dan
Kirana, berusaha mewakili dua sisi dalam diri manusia. Galuh melambangkan
tantangan dan konflik, sementara Kirana mencerminkan kebaikan dan harapan.
Melalui kisah ini, penonton diajak untuk memahami pentingnya menyelaraskan
kedua aspek tersebut demi menciptakan generasi emas yang diharapkan oleh
masyarakat.
Rina, salah satu orang tua dari anak yang ikut tampil dalam pertunjukan
tari mengungkapkan rasa bangganya terhadap buah hatinya yang turut
berpartisipasi. “Sebagai orang tua, saya sangat bangga melihat anak saya dapat
berpartisipasi dalam festival ini. Pertunjukkan seperti ini tidak hanya
mengasah bakat mereka, tetapi juga mengajarkan nilai- nilai penting tentang
kerja sama dan disiplin,” jelasnya.
Festival Tari Anak Indonesia yang berlangsung meriah di Panggung Ekspresi
ini tidak hanya dapat menghibur penonton, tapi juga bisa memberikan pemahaman
mendalam mengenai nilai-nilai budaya yang terkandung dalam setiap gerakan
tarian. Tidak hanya itu, acara ini juga menjadi wadah bagi generasi muda untuk
memahami dan menghargai seni tari sebagai bagian integral dari identitas
nasional.
Malam itu, Gedung Kesenian Cak Durasim kembali menjadi sebuah pengingat
akan kekuatan seni tari sebagai media untuk mengekspresikan emosi, menyampaikan
pesan moral, dan merayakan keberagaman budaya Indonesia. Setiap langkah tari
membawa makna yang mendalam, menghubungkan antar generasi, dan mampu mengajak
semua orang untuk menjaga dan melestarikan warisan budaya yang telah ada sejak
ribuan tahun lalu.

Festival Tari Anak Indonesia sebagai Simbol Interkulturalisme
Interkulturalisme tidak hanya mencakup penggabungan berbagai komponen
budaya, tetapi juga mencakup pembinaan komunikasi antar berbagai tradisi untuk
menumbuhkan toleransi dan pengertian di antara berbagai budaya.
Festival Tari Anak Indonesia memperkenalkan anak-anak pada berbagai adat
istiadat budaya sekaligus memberi mereka panggung untuk mengekspresikan diri
melalui tari dan opera. Penonton didorong untuk mempertimbangkan nilai-nilai
universal yang ditemukan dalam cerita rakyat, seperti keadilan, kebaikan, dan
keberanian, melalui pertunjukan yang menekankan topik-topik seperti Keong Emas
dan Nenek Setan.
Dari sudut pandang lintas budaya, festival ini mendorong percakapan lintas
budaya yang meningkatkan toleransi dan rasa hormat di antara banyak populasi.
Acara ini menunjukkan bahwa keberagaman adalah kekuatan yang dapat meningkatkan
pengalaman hidup dengan menyatukan anak-anak dari berbagai latar belakang etnis
dan budaya.
Jika diingat kembali, Festival Tari Anak Indonesia yang diselenggarakan di
Gedung Kesenian Cak Durasim adalah gambaran nyata bagaimana seni dapat menjadi
penghubung antara generasi masa lalu dan masa kini serta menumbuhkan rasa
identitas nasional yang kohesif.
Apalagi, dengan adanya era globalisasi yang semakin memudahkan masuknya
pengaruh budaya asing yang dapat mengikis budaya lokal, perlu untuk memastikan
bahwa kekayaan budaya Indonesia tetap hidup dan terus berkembang di tengah arus
modernisasi. Dengan begitu, tidak hanya memiliki kemampuan untuk mempertahankan
tradisi, tapi juga penting untuk mengadaptasi elemen-elemen baru yang relevan
dengan generasi muda saat ini.
Author : Sofie Elzabillah (Ilmu Komunikasi, 2023)
Editor : Alya, 2025
*****
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA