Mengungkap Keindahan dan Sejarah Gunung Penanggungan Lewat 5 Candi Kuno

ikom.fisipol.unesa.ac.id,— Pernahkah membayangkan sebuah perjalanan mendaki yang tidak hanya menyuguhkan keindahan alam, tetapi juga membawa kita menjelajahi jejak sejarah kuno? Gunung Penanggungan menawarkan pengalaman tersebut. Berada di Kabupaten Mojokerto, Jawa Timur, gunung setinggi 1.653 mdpl ini bukan sekadar destinasi pendakian biasa, melainkan sebuah museum terbuka yang menyimpan berbagai situs arkeologi peninggalan peradaban Hindu-Buddha.
Pendakian kali ini
dilakukan melalui jalur Kedungudi, salah satu dari lima jalur yang tersedia.
Sejak awal perjalanan, jalur ini sudah menyajikan tantangan tersendiri dengan
medan yang cukup curam dan berbatu. Namun, setiap langkah mendekatkan kita pada
peninggalan berharga yang tersembunyi di sepanjang perjalanan.
Jejak Peradaban di Jalur Pendakian
1. Candi Carik
Setelah melewati Pos 2,
pendaki akan menemukan Candi Carik, sebuah bangunan dengan arsitektur khas
Hindu-Buddha yang berdiri di atas dataran luas dan terawat dengan baik.
Diperkirakan, candi ini dahulu digunakan sebagai tempat ibadah dan pertapaan
bagi para pendeta dan pemuka agama.
2. Candi Lurah
Tidak jauh dari Candi
Carik, terdapat Candi Lurah, yang diduga berfungsi sebagai lokasi ritual dan
meditasi. Hingga kini, struktur candi ini masih berdiri kokoh, menjadikannya
salah satu spot favorit para pendaki untuk berfoto dan menikmati suasana mistis
di sekitarnya.
3. Candi Siwa
Candi Siwa terletak
sedikit di bawah jalur pendakian, tetapi pendaki tidak diperbolehkan turun ke
lokasi ini untuk menjaga kelestariannya. Sebagai tempat pemujaan Dewa Siwa,
candi ini memperkuat bukti bahwa Gunung Penanggungan dahulu merupakan pusat
kegiatan keagamaan Hindu.
4. Candi Guru
Saat medan semakin menantang, pendaki akan menemukan Candi Guru, sebuah bangunan yang dipercaya sebagai tempat ibadah, pertapaan, serta perayaan keagamaan. Selain nilai sejarahnya, keberadaan candi ini menambah daya tarik tersendiri bagi mereka yang ingin menggali lebih dalam tentang warisan budaya Nusantara.
5. Candi Wisnu
Sebelum mencapai puncak, terdapat Candi Wisnu, yang memiliki fungsi serupa dengan candi-candi sebelumnya. Situs ini menjadi bukti kuat bahwa Gunung Penanggungan dulunya merupakan pusat spiritual bagi masyarakat Hindu-Buddha. Kini, candi-candi di jalur pendakian ini tidak hanya menjadi peninggalan bersejarah, tetapi juga simbol pelestarian budaya oleh masyarakat setempat.

Menuju Puncak Pawitra
Setelah melewati
candi-candi tersebut, perjalanan menuju Puncak Pawitra masih harus ditempuh
selama 1 jam 30 menit. Medan yang curam dan berbatu membuat jalur ini cukup
menantang, terutama bagi mereka yang baru pertama kali mendaki. Namun, setiap
langkah terasa lebih ringan dengan suguhan pemandangan pegunungan dan kota di
kejauhan.
Setibanya di puncak,
semua perjuangan selama pendakian akhirnya terbayar. Langit terbuka luas, awan
seolah menyentuh tanah, dan pemandangan Gunung Arjuno, Welirang, dan Semeru
tampak megah di kejauhan. Di sini, bukan hanya rasa lelah yang terasa, tetapi
juga perasaan kagum terhadap sejarah yang masih berdiri kokoh di jalur
pendakian ini.
Bagi siapa pun yang ingin merasakan sensasi mendaki sambil menelusuri jejak peradaban Nusantara, Gunung Penanggungan adalah tempat yang wajib dikunjungi. Siapkah untuk mengeksplorasi gunung bersejarah ini dan menemukan kisah-kisah yang tertanam di setiap batunya?
***
Penulis: Ahmad Zidni Fahma (Ilmu
Komunikasi, 2023)
Editor: Zakariya Putra
Soekarno, 2025
Laboratorium Ilmu
Komunikasi UNESA