Menguak Lapisan Kebudayaan di Balik Arsitektur De Javasche Bank Museum Surabaya

ikom.fisipol.unesa.ac.id, Surabaya - Di tengah gemerlap Kota Surabaya yang terus bergerak maju, berdiri megah sebuah bangunan bersejarah yang tak lekang oleh waktu, yaitu De Javasche Bank Museum. Bangunan ini lebih dari sekadar saksi bisu kejayaan ekonomi kolonial, ini adalah simbol pertemuan dua budaya yang saling berpadu.
De Javasche Bank, museum yang menyimpan berbagai macam lapisan kebudayaan
yang kompleks. Setiap sudutnya seolah bercerita dan mengundang kita untuk
memahami warisan budaya yang tersembunyi dalam setiap detail
arsitekturnya.
Bangunan peninggalan kolonial Belanda ini menyimpan sejarah panjang tentang ekonomi, budaya, dan identitas bangsa. Didirikan pada 24 Januari 1828 atas perintah Raja Willem I, bangunan ini dulunya berfungsi sebagai kantor bank sentral kolonial yang mengatur perputaran uang dan stabilitas ekonomi di Hindia Belanda.

De Javasche Bank Surabaya adalah manifestasi dari pertemuan dua budaya
besar, yaitu Eropa dan Indonesia. Arsitekturnya yang megah dan penuh ornamen tak
hanya menjadi bukti kemajuan teknologi bangunan saat itu, tetapi juga
mencerminkan upaya kolonial untuk menggabungkan elemen lokal dan modernitas Barat.
Sebagai peninggalan kolonial Belanda, bangunan ini mencerminkan pengaruh
ekonomi Barat yang dominan selama masa penjajahan. Namun, adanya elemen desain
lokal menunjukkan bagaimana budaya kolonial berusaha memasukkan sentuhan
tradisi Indonesia ke dalam struktur mereka.
De Javasche Bank Museum Surabaya saat ini telah menjadi salah satu
destinasi wisata edukasi yang kaya akan nilai sejarah dan budaya. Pengunjung
dapat mempelajari sejarah ekonomi, kebudayaan, dan kehidupan di era
kolonial, sekaligus menikmati keindahan arsitektur bangunan yang megah.
De Javasche Bank Museum Surabaya mengajak masyarakat untuk lebih menghargai
perjalanan panjang kebudayaan dan sejarah ekonomi Indonesia melalui berbagai
pameran dan program edukasi yang diadakan dan juga museum ini memberikan
pemahaman yang mendalam tentang perkembangan sistem perbankan di masa lalu
hingga kini.
Dengan mengunjungi museum ini, masyarakat diajak untuk memahami pentingnya peran ekonomi dalam membentuk identitas bangsa serta bagaimana pengaruh kolonialisme masih tercermin dalam berbagai aspek kehidupan modern. Beberapa kali bangunan ini juga menjadi perbincangan di media sosial, seperti yang disampaikan oleh Audrey, salah satu pengunjung.
“Beberapa kali tuh lewat FYP TikTok kak, terus sering dijadikan spot
buat foto yearbook juga kan, jadi penasaran deh sama tempatnya. Nah kebetulan
hari ini ada pergi ke Kota Tua, jadi mampir gitu. Menurut saya bagus sih
ya, bangunannya terawat terus bisa jadi edukasi juga,” Ujarnya.
Hal yang sama juga membuat pengunjung seperti Ibu Haliza tertarik membawa
keluarganya.
“Oh iya, Mbak, saya memang suka datang ke museum-museum gini, apalagi ini
kan museum bersejarah ya. Jadi saya mau mengenalkan ke anak-anak sama keluarga
saya tentang bagaimana sih perbankan zaman dulu, bisa lihat koleksi koleksinya
juga. Yang paling enak tuh HTM-nya gratis tapi kita bisa dapat guide,” Tutur
Ibu Haliza.
Saat melangkah mendekati De Javasche Bank Museum pandangan kita akan langsung tertuju pada fasad megahnya yang memancarkan kemewahan khas era kolonial. Pilar-pilar besar kokoh yang menjulang tinggi, memberi kesan kuat dan megah pada bangunan berusia lebih dari satu abad ini. Perpaduan warna putih dan aksen abu-abu gelap pada dindingnya menghadirkan tampilan yang bersih dan elegan.
Saat memasuki museum melalui pintu kayu besar, aroma khas bangunan tua
langsung terasa, mengingatkan pada sejarah panjang yang melekat pada tempat
ini. Ruangan-ruangan di dalamnya terasa luas dengan langit-langit tinggi yang
dihiasi ornamen sederhana namun indah. Cahaya alami masuk melalui jendela besar
memberi kesan hangat pada lantai marmer yang mengkilap.
Museum ini memiliki ruang pameran yang menampilkan koleksi sejarah
perbankan seperti mesin tik tua, buku rekening manual, hingga koin-koin dari
masa kolonial. Koleksi tersebut ditata rapi dalam lemari kaca, dilengkapi
dengan papan informasi yang menjelaskan fungsi dan sejarah masing-masing
benda.
Di dalam museum, suasana tenang mendominasi. Suara langkah pengunjung
sesekali terdengar menggema di lorong-lorong. Pemandu museum memberikan
penjelasan yang informatif tentang ruangan dan koleksi, serta cerita mengenai
masa-masa kejayaan bangunan ini sebagai bank sentral.
Informasi yang tersedia mudah dipahami, memberikan wawasan kepada pengunjung tentang perjalanan sistem perbankan pada masa Hindia Belanda. Arsitektur dalam museum menggabungkan gaya Art Deco yang dikenal dengan garis geometris yang sederhana dan modern, dengan ornamen khas Indonesia seperti ukiran flora dan fauna tropis. Kombinasi ini menciptakan desain yang tidak hanya menarik, tetapi juga mencerminkan perpaduan budaya yang menjadi ciri khas bangunan tersebut.
Dari sudut pandang lintas budaya, bangunan ini menunjukkan interaksi antara
dominasi kolonial dan budaya lokal. Awalnya, desainnya didasarkan pada
kebutuhan kolonial untuk menciptakan pusat ekonomi yang kokoh, tetapi
keberadaan elemen lokal mengindikasikan penghormatan tertentu terhadap budaya
Indonesia.
Meskipun kolonialisme meninggalkan banyak masalah, warisan seperti De Javasche Bank dapat dimanfaatkan untuk mengenal sejarah dan memperkaya identitas budaya saat ini. Pengunjung dapat melihat bagaimana interaksi antar budaya membentuk masa lalu dan memberikan pelajaran yang relevan untuk generasi masa kini. Bangunan ini adalah bukti nyata bagaimana dua budaya yang berbeda saling berpengaruh dan menghasilkan warisan yang berharga.
Dengan koleksi sejarah perbankan dan desainnya yang penuh simbolik, museum ini berfungsi sebagai destinasi wisata dan sumber pembelajaran. Bangunan ini mengingatkan kita akan pentingnya melestarikan warisan sejarah untuk memperkaya identitas budaya dan wawasan generasi masa kini.
***
Author: Ameila Tirta Marina (Ilmu Komunikasi 2023)
Editor: dsz, 2025
Laboratorium Ilmu Komunikasi UNESA